Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Calon Suami


__ADS_3

"Wah akan ada masalah malam ini," kata Darren yang juga melihat Saras datang bersama laki-laki bertubuh jangkung, Darren juga tidak mengenali laki-laki itu. "Aku harus siaga karena aku tahu Darius pasti tidak akan pernah bisa terima kalau saja dia melihat ini semua." Darren bergegas berjalan ke arah sofa dimana Agna dan Ranum masih terlihat duduk berdua dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan.


Karena sofa tempat duduk istri dan mertuanya tidak terlalu jauh, dengan hanya hitungan detik saja laki-laki itu kini terlihat sudah berdiri di dekat Agna dan Ranum.


"Bun, aku titip Nawa dulu karena aku dan Agna mau menyapa Saras sekaligus menyambutnya karena mau bagaimanapun ini acara ulang tahun Nawa. Tidak enak jika saja kami mengabaikannya nanti Saras merasa kedatangannya seperti tidak diinginkan. Di tambah ada seorang laki-laki yang ikut bersamanya." Darren meletakkan putranya yang terlihat begitu sangat aktif itu di paha mertuanya. "Ayo Na, kita sapa Saras dulu. Nawa sayang, sama nenek dulu karena Mama dan Papa ada urusan." Darren mengelus rambut putranya yang terlihat mengganguk. Sebelum ia dan sang istri benar-benar menghampiri Saras.


***


"Sorry, aku terlambat karena di jalan tadi sangat macet. Nggak apa-apa 'kan, aku telat datangnya? Ya, meski acara ulang tahun Nawa sudah selesai." Saras terdengar beralasan karena macet padahal dirinya emang sengaja datang ke sana terlambat. Gadis itu juga sepertinya tahu jika saja acaranya sudah selesai.


"Tidak apa-apa, justru aku merasa sangat senang karena kamu mau datang. Padahal aku mengira kalau kamu itu nggak bakalan datang." Agna menang benar mengira bahwa Saras tidak akan hadir mengingat perdebatan kecil Saras dan Darius. 


"Yang, ajak Saras gih duduk. Supaya kita ngobrolnya juga enak." Darren mencolek lengan sang istri.


"Iya, Om suami benar. Ayo Sar kita duduk sambil ngemil. Ajak juga temanmu ini." Agna menatap laki-laki yang bersama Saras. Ia mulai melihat penampilan laki-laki itu mulai dari atas sampai bawah.


Saras terdengar berdehem beberapa kali, entah gadis itu emang sengaja atau memang tenggorokannya sedang sedikit bermasalah.


"Aku sampai lupa, kenalin nih. Ini Roy calon suamiku yang sering aku ceritain ke kamu itu lho, Na." Saras mengedip-ngedipkan sebelah matanya seperti orang yang sedang kelilipan. "Roy, kenalin ini sahabat dari orokku." Saras sekarang terdengar memperkenalkan Agna pada laki-laki yang bernama Roy itu.


Sedangkan Darren diam saja dari tadi karena sepertinya ada yang sedang laki-laki itu pikirkan.


"Oh, calon suamimu." Agna terlihat tetap biasa saja meskipun wanita itu saat ini sangat shock pada saat ia mendengar kalau Roy itu adalah sosok laki-laki yang akan dijodohkan dengan Saras. "Hm, kalau begitu ajak Roy duduk gih." Agna berusaha untuk tetap tersenyum ramah. Meskipun di dalam benaknya saat ini ia terus saja menyalahkan Darius yang membuat hati Saras menjadi patah karena penolakan yang terus saja Darius lontarkan pada gadis manis itu.


"Mari, kita duduk di sofa paling ujung saja supaya kita enak ngobrolnya." Setelah lama terdiam Darren pada akhirnya membuka suara. 

__ADS_1


"Nah kalau ini suaminya Agna, Roy. Namanya Darren." Saras menunjuk Darren. "Besok-besok kalau kamu bertemu dengannya jangan cuek ya." 


"Pasti, aku tidak akan cuek. Aku akan menyapanya dimanapun itu aku melihat mereka." Roy tetap terlihat menunjukkan wajah datarnya. Padahal laki-laki itu terlihat seperti orang yang ramah tapi kenyataannya dia laki-laki bermuka tembok. "Ngomong-ngomong kamar mandi dimana ya?"


"Om suami, antar Roy gih. Aku dan Saras biar duluan saja duduk di sofa itu." Sepertinya semesta sedang memihak pada Agna sehingga ia dan Saras akan dibiarkan berdua saja. 


"Baik, ayo Roy, saya antar kamu." Darren berjalan diikuti oleh Roy.


Melihat keduanya sudah mulai menjauh Agna kini bisa bernafas dengan lega. "Huh, entah drama apa ini Saras. Hanya kamu dan Tuhan saja yang tahu."


"Ini bukan drama, ini real. Aku benar-benar ingin menikah dengannya karena aku sudah setuju dengan perjodohan ini." Meski bibir Saras tersenyum pada saat ia mengatakan itu.


Namun, raut wajah gadis itu sama sekali tidak bisa bohong bahwa mungkin saja Saras terpaksa menerima perjodohan ini.


"Aku serius Na, untuk laki-laki yang tidak ingin kusebut namanya aku sudah mengakhiri hubungan dengannya. Jadi, aku dan dia benar-benar sudah selesai." Kini Saras tersenyum getir. "Aku juga minta tolong, jangan bahas dia lagi. Aku takut Roy nanti akan menjadi cemburu mengingat dia adalah calon pendamping hidupku."


"Sar jangan seperti ini. Nanti kamu menyesal. Jangan karena Om Bagas kamu menerima perjodohan ini. Ingat hanya orang pilihan kita sendiri yang akan membuat kita bahagia." Agna berusaha untuk mengingatkan Saras padahal dirinya dan Darren juga menikah karena dijodohkan.


"Jangan pura-pura amnesia Agna, apa kamu lupa kalau Pak Darren dan kamu itu juga dijodohkan? Tapi sekarang kalian hidup bahagia. Itu artinya pilihan kedua orang tuaku juga pasti tidak akan salah." Saras saat ini sedang berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Atas keputusan yang telah ia ambil.


"Sar, jangan begini. Nanti kamu menyesal." Agna tahu sebenarnya Saras mengambil keputusan ketika gadis itu merasa sangat kecewa dengan Darius. "Tolong pikirkan lagi Saras, kasihan Darius. Mau dibawa kemana perasaannya nanti jika saja kamu benar-benar akan menikah dengan Roy. Laki-laki berwajah datar seperti tembok itu."


"Ini keputusanku Agna. Aku harap kamu mengerti. Bahagia atau tidak itu semua biarlah menjadi urusanku dan untuk laki-laki pengecut itu biarkan saja dia hidup melajang selamanya. Aku sudah tidak ingin lagi berurusan dengannya." Sepertinya Saras sudah terlanjur kecewa dengan Darius sehingga semua kalimat itu terlontar begitu saja. "Itu Pak Darren dan Roy, kita jangan bahas ini lagi, Na. Nggak enak di dengar oleh Roy nanti malah menjadi masalah."


"Semudah itu kamu melupakan cinta pertamamu, aku tidak menyangka Saras yang aku kenal berubah secepat ini." Agna yang belakangan ini sangat mudah sekali sedih tiba-tiba saja sudut matanya mulai berair. "Darius laki-laki baik, kenapa kamu tega melakukan ini padanya?"

__ADS_1


"Agna aku mohon dengan sangat, berhenti membahas laki-laki itu." Setelah mengatakan itu Saras pergi begitu saja. Entah ia juga menyesal dengan keputusannya sendiri atau memang Saras benar-benar tidak ingin mendengar nama Darius yang terus saja Agna sebut.


"Aku tahu sebenarnya kamu terpaksa Saras. Aku tahu semua itu dari sorot matamu yang tidak akan bisa membohongiku." Agna mengusap butiran bening yang tadi sempat menetes. "Semoga semuanya baik-baik saja, aku berdoa untuk kebaikanmu sahabatku."


***


"Wah kebetulan sekali semuanya kumpul-kumpul di sini," kata Sonia pada saat ia melihat Agna, Darren, Al dan Ranum sedang duduk sambil bercanda gurau. "Boleh tidak Mamanya Saras ini ikut duduk."


"Kayak sama siapa saja, duduk tinggal duduk. Ayo kita ngobrol-ngobrol." Ranum menepuk sofa di sebelahnya mengisyaratkan sahabatnya itu untuk duduk di dekatnya.


"Oke, aku duduk ya." Sonia melepas bo kongnya di atas sofa dengan pelan. "Aku sebenarnya mau meminta pendapat darimu sobat." Sonia merangkul pundak Ranum. Mereka berdua terlihat seperti lupa dengan umur mereka.


"Pendapat apa? Katakan saja." Dahi Ranum berkerut karena setelah sekian lama. Sonia baru kali ini lagi ingin meminta pendapat dari Ranum.


"Saras akan menikah. Jadi, aku ingin meminta pendapatmu tentang gedung yang cocok untuk melangsungkan acara yang sakral itu, kira-kira dimana?" Kini percakapan Sonia terdengar sudah mulai serius. "Aku juga bingung harus memilih surat undangan yang modelnya seperti apa karena semuanya bagus di mataku yang sudah rabun ini."


"Kenapa buru-buru, memangnya acaranya kapan?" tanya Ranum yang penasaran.


Sedangkan Agna dan Darren memasang kuping lebar-lebar. Untuk Al, pria itu sedang sibuk mengajak cucunya bermain.


"Minggu depan, sehingga membuatku pusing begini," jawab Sonia mantap. Wanita itu tanpa ada beban menjawab sesingkat itu sehingga membuat Ranum juga menjadi tercengang. Begitu juga dengan Darren dan Agna.


"Apa?!" Agna terkejut sehingga apel yang ia kunyah tadi malah disemburkan oleh wanita hamil itu. "Apa aku tidak salah dengar Tante?"


"Tidak ada yang salah Agna, Saras dan Roy akan menikah minggu depan." Bagas ikut meyakinkan semua orang yang mungkin belum sepenuhnya percaya.

__ADS_1


__ADS_2