
Melihat Agna yang sepertinya sudah dalam pengauh obat itu, Lian dengan cepat membuka ikatan tangan gadis itu karena Lian merasa bahwa ini adalah waktu yang sangat tepat untuk bermain dengan Agna, gadis yang sudah sejak lama laki-laki itu incar.
"Panas ... panas sekali, kenapa badanku malah menjadi panas seperti ini?" Agna yang mulai kehilangan akal sehatnya malah merobek bajunya sendiri, sesaat setelah tadi Lian membuka ikatan pada tangannya. "Panas, badanku rasanya panas sekali." Gadis itu terus saja mengulangi kalimatnya beberapa kali sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Berharap supaya rasa panas di tubuhnya mereda.
Namun, bukannya mereda yang gadis itu dapat, melainkan rasa panas di sekujur tubuh gadis itu kian menjadi-jadi ditambah pikirannya mulai liar pada saat melihat Lian yang saat ini sedang berdiri di sebelah ranjang itu.
"Jangan menatapku seperti itu Agna." Senyum Lian semakin lebar, laki-laki itu juga mulai membuka bajunya.
Agna yang melihat itu sangat kesulitan menelan salivanya, gara-gara gadis itu malah membayangkan yang tidak-tidak pada tubuh laki-laki itu.
__ADS_1
"Mau ini?" tanya Lian yang sekarang terlihat mau membuka celananya sambil naik lagi ke atas ranjang, karena laki-laki itu berpikir kalau rencanaya yang akan bercocok tanam dengan Agna akan segera berhasil. "Hei, apa ku mau ini?" Lian bertanya sekali lagi sambil menunjuk adik kecilnya yang sudah berdiri tegak serta kokoh di dalam sarangnya.
Sedangkan Agna terlihat mengangguk dengan tatapan matanya yang semakin sayu, di tambah suara gadis itu kini malah terdengar mulai sedikit berbeda karena Agna sudah dalam keadaan setengah sadar.
"Panas, tolong bukaan aku pakian apa saja yang melekat pada tubuhku." Lirih Agna dengan suara serak. "Bukakan, aku ...." Agna terlihat malah menarik tangan Lian, supaya laki-laki itu semakin mendekat ke arahnya. "Bantu aku," kata Agna sekali lagi.
Lian tersenyum penuh kemenangan, apalagi disaat laki-laki itu melihat dua jeli yang sangat kenyal terpampang nyata dengan ukuran yang sangat jumbo di depan wajahnya saat ini. Membuat laki-laki itu rasanya sudah ingin membenamkan wajah me sumnya di tengah-tenganya.
Namun, tiba-tiba saja pintu malah di dobrak dari arah luar sehingga membuat laki-laki yang saat ini hasratnya sedang begitu menggebu-nebu malah terpaksa menoleh ke arah pintu, karena ia penasaran siapa yang berani mengganggunya saat dirinya akan menjalankan aksi bejatnya pada sosok gadis bar-bar yang sekarang hanya terlihat pasrah sambil berbaring dengan cara Agna me re mas sendiri dua bobanya yang berukuran jumbo itu.
__ADS_1
"Pak Darren." Lian begitu kaget saat melihat dosennya itu sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan sinisnya. "Apa yang sedang Bapak lakukan disini?" Lian dengan cepat menyelimuti tubuh Agna, karena laki-laki itu tiba-tiba saja merasa kalau dua benda yang tadi seolah-olah hanya dirinya saja yang boleh melihatnya.
"Saya yang seharusnya bertanya padamu, sedang apa kau disini, Lian?!" Darren setengah berteriak saat menanyakan itu pada Lian.
"Saya hanya ingin bersenang-senang dengan kekasih saya, tapi Bapak malah datang di waktu yang tidak tepat." Lian malah menjawab dengan entengnya. "Bapak, bisa pergi sekarang dari sini dan saya harap Pak Darren jangan datang kesini lagi."
"Kurang ajar kau Lian!" teriak Darren yang merasa kalau anak didiknya itu harus segera di berikan pelajaran, karena sudah berani-raninya mengatakan kalau gadis bar-bar itu adalah kekasihnya disaat Agna sudah sah menjadi istri Darren secara Agama dan Negara.
"Taman emosi, jangan marah-marah apalagi sampai kehilangan kendali dia itu anak didik kamu, Ren." Darius yang dari tadi ada di belakang Darren berusaha untuk mengingatkan laki-laki itu.
__ADS_1
"Ah, tidak ada namanya anak didik jika dia lancang seperti ini." Setelah menimpali Darius, Darren semakin melangkahkan kakinya dengan sangat lebar, supaya laki-laki itu bisa benar-benar memberikan pelajaran pada cunguk seperti Lian.
(Buat kakak-kakak, tolong di komen supaya author ini semakin rajin buat up😍 jangan lupa like juga).