
"Agna matikan apinya sekarang juga." Darren terlihat dengan sangat hati-hati sekali menuruni anak tangga itu satu persatu sambil terlihat menenteng selang infusnya. "Jika aku memberitahumu maka jangan pernah membantah."
"Om Suami, aku hanya makan mie kali ini saja. Jadi, jangan terlalu berlebihan seperti itu." Meski mulut Agna mengatakan itu, tetapi tangan wanita itu terulur untuk mematikan kompor. Padahal rebusan air mie wanita itu belum juga mendidih dengan sempurna.
"Pada saat kamu makan bahkan sarapan di kantin saat kamu kuliah. Kamu selalu memakan mie Agna. Apa kamu pikir aku tidak tahu semua itu? Bukan cuma kali ini saja Agna. Kamu itu bahkan hampir setiap hari mengkonsumsi mie." Darren yang merasa sudah sedikit mendingan bisa berjalan dengan hati-hati, karena tenaga laki-laki itu juga sebenarnya belum pulih sepenuhnya.
Agna menggigit cakar yang akan wanita itu kenakan untuk menyanyantap mie, karena Agna juga tidak menyangka
kalau om suaminya akan tahu tentang dirinya yang sangat suka sekali memakan mie instan.
"Sini duduk, biar aku suapkan makanan yang aku pesan." Darren menarik satu kursi untuk dirinya dan satu lagi untuk sang istri dengan sangat hati-hati sekali. "Duduk Agna, karena kasihan bayi yang ada di dalam perutmu pasti saat ini dia sangat lapar."
Agna menurut sekarang ia terlihat duduk di sebelah Darren. "Aku mau makan mie, bukan mau makan racun. Kamu kenapa sih, jadi orang kok kayaknya benci banget sama tuh mie instan?"
__ADS_1
"Bukan benci, tapi … aku cuma tidak mau saja jika kamu sakit hanya gara-gara kamu terlalu sering mengkonsumsi mie," jawab Darren yang sekarang terlihat mulai membuka keresek yang ada di atas meja menggunakan sebelah tanganya, karena sekarang terlihat Agna yang memegang selang infus laki-laki itu.
"Apa kamu juga seperti ini pada saat memberitahu Miss Kara?" Agna tiba-tiba saja malah menanyakan itu, karena rupanya dulu waktu wanita itu belum menikah dengan Darren. Agna sempat mengingat kalau suaminya itu pernah melarang Kara untuk tidak memakan mie.
Darren dengan dahi yang berkerut menjawab, "Miss Kara? Kenapa kamu malah membahas dia?"
"Entahlah, karena tiba-tiba saja aku mengingat pada saat kamu juga melarang Miss centil itu untuk memakan mie waktu di kantin." Agna setiap kali menyebut Kara pasti wanita yang sedang hamil muda itu langsung cemberut.
"Aku sudah kenyang." Agna meletakkan cakar yang tadi sempat ia gigit di atas meja dengan sangat kasar. "Kamu saja yang makan, aku lebih baik makan di luar. Sekarang ingat saja terus kenangan-kenangan manismu bersama si centil dan sok cantik itu. Padahal kulit wajahnya sudah kriput, put … put." Agna tiba-tiba saja malah mengatakan itu semua. Sungguh mood wanita hamil itu sangat sulit sekali di tebak. Padahal tadi Agna biasa-biasa saja tapi sekarang wanita itu malah bad mood.
"Aku juga tidak akan mau kuliah di rumah, enak saja kamu mengajar sambil pacaran sedangkan aku hanya akan berdiam diri disini. Pokoknya aku tidak akan mau kuliah di rumah titik tidak ada koma." Agna lalu menyambar kunci mobil milik Darren. "Mobilmu aku pinjam Om suami, karena sepertinya aura disini terlalu panas. Sehingga membuatku harus jalan-jalan sebentar."
"Jangan aneh-aneh Agna, kamu juga setahuku tidak bisa bawa mobil," kata Darren.
__ADS_1
"Bodo amat!" Dua kalimat paling keramat yang dimiliki oleh wanita hamil itu. Agna juga terlihat meletakkan selang infus Darren di atas meja. "Terus saja lamunin Miss Kara alias Mis Kera itu, biar kamu puas!" Agna lalu pergi begitu saja saat suasana hatinya merasa dongkol pada sang suami. Padahal Darren hanya mengingatkan saja. Tapi Agna malah mengaitkannya dengan Kara.
"Astaga, kenapa anak itu? The real mood-nya tidak bisa di tebak. Dari mie instan sekarang malah membahas Miss Kara. Kira-kira apa hubungannya?" Darren bertanya pada dirinya sendiri, dan membiarkan sang istri pergi begitu saja karena Darren tidak akan mungkin bisa mengejar Agna disaat kondisinya belum pulih total. Ini saja jika laki-laki itu tidak mengkawatiran Agna yang akan memakan mie instan Darren pasti tidak akan mungkin mau menuruni anak tangga dengan kondisinya yang seperti saat ini.
"Agna, Na ... jangan pergi. Nanti kalau aku deman siapa yang akan mengompresku?" tanya Darren.
"Suruh saja Miss kecentilanmu itu untuk datang kesini, supaya dia bisa merawatmu dengan tulus dan penuh rasa sayang juga!" sahut Agna menimpali Darren.
"Apakah dia merajuk?" Darren bertanya seraya berdiri dari duduknya. Tetapi tiba-tiba saja laki-laki itu malah terjatuh sehingga terdengar suara pecahan gelas yang tidak segaja di senggol oleh siku laki-laki itu.
Crangg!
Agna yang masih ada di teras saat ini segera berlari masuk ke dalam lagi hanya untuk melihat apa yang terjadi dengan Darren.
__ADS_1