
"Nawa kenapa nangis?" tanya Ranum dan Alea serempak, tepat ketika Darren sudah menutup boba milik Agna.
"Nawa kaget mendengar suaraku, Mi, Bun," jawab Agna sambil menunduk.
"Lho, emang kamu kenapa sayang?" Sekarang Alea terdengar bertanya
sambil mengambil bayi merah itu dari tangan menantunya.
"Anu, Mi. Tadi aku melihat kecoa terbang." Agna saat ini sedang berbohong karena ia tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Bisa-bisa dirinya dan juga Darren pasti akan sangat malu.
__ADS_1
"Perasaan di kamar ini nggak pernah ada kecoa, apa jangan-jangan karena kamu tidak menepatinya selama satu minggu?" Tepat pada saat Nawa di gendong oleh Alea, bayi itu langsung saja berhenti menangis. "Jika benar begitu, Mami harus panggil ART Mami untuk ke sini lagi."
Mendengar itu Agna langsung saja mengangkat wajahnya, supaya dirinya bisa melihat sang suami yang malah diam saja dari tadi. Padahal Agna berbicara cukup keras tadi gara-gara ayahnya Nawa itu.
"Om suami," panggil Agna pelan sambil memberikan laki-laki itu kode.
Darren langsung saja terlihat mengangguk karena sepertinya laki-laki itu mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Agna. Meskipun saat ini Darren sama sekali tidak tahu harus mengatakan kalimat kebohongan seperti apa pada sang ibu.
"Kok Om suami malah pergi?" tanya Agna sambil memelototi Darren yang sekarang malah nyengir sehingga deretan gigi putih dan rapi terlihat dengan sangat jelas di bibir laki-laki itu.
__ADS_1
"Sama Bunda dan Mami dulu, aku harus segera ke ruang tamu. Jangan sampai Papi nanti malah memarahiku, dan nanti kalau ada apa-apa panggil saja suamimu ini." Sesaat setelah menjawab Agna, Darren langsung saja pergi begitu saja karena jika ia berlama-lama di sana pasti Agna akan mengatakan yang sebenarnya kenapa Nawa bisa menangis seperti yang tadi itu. Membuat laki-laki itu memilih pergi untuk mencari aman saja.
"Sama Mami dan Bunda saja, biarkan Papanya Nawa pergi. Mungkin memang benar ada masalah yang sangat serius yang akan mereka bahas," kata Alea memberikan pengertian pada Agna. Sambil terdengar bersenandung kecil berharap supaya cucu semata wayangnya akan memejamkan mata.
"Iya Na, mungkin saja Darren, Papi dan Ayahmu ada hal yang harus mereka bahas," sahut Ranum ikut menimpali sambil duduk di bibir ranjang tepat di sebelah Agna. "Sekarang kamu hanya perlu istirahat saja, supaya kamu nggak stres biar asi kamu lancar karena jika kamu stres maka asi-mu akan seret. Pasti kamu sudah mengerti dengan apa yang Bunda maksud ini." Ranum memang seringkali mengingatkan putrinya masalah ini. Sewaktu Nawa masih di dalam perut Agna, sampai bayi laki-laki itu sudah lahir ke dunia ini. Ranum tidak henti-hentinya mengingatkan masalah itu pada putrinya.
"Asi-ku banjir Bun, bukan seret. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Mana Om suami lupa beli pompa asinya lagi." Agna terlihat menaruh telapak tangannya di kedua boba jumbonya.
"Bunda ambilin handuk kecil dulu, supaya baju kamu nggak basah." Ranum berniat ingin mengambil handuk untuk Agna. "Bunda juga akan pulang mengambil pompa asi yang Bunda sengaja beli untukmu. Sekarang kamu cukup diam saja disini."
__ADS_1
"Bun, baju dan b ra-ku sudah basah. Jadi, untuk apa Bunda ambil handuk kecil? Aku rasa itu percuma saja. Mana Nawa mudah tersedak karena asiku banjir ." Agna menunduk demi melihat dua boba jumbonya yang terus saja mengeluarkan cairan putih. "Bunda juga nggak usah pulang, bia nanti Om suami yang mengambilnya," sambung Agna.