Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Hari H, Berencana Kabur


__ADS_3

Satu minggu berlalu dengan begitu cepat, sehingga hari ini Agna terlihat sedang berdiri di depan Saras yang akan melangsungkan pernikahan tepat hari ini.


"Aku sengaja datang lebih awal karena aku ingin berlama-lama bersamamu," kata Agna pada saat ia melihat Saras yang sedikit terkejut karena melihat Agna yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan gadis yang sedang melamun itu.


"Apa kamu datang untuk aku, Agna?" tanya Saras yang saat ini sedang duduk di pinggir ranjang. Rupanya hari ini adalah hari yang paling tidak pernah Saras inginkan di dalam hidupnya. 


"Tentu saja aku datang demi sahabatku ini," jawab Agna yang kini ikut duduk di ranjang itu tepat di sebelah Saras. "Ini adalah hari bahagiamu, tapi kenapa raut wajahmu tidak menggambarkan kebahagiaan itu sama sekali?" 


Mendengar pertanyaan Agna, Saras terlihat meremas gaun putih yang saat ini gadis itu kenakan dengan sangat erat.


"A-aku, a-aku …." Suara Saras terbata-bata. Ia sepertinya akan mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya.


"Hei, kamu kenapa? Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dari sahabatku ini?" Agna semakin merasa yakin kalau sebenarnya Saras terpaksa menerima perjodohan ini.


Bukannya menjawab air mata Saras terlihat malah berlinang. Ia juga langsung memeluk tubuh wanita hamil itu.


"A-aku, sejujurnya ti-tidak bahagia. Aku ingin kabur saja dari pernikahan ini Agna, tolong aku karena hanya kamu saja yang bisa menolongku." Saras pada akhirnya mengatakan apa yang memang ingin ia katakan pada Agna. "Agna, bawa aku pergi jauh dari sini sejauh mungkin. Aku mohon …." Air mata Saras semakin mengalir dengan sangat deras.


"Sar, tenangkan diri kamu dulu jangan seperti ini." Agna berusaha untuk menenangkan Saras. Ia juga kini sudah tahu kalau sebenarnya Saras tidak menerima perjodohan ini. "Ceritakan padaku biar aku tahu semuanya."


"Papa memiliki hutang pada Roy, sehingga membuat Papa yang tidak memiliki uang atau mampu melunasinya membuat Papa tega menjadikan aku sebagai pelunas hutangnya itu. Aku terpaksa Agna setuju pada waktu itu di tambah semakin kesini sifat Roy semakin kelihatan kalau saja dia bukan laki-laki yang baik. Aku hanya bisa meminta tolong kepadamu karena aku memang percaya padamu, Agna." Tidak ada yang harus disembunyikan lagi begitu menurut pemikiran Saras karena dirinya memang benar-benar ingin kabur dari pernikahan ini, dan yang hanya bisa menolongnya yaitu Agna. "Bawa aku pergi sekarang juga Agna, sebelum Mama datang menyuruhku untuk turun ke bawah."


Agna kesulitan menelan salivanya karena ia tidak akan mungkin berani membawa Saras kabur di saat acara sakral itu sebentar lagi akan dimulai.


"Sar, bukan aku tidak mau membantumu. Tapi … aku takut jika saja nanti malah akan menimbulkan masalah yang sangat besar jika saja kamu benar-benar kabur dari sini bersamaku." Agna melepaskan pelukan Saras. Ia lalu terdiam sejenak sebelum menyuruh sahabatnya itu untuk menarik nafas. "Coba tarik nafas dulu, lalu buang secara perlahan melalui mulutmu, lakukan berulang-ulang kali sehingga kamu merasa sedikit jauh lebih tenang." 

__ADS_1


Saras terlihat melakukan apa yang Agna perintahkan padanya. Berulang-ulang kali ia menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan.


"Apa sudah merasa baikan sekarang?" tanya Agna sambil memegang tangan Saras.


"Aku akan merasa baik dan tenang jika saja kamu membawamu pergi jauh dari sini." Kini tatapan mata Saras malah terlihat kosong karena dirinya merasa bahwa saja Agna tidak akan mau menolongnya. 


"Sar, jangan seperti ini. Ayo tatap mataku." Agna sekarang memegang pipi Saras. "Sar, bukan aku yang akan membawamu pergi melainkan Darius. Dia sekarang sudah menunggumu di taman belakang rumahmu ini."


Saras pada detik itu juga langsung saja menatap mata Agna. "Benarkah?"


"Iya, Darius sendiri yang mengatakannya kalau dia akan membawamu kabur dari sini karena sepertinya dia tahu semuanya." Agna memang sangat mendukung Darius dan Saras. Sehingga wanita hamil itu sangat tidak menyukai Roy. Di tambah ia tadi mendengar sepenggal cerita Saras kalau saja Roy itu bukan lah laki-laki yang baik membuatnya semakin berlipat-lipat membenci laki-laki itu.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan, Agna?" 


"Aku akan keluar dulu dari sini supaya tidak akan ada yang curiga kalau saja kamu akan kabur dari sini. Tapi, apa kamu siap menanggung resikonya apapun yang terjadi nantinya?" Agna bertanya hanya untuk sekedar memastikan.


"Baiklah kalau begitu, aku harus keluar dulu. Nanti tunggu aba-aba dariku melalui pesan singkat baru kamu mendekat ke arah jendela yang ada di balkon itu karena nanti Darius yang akan membawamu turun melalui jendela itu sampai ke bawah. Apa kamu paham?"


"Jika terlalu lama, maka dapat aku pastikan rencanamu ini tidak akan berhasil atau gagal karena acaranya sebentar lagi akan dimulai." Saras kini malah kembali murung lagi padahal tadi ia sempat ceria mendengar Darius yang akan membawanya pergi jauh dari rumahnya itu.


"Saras, percaya padaku. Bahwa ini semua akan berhasil. Oke, sekarang hapus air matamu. Jangan menangis lagi karena Darius akan segera menolongmu. Tapi supaya tidak menimbulkan kecurigaan aku akan menyuruh MUA-nya untuk memperbaiki riasan wajah-mu dulu."


Agna juga sepertinya memiliki sebuah rencana sehingga ia ingin tuang riasnya memperbaiki sedikit saja make up Saras.


"Keluarlah, dan panggil MUA itu untukku karena aku sangat yakin kalau saja kamu memihak kepadaku."

__ADS_1


Agna mengangguk sambil keluar dari  dalam kamar Saras.


***


Sedangkan di belakang rumah Saras terlihat Darius dan Darren sedang membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.


"Apa kamu yakin akan melakukan itu semua?" tanya Darren.


"Hanya itu satu-satunya jalan keluarnya, kamu tidak usah memikirkan Om Bagas akan murka atau sebagainya padaku, yang jelas aku ini hanya meminta dukungan saja darimu sebagai sahabat yang baik."


"Apa Saras tidak akan keberatan?" Darren terdengar bertanya lagi.


"Jika dia keberatan, maka dia tidak akan mungkin mau pergi jauh dari sini bersamamu."


"Kamu benar, sekarang kamu naik saja ke lantai dua. Keburu acaranya di mulai, Agna juga sudah mengirim pesan kalau saja situasinya saat ini aman terkendali. Cuma perasaanmu saja yang tidak bisa dikendalikan saat ini." Dalam keadaan seperti ini Darren masih sempat-sempatnya bercanda.


"Aku akan naik, jangan bercanda begini. Nanti aku malah jatuh," kata Darius yang mulai mengikat pinggangnya dengan tali.


Darren hanya bisa nyengir. kuda mendengar apa yang dikatakan oleh Darius.


Tidak berselang lama kini terlihat Darius sudah sampai setengah. Tapi, tiba-tiba saja terdengar suara yang sangat Darius kenal.


"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?"


Deg

__ADS_1


Jantung Darius dan Darren terasa mau lepas dari tempatnya saking kagetnya mendengar suara pria paruh baya itu.


__ADS_2