Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Gara-Gara Bawang Bombay


__ADS_3

Tepat ketika Agna sedang memasak untuk sang suami tiba-tiba saja Darren menepuk pundak wanita yang sedang hamil itu.


"Masak apa?" tanya Darren untuk sekedar basa basi saja.


"Lho, tumben Om suami bangun pagi-pagi. Ada apa gerangan?" Agna malah bertanya balik pada Darren.


"Sengaja bangun pagi-pagi karena aku ingin membantumu untuk memasak. Jangan seperti kejadian dua hari yang lalu kamu malah membuatku sakit perut." Darren lalu terlihat mengambil alih wajan yang sang istri pegang saat ini. "Kamu di pagi-pagi begini mau masak apa, untuk kita berdua sarapan?" Laki-laki itu tidak peduli jika saja Agna saat ini menatap dirinya dengan intens.


"Aku hanya memanaskan wajan saja, siapa tahu denganku memanaskan wajan ini aku jadi memiliki ide untuk memasak apa di pagi ini." Agna menjawab dengan begitu santainya, ia juga memang benar hanya menaruh wajan di atas kompor tanpa tahu apa yang harus wanita hamil itu masak.


"Jadi, dari tadi kamu memanaskan wajan saja. Tanpa tahu apa yang harus kamu masak?" Darren mengangkat sudut bibirnya pada saat laki-laki itu bertanya lagi pada sang istri, karena Darren merasa sangat lucu ketika Agna dengan lugunya malah mengatakan itu semua pada dirinya.


Agna mengangkat kedua bahunya. "Om suami tahu sendiri kalau aku ini 'kan, tidak bisa masak. Jadi, tolong maklumi aku si wanita cantik dan imut ini." Agna mengedip-ngedipkan matanya. Sehingga membuat Darren tiba-tiba saja merasakan getaran aneh pada jantung laki-laki itu. "Apa Om suami memiliki ide, kita akan sarapan pagi ini pakai apa?"


Darren yang tadi mula-mula berniat ingin membantu Agna memasak tiba-tiba saja laki-laki itu malah merasa mual. Hanya gara-gara ia mencium aroma bawang bombay yang Agna pegang saat ini.


"Hoek, hoek ...." Darren terdengar malah muntah-muntah. "Hoek ... Hoek, hoek ... Agna tolong jauhkan bawang bombay itu dariku. Jangan pegang taruh pada tempatnya." Darren terus saja menjauh sambil memegang perutnya yang terasa seperti di aduk-aduk saat ini. Laki-laki itu juga semakin terasa mual pada saat Agna malah memberikannya bawang bombay itu.

__ADS_1


"Nih ambil!" Agna mengulurkan tangan memberikan sang suami bawang itu, karena ia pikir kalau saat ini Darren hanya berpura-pura saja. "Om suami ayo ambil, ini hanya bawang bukan racun," ucap Agna yang sangat suka sekali melihat Darren muntah-muntah seperti sekarang ini. "Om ambil ...."


"Agna hentikan, aku benar-benar merasa sangat mual, hoek ... hoek!" Semakin Agna mendekat semakin terasa seperti diaduk-aduk, dalam perutnya saat ini. "Agna jangan bercanda aku mohon ...." Darren terus saja mundur.


"Biar aku perjelas ini hanya bawang." Agna malah mencium bawang bombay itu di depan sang suami. "Tuh, aku tidak apa-apa. Om suami saja yang terlalu lebay pada bawang ini." Agna benar-benar sangat iseng sekali sampai-sampai wanita hamil itu sampai mem*tong bawang itu menggunakan pisau. Bukan cuma itu saja Agna juga terlihat malah memakannya dengan sangat lahap sekali layaknya seorang youtuber yang sedang mukbang lalapan.


"Umm, ini sangat enak dan lezat sekali." Agna mengunyahnya seperti wanita itu saat ini sedang mengunyah buah apel. "Mau," kata Agna menawarkannya pada Darren.


"Agna hentikan! Aku benar-benar tidak suka mencium aroma bawang bombay itu!" Darren tiba-tiba saja terdengar meninggikan suaranya gara-gara Agna yang susah diberitahu. "Buang sekarang!" Laki-laki itu terlihat menutup hidungnya saat ini. Mata Darren juga terlihat memerah dan mengeluarkan sedikit air mata.


Agna yang merasa jika saja saat ini Darren benar-benar marah padanya dengan cepat berbalik dan membuang bawang itu ke tong sampah. Bukan cuma itu saja Agna sekarang malah terlihat sedih hanya gara-gara ia mendengar suara sang suami yang baru kali ini terdengar meninggi.


"Agna, bukan aku tidak bisa bercanda tapi ... aku benar-benar mual." Darren mengejar sang istri. Darren juga sedikit takut jika saja Agna nanti malah akan terpeleset mengingat wanita hamil itu malah berlari menaiki anak tangga. "Agna hati-hati jangan berlarian seperti itu baha–" Belum usai kalimat Darren, Agna terlihat malah sudah berguling-guling pada anak tangga.


"Aaaaa ...!" Suara teriakan Agna sebelum wanita hamil itu malah pingsan karena kepalanya malah terbentur lantai, sebab posisi wanita itu jatuh dengan cara tengkurap.


"Agna!" Darren merasa sangat panik sehingga laki-laki itu juga malah tersandung dengan kakinya sendiri. Sehingga membuatnya malah terjatuh. Akan tetapi, Darren langsung saja bangun dan lagi-lagi ia terlihat berlari demi menolong sang istri. "Sudah aku katakan jangan berlari, tapi kamu malah tidak mendengarkanku. Sekarang ini yang tarjadi." Darren dengan mimik yang semakin panik ia berusaha untuk mengangkat tubuh sang istri.

__ADS_1


Darren juga terus saja berdoa supaya Agna dan calon bayi mereka tidak apa-apa. Tapi detik berikutnya pada saat Darren melihat ada bercak darah di pangkal pa ha sang istri. Tubuh laki-laki itu malah terasa sangat lemas.


"Ya Tuhan, apa ini?" Darren yang sudah terlanjur sangat panik dengan cepat berlari membawa tubuh sang istri. Meskipun saat ini ia terasa agak sedikit lepas, gara-gara ia melihat darah.


***


Di dalam mobil Darren langsung menghubungi sang ibu, karena tidak mungkin dirinya tidak akan memberitahu kedua orang tuanya pada saat Agna saat ini masih saja memejamkan mata, dimana pangkal pa ha wanita bar-bar itu juga terlihat semakin mengeluarkan darah.


"Angkat Mi, ayolah angkat aku saat ini merasa sangat panik juga takut," ucap Darren yang tetap terlihat fokus menyetir. "Mi, angkat aku mohon ...." Darren terus saja mengulangi kalimatnya berluang-ulang kali. Sehingga pada detik berikutnya sambungan telepon itu terdengar terhubung lalu suara Alea, sang ibunda Darren juga mulai terdengar.


"Halo, ada apa, Ren?" tanya Alea yang memang pagi-pagi begini wanita peruh baya itu sedang menyiapkan sarapan untuk sang suami–Hugo.


"Mi, Agna ...." Darren menjeda kalimatnya.


"Urus saja urusan kalian berdua, Mami dan Papi sudah katakan tidak mau ikut campur lagi dengan masalah kalian berdua, masa kamu tidak mau mengerti Darren!" ketus Hugo yang saat ini menimpali putranya, karena ia merasa kesal jika saja Darren akan mengadu lagi tentang Agna pada dirinya.


"Pi, Agna jatuh dari tangga, sekarang aku akan membawanya menuju rumah sakit."

__ADS_1


Tutt ... Darren malah memutuskan sambungan telepon itu secara sepiak.


__ADS_2