
"Aku belum siap." Suara Darius membuat senyum Saras menjadi memudar.
"Apa maksudmu? Apa kau mau mengingkari janji lagi?" Sorot mata tajam gadis itu terlihat seperti pedang yang baru saja selesai diasah. "Hei, laki-laki pecundang. Jawab aku jangan malah diam saja seperti kambing congek." Wajah Saras merah padam karena ia tidak pernah menyangka kalau saja kekasihnya itu malah mengingkari janji lagi.
"Fokus saja dalam pekerjaanmu Saras, nanti kalau sudah waktunya. Aku akan datang membawa rombongan untuk melamarmu." Entah apa alasan Darius sehingga laki-laki itu selalu saja menolak untuk menikahi Saras. Padahal dirinya sudah berjanji pada gadis bermata sipit itu.
"Apa-apaan ini Darius, kau memang benar-benar telah mempermainkan aku!" Sudut mata Saras mulai berair. "Tidak kusangka, ternyata kau ini memang suka mengingkari janji. Kalau begitu kita akhiri saja hubungan ini, supaya aku bisa menikah dengan laki-laki pilihan Papaku." Saras berdiri dari duduknya. "Kau dan aku mulai detik, jam, hari ini juga kita tidak memiliki hubungan apapun itu. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal." Tanpa permisi gadis itu langsung saja pergi dari sana membawa hatinya yang kini sangat hancur.
"Sar … Saras …." Darius memanggil Saras yang kini terlihat berlari keluar dari rumah Hugo. Laki-laki itu juga terlihat tidak berniat mengejar gadis yang sudah satu tahun setengah ini mengisi relung hatinya. "Saras, kamu memang tidak akan bisa mengerti dengan semua ini."
Agna dan Darren hanya bisa diam saja karena keduanya tidak tahu harus berpihak kepada siapa. Mengingat Darius dan Saras sama-sama sahabat mereka dari kecil sampai saat ini.
"Hm, aku harus membawa Nawa masuk ke dalam kamar dulu. Kasihan dia mungkin merindukan kasur empuknya." Agna memilih untuk membawa Nawa ke kamar sebagai sebuah alasan supaya dia bisa pergi dari sana. "Om suami lanjutkan saja diskusinya, untuk Saras biarkan dia tenang dulu baru Om suami bisa menghubunginya. Untuk meminta bantuannya."
"Baik, bawa Nawa masuk saja. Nanti kita kasih tahu Bunda dan Ayah kabar bahagia ini." Darren terlihat menyerahkan tas kecil tempat dot putra mereka. "Kamu juga harus banyak istirahat Sayang, untuk masalah acara ulang tahunnya biar aku dan Darius yang akan mengurusnya."
Agna mengangguk tanda mengiyakan sang suami sambil melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana membiarkan Darren dan Darius berdua saja.
Melihat Agna sudah pergi. Terdengar Darius langsung saja membuka suara.
"Bagaimana mungkin aku melamarnya jika Om Bagas tidak suka denganku. Apakah mungkin cinta yang tidak direstui akan bisa bertahan lama?"
"Darius … Darius, kenapa kamu ini tidak jujur saja padanya? Kenapa kamu membiarkan Saras berpikiran yang tidak-tidak tentang dirimu? Sungguh kamu adalah laki-laki yang sama sekali tidak memiliki nyali." Darren melompat kemudian ia langsung duduk di sofa tepat di sebelah Darius. "Jika kamu benar-benar tulus mencintai Saras, untuk apa kamu harus takut dengan Om Bagas yang tidak merestui cinta kalian. Aku sebagai laki-laki tulen menertawakan kebodohanmu ini sobat karena kamu tidak berani jujur dan berterus terang."
__ADS_1
"Jodoh tidak akan kemana." Darius mengatakan itu hanya untuk sekedar menghibur dirinya sendiri.
"Saras akan di jodohkan, itu artinya gadis itu bukan jodohmu yang artinya selama ini kamu telah menjaga jodoh orang."
"Jangan memperkeruh keadaan Ren, aku tahu saat ini kamu sedang memancingku supaya aku datang ke rumah kedua orang tua Saras. Lalu melamar wanita itu." Darius mendengus kesal. "Memang boleh sahabat sejahat ini?"
"Terserah kamu saja Dar, aku hanya memberikanmu solusi tadi tentang kamu yang harus jujur sejujurnya. Tapi jika kamu tidak menerimanya tidak apa-apa karena yang akan patah hati itu dirimu bukan aku." Darren akan terus berusaha supaya Darius memberanikan diri untuk datang ke rumah kedua orang tua Saras.
"Kita bahas masalah ulang tahun Nawa saja." Darius memilih untuk mengalihkan pembicaraan. "Kita adakan acaranya di puncak saja. Sudah lama kita tidak pergi ke sana. Bagaimana menurutmu?"
"Ide yang tidak bisa aku terima mengingat di puncak cuacanya sangat dingin. Nawa juga bisa flu jika kita benar-benar adakan acaranya di sana." Darren menggeleng kuat tanda laki-laki itu tidak setuju. "Acaranya diadakan sekitar sini saja karena aku lebih memilih mencari aman saja."
"Baiklah, kalau begitu di rumah nenek dan kakeknya saja." Darius berharap Darren setuju karena jika diadakan di sana otomatis kedua orang tua Saras pasti juga ikut membantu. Sehingga dirinya nanti bisa memiliki kesempatan untuk memberikan kejutan pada Saras.
"Yes, akhirnya rencanaku akan berhasil." Darius membatin sambil senyum-senyum sendiri.
"Hei, kenapa senyum-senyum sendiri? Apa ada rencana jahatmu terhadap keluarga kecilku?" Terlihat Darren meninju lengan Darius.
"Hah, tidak. Tidak ada niatku begitu. Kamu ini selalu saja berburuk sangka padaku. Sekarang kita berangkat saja biar semuanya cepat selesai sebelum jam yang ditulis pada kartu undangan itu tiba." Darius bergegas pergi dari sana.
"Dasar aneh, baru saja mendengar kabar Saras akan dijodohkan. Tapi dia sudah senyum sendiri. Jangan sampai tuh anak gila karena kalau itu sampai terjadi maka tidak akan ada lagi yang menolongku di saat aku memiliki masalah," gumam Darren pelan.
***
__ADS_1
Beberapa jam kemudian terlihat sebuah dekorasi tempat ulang tahun Nawa sudah hampir akan jadi.
"Balonya apa bisa di taruh disini juga tidak?" Darren bertanya sambil menunjuk sudut tembok.
"Bisa sekali Tuan, Anda mau modelnya yang seperti apa?" Tukang dekorasi itu bertanya balik pada Darren.
"Secocoknya saja Pak, balonnya juga harus warna putih dan biru jangan ada warna lain."
"Siap Tuan, kalau begitu saya suruh teman-teman yang lain dulu untuk mengambil balonnya."
"Silahkan, yang terpenting saya mau ini semua jadi tepat pada waktunya." Darren berlalu pergi pada saat ia sudah mengatakan itu.
"Persiaannya sudah hampir jadi Ren, Om tidak menyangka kalau kamu ingin mengadakan acara ulang tahun di rumah mertua kamu ini." Bagas menepuk pundak Darren membuat ayahnya Agna itu menghentikan langkah kakinya.
"Om Bagas, apa kabar Om?" Darren tersenyum ramah.
"Baik, kalau kamu sendiri apa kabar?"
"Baik juga Om, mari kita duduk di sofa itu biar kita bisa ngobrol-ngobrol santai." Darren menunjuk sofa tempat Darius sedang duduk sambil meminum secangkir kopi.6 Ternyata ayahnya Nawa itu sengaja mengajak Bagas duduk di sana supaya ia bisa semakin mendekatkan Darius dan Bagas mengingat hubungan keduanya kurang baik.
"Duluan saja Ren, Om mau ambil teh dulu." Sepertinya Bagas sudah tahu apa yang ada di dalam pikiran Darren.
"Yah, gagal total," gumam Darren pelan.
__ADS_1