
Agna terus saja memeluk perutnya yang saat ini terasa sangat sakit yang luar biasa, sehingga membuat keringat dingin membanjiri pelipis wanita hamil itu.
"Perutku sakit," gumam Agna lirih. "Sangat sakit sekali ...."
Meski Dave mendengarnya laki-laki itu malah semakin melontarkan kata-kata yang terdengar sangat tidak pantas diucapkan di depan guru dan mahasiswa yang sedang melihat Agna saat ini di permalukan di tengah lapangan seperti saat ini.
"Inilah alasan wanita murahan ini menolakku karena dia hamil, sungguh sangat menjijikkan." Dave terlihat mengelilingi tubuh Agna, sambil terus saja mengucapkan kalimat yang sama berulang-ulang kali. "Wanita malam yang saat ini tengah mengandung anak haram!" Laki-laki itu menunjuk Agna.
"Perutku sakit, tolong aku ...." Lirih Agna sambil menggigit bibirnya. Tidak cuma itu Agna merasa bahwa saat ini dirinya sedang pipis pada saat ia merasakan cairan bening merembes keluar dari pangkal pahanya. "Saras, tolong aku ... tolong selamatkan bayiku." Sekarang Agna menatap ke arah Saras yang masih saja di pegang kedua tangannya. "Sar," panggil Agna dengan keringat yang semakin bercucuran.
"Siapa ayah dari bayi harammu ini?" tanya Dave yang sekarang berjongkok di depan Agna. "Katakan je la ng sialan, siapa ayah dari bayi harammu?!" Suara Dave terdengar menggema. Ia juga terlihat memegang dagu Agna dengan kasar.
"Jangan kurang ajar!" Meski Agna sedang kesakitan, wanita hamil itu terlihat bisa menepis tangan Dave. "Kamu akan menyesal." Agna lalu mendorong laki-laki itu, dan sekarang ia mencoba untuk berdiri karena semua orang yang ada di sana memandangnya penuh hina, seakan-akan dirinya saat ini manusia paling buruk dan rendah di dunia ini.
"Mau kemana je la ng sialan?" Dave malah menarik tangan Agna sehingga Agna yang tadi posisinya sudah akan berdiri malah jatuh lagi. "Biarkan semua guru bahkan mahasiswa yang lain melihat wanita paling hina dan kotor di muka bumi ini sepertimu, Agna."
"Lepaskan aku." Agna mencoba menepis tangan Dave tapi wanita hamil itu tidak berhasil, dimana sekarang Dave malah semakin erat mencengkram erat tangan wanita hamil itu.
__ADS_1
"Katakan dulu, siapa ayah bayimu ini?" Suara Dave terdengar sedikit mulai lembut. "Jika ayahnya tidak mau tanggung jawab maka izinkan aku yang akan bertanggung jawab. Aku janji akan menganggap bayi harammu ini seperti anak kandungku sendiri."
"Mulutmu semakin kurang ajar, dasar brengsek! Urus saja Miss Kara istrimu bedebah!" teriak Agna yang benar-benar sudah tidak tahan. "Tidak perlu kamu tahu siapa Ayah dari bayiku ini karena itu tidak penting bagi laki-laki iblis sepertimu Dave. Lebih baik kamu urus Miss Kara yang mungkin saja saat ini sedang mau melahirkan anakmu!"
Dave malah menarik rambut Agna. "Sudah baik aku menawarkan diri, tapi kamu malah mengucapkan omong kosong seperti ini. Dasar wanita yang tidak tahu diri!" Dave semakin keras menjambak rambut Agna. "Jawab aku, aku ini akan bertanya sekali lagi. Siapa ayah bayi harammu?"
"Kamu tidak perlu ta–" Kalimat Agna terputus karena wanita hamil itu tiba-tiba saja melihat laki-laki yang dua hari belakangan ini sangat ia rindukan. Agna juga sampai melotot sempurna sebab sang suami terlihat bisa berjalan. "Om suami," gumam Agna pelan dengan mata yang berbinar-binar. Wanita hamil itu juga berasa seperti sedang bermimpi pada saat ie mengetahui Darren sudah benar-benar sembuh.
"Katakan siapa ayahnya?!" Dave melepaskan jambakannya, sekarang ia terlihat ingin menyeret Agna lagi.
"Saya Darren Senjaya Hugo, Ayah biologis dari bayi yang kau sebut haram itu sialan!" Darren yang tadi berlari kini sudah terlihat melayangkan bogem mentah pada Dave. Darren juga sempat menendang perut anak didiknya itu. "Berani-beraninya kamu memperlakukan istri saya seperti ini!" bentak Darren yang ingin memu kul Dave lagi.
Akan tetapi, tiba-tiba saja Agna malah terdengar meminta tolong pada dirinya.
"Om suami, tolong aku jangan ladeni dia karena sepertinya air ketubanku sudah pecah." Agna menunjuk genangan air di sekitarnya. "Tolong aku, bawa aku ke rumah sakit."
Darren mengusap wajahnya dengan kasar, sambil melepaskan jasnya untuk menutupi tubuh sang istri.
__ADS_1
"Ingat bedebah, urusan kita belum selesai!" Darren menunjuk Dave yang hidung laki-laki itu berdarah. "Dar, urus brengsek ini jangan biarkan dia pergi. Kamu juga catat wajah guru serta mahasiswa yang membiarkan istriku diperlakukan seperti ini." Sesaat setelah mengatakan itu Darren langsung saja mengangkat tubuh wanita hamil itu. Ia juga terlihat berjalan melewati kerumunan para mahasiswa. "Urus mereka semua Darius!" seru Darren sehingga urat-urat pada leher laki-laki itu terlihat dengan sangat jelas.
"Baik akan aku urus semuanya," sahut Darius sambil terlihat melepaskan lakban di mulut Saras karena posisi pacarnya itu tangannya sedang di ikat.
***
Di dalam mobil, Agna terlihat terus saja meringis kesakitan.
"Sangat sakit sekali." Agna mencoba menekan pinggulnya sendiri.
"Sabar Sayang, kita sebentar lagi akan sampai," kata Darren sambil mengelus perut Agna. Laki-laki itu juga terlihat menutup mata Agna menggunakan kain yang sengaja ia bawa supaya Agna tidak takut naik mobil.
"Niatku datang ke sini untuk memberikan istriku ini kejutan, tapi apa yang terjadi aku sendiri yang malah terkejut," gumam Darren membatin di sela-sela rasa amarah dan panik bercampur menjadi satu.
"Om suami, sakit sekali. Aku juga merasa sangat ngantuk," ucap Agna.
"Sayang, dengarkan aku." Darren menyingkirkan rambut Agna dari telinga wanita hamil itu sebelum ia berkata, "Tetaplah terjaga Sayang, demi anak kita. Jangan ada kata kamu ngantuk. Untuk kali ini saja dengarkan aku." Darren yang sudah tahu jika wanita yang ingin melahirkan mengatakan ngantuk bahkan mau tertidur. Itu menandakan bahwa kondisi Agna saat ini tidak bisa Darren jelaskan dengan kata-kata bahkan rangkaian kalimat pun tidak bisa ia pikirkan yang terpenting saat ini laki-laki itu harus berusaha supaya Agna tetap terjaga. Meskipun istrinya itu terus saja mengatakan kalau wanita hamil itu sangat ngantuk sambil meringis kesakitan.
__ADS_1