
Lutut Darren langsung saja lemas ketika laki-laki itu mendapat kabar jika calon bayinya dan Agna dikabarkan tidak bisa diselamatkan.
"Maafkan saya Dok, karena saya sudah berjuang semampu mungkin tapi calon bayi Anda dan Agna tidak bisa diselamatkan lagi," kata Naya saat dokter kandungan itu sedang memberitahu Darren. "Karena benturan pada perut istri Dokter cukup keras sehingga membuat janin yang masih menjadi segumpal darah dan memang masih sangat rawan itu menjadi keguguran." Naya terus saja menjelaskan semua pada Darren.
"Nay, ini tidak mungkin!" Darren memegang kedua pundak Naya sambil menggoyang-goyangkan tubuh dokter itu. "Katakan kalau ini semua tidak benar, aku mohon katakan ini tidak benar, Nay." Meski Darren sempat tidak mengakui janin itu adalah darah dagingnya. Tapi kini laki-laki itu merasa begitu sangat kehilangan padahal dirinya sudah menyiapkan nama untuk calon bayinya
"Dok, saya benar-benar minta maaf, karena tidak bisa menyelamatkannya." Naya menunduk karena dokter kandungan itu tidak sanggup melihat dua bola mata indah milik Darren. "Silahkan kalau Anda mau masuk melihat istri Anda, kebetulan Agna juga sudah sadar," sambung Naya yang sebenarnya saat ini ada yang dokter kandungan itu rahasiakan dari Darren.
Darren mengusap wajahnya dengan kasar sebelum laki-laki itu masuk ke dalam ruangan rawat inap Agna. Laki-laki itu juga membiarkan Naya sendiri di luar dan tanpa Darren sadari dokter kandungan itu menyunggingkan senyum simpul.
"Rasain kamu Ren, siapa suruh dulu kamu menolakku. Sekarang kamu tanggung sendiri akibatnya," gumam Naya membatin sebelum dokter itu pergi dari sana.
🍂🍂
Terlihat Darren diam membisu seribu bahasa. Pada saat laki-laki itu sudah masuk ke dalam ruangan rawat inap Agna. Laki-laki itu terus saja menatap perut Agna yang masih datar. Darren seolah-olah tidak percaya jika saja buah hatinya kini telah tiada.
"Apa ini semua gara-gara aku yang tidak mau mengakui darah dagingku sendiri? Sehingga membuat wanita keras kepala ini keguguran?"
"Apa ini memang murni kesalahanku?"
"Tapi kenapa janin yang tidak berdosa itu yang menjadi korban? Kenapa tidak aku saja?"
__ADS_1
"Apakah dengan cara begini Tuhan menunjukkan kalau saja aku dan Agna tidak ditakdirkan untuk terus bersama?"
Pada saat Darren terus saja berbicara di dalam benaknya, tiba-tiba saja suara Agna terdenggar lirih memanggil Al juga Ranum.
"Bunda, Ayah. Aku sudah gagal menjadi seorang istri ... aku juga sudah gagal menjadi seorang Ibu. Ini semua gara-gara kesalahanku sendiri Bunda, ini semua karena kesalahanku." Agna menangis tersedu-sedu karena ia juga tahu jika saja Darren pasti merasa sangat kecewa padanya. Sehingga membuat Agna dari tadi hanya diam saja.
"Sstt, sayang anaknya Bunda, tenang
dulu sayang." Ranum berusaha menenangkan putrinya. "Tidak ada yang bersalah dalam hal ini sayang, tapi mungkin saja Agna dan Darren belum kasih kepercayaan sepenuhnya. Oleh sebab itu, calon bayi kalian di ambil lagi sama Sang pencipta." Jujur saja saat ini Ranum juga merasa sangat sedih ketika mendapat kabar dari sang besan yang mengatakan kalau Agna keguguran.
Rupanya Darren langsung saja menghubungi Alea ketika Agna dinyatakan keguguran. Sehingga membuat Alea memberitahu Ranum juga Al.
yang malah menyerahkan Agna kembali pada Al dan Ranum.
"Om, Tante, dulu aku meminta Agna dengan baik-baik. Maka sekarang aku juga akan mengembalikan putri Om dan Tante dengan cara baik-baik," kata Darren yang membuat Al dan Ranum langsung saja menatap laki-laki yang saat ini terlihat sangat menyedihkan itu. "Dengan ini aku menyatakan kalau aku Darren mengembalikan putri Om dan Tante dengan kata lain ... aku menceraikan Agna." Dengan sangat lantang sekali Darren malah mengucapkan kata cerai atau talak pada Agna, saking kecewanya seorang Darren pada wanita yang saat ini masih saja terbaring di atas bed. "Hari ini aku telah menceraikanmu Agna. Jadi, sekarang kamu bisa bebas."
Al dan Ranum begitu kaget ketika mereka mendengar Darren yang malah menceraikan putri mereka. Disaat keadaan Agna seperti saat ini.
"Apa-apaan kamu Darren, kenapa kamu malah menceraikan putri kami? Hanya gara-gara masalah seperti ini." Al yang marah hampir saja memberikan Darren bogem mentah. Akan tetapi, sebelum itu terjadi Hugo sudah terlebih dahulu menampar Darren disaksikan oleh semua orang yang ada disana.
"Apa-apaan kamu Ren, kenapa kamu malah mengatakan itu? Cepat ucapkan kata rujuk lagi sebelum kamu menyesal!" Hugo menarik leher baju putranya, ia juga menampar Darren kekiri dan kanan sehingga membuat sudut bibir laki-laki itu kini terlihat berdarah. "Cepat ucapkan kata rujuk, karena kata cerai itu tidak bisa di buat mainan." Hugo terus saja memaksa Darren untuk mengucapkan kata rujuk.
__ADS_1
"Tidak Pi, aku sudah melepaskan Agna, karena sepertinya kita berdua tidak ditakdirkan untuk bersama." Setelah mengatakan itu Darren langsung saja pergi dari sana. Tapi sebelum itu ia tadi terlihat menepis tangan sang ayah yang menarik leher bajunya.
"Anak kurang ajar! Kamu pikir dengan kamu bercerai semua masalah akan selesai kamu salah!" Hugo saking marahnya malah berteriak di ruang rawat inap itu.
"Pak Hugo, silahkan Bapak keluar dulu ajak Jeng Alea." Ranum mengatakan itu karena saat ini dirinya mau berbicara dulu dengan suami beserta anaknya. Ranum juga melihat kalau Alea hanya diam saja karena mungkin saja wanita itu juga kaget dengan apa yang saat ini telah terjadi.
Hugo yang mendengar itu langsung saja mengajak sang istri untuk keluar, karena laki-laki itu juga merasakan dadanya begitu sakit, karena ulah Darren yang seperti saat ini.
Setelah Hugo dan Alea keluar Ranum juga terlihat menenangkan Al juga Agna.
"Mas, Na, mungkin ini jalan terbaik. Ini juga adalah takdir cinta perjalanan Agna maka kita harus menerimanya dengan lapang dada. Percayalah setelah ada kesulitan pasti akan ada kemudahan."
"Tapi Bun, Darren sudah sangat keterlalu–" Kalimat Al terputus, karena Ranum memotongnya.
"Mas, mungkin ini yang terbaik seperti apa yang dikatakan oleh Darren tadi. Maka kita sebagai orang tua harus menerima keputusannya apapun itu." Meski Ranum juga sangat merasa kecewa pada Darren. Tapi wanita itu tetap berusaha membuat suasana saat ini menjadi cerah bukan menjadi keruh. "Jodoh Agna dan Darren hanya sampai disini. Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Mas."
"Tapi Bun, ini semua tidak benar." Al memegang dagunya karena saat ini rahang laki-laki itu mengeras. "Ini sama artinya dia mempermainkan perasaan Agna."
"Mas, sudah. Jangan bahas itu karena sekarang Agna sudah menjadi tanggung jawab kita lagi," ucap Ranum mengingatkan sang suami.
Sedangkan Agna merasa seperti sedang bermimpi karena sekarang dirinya dan Darren benar-benar telah berakhir.
__ADS_1