Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Mual


__ADS_3

"Sekarang Nawa sudah genap satu tahun, menurutmu kita harus merayakan ulang tahunnya di mana? Apa istriku yang cantik ini punya tempat yang rekomen?" Rupanya seiring berjalannya waktu kini Nawa, putra dari Agna dan Darren sudah genap satu tahun. Membuat Darren harus mengadakan acara untuk putra kesayangan mereka. "Kok malah diam saja tidak menjawab suamimu ini, apa ada yang salah dengan kalimatku yang tadi?"


Agna menggeleng kuat. "Tidak ada yang salah, aku hanya mengingat almarhum putri kita yang mungkin saja sudah menjadi penghuni surga saat ini. Apa Om suami tidak merindukan putri kita?"


"Aruna Annya Nazeela, mana mungkin aku akan melupakan anak kita itu Sayang meskipun kita sudah beda alam. Seorang bayi perempuan yang pertama kali membuatku patah hati." Darren mengelus rambut Agna sambil menghirup aroma rambut hitam dan panjang milik sang istri. "Percayalah, Aruna saat ini sudah bahagia di sana bersama bidadari-bidadari surga. Ditambah Mami juga pasti sedang bersamanya."


"Om suami benar, tapi andai saja dia masih hidup pasti dia dan Nawa akan saling berebutan mainan sekarang. Alangkah lucunya moment-moment seperti itu. Namun, Tuhan jauh lebih sayang dengan Aruna sehingga memilih untuk memanggil Aruna terlebih dahulu." Wajah Aruna kini terbayang-bayang di pelupuk mata Agna. "Oh anakku sayang, anakku malang. Maafkan Mama yang tidak bisa menjagamu, sehingga kejadian naas itu membuat nyawamu melayang. Kamu tau Aruna, betapa Mama sangat-sangat merindukanmu. Mama juga ingin bertemu denganmu walau hanya lewat mimpi. Bagi Mama itu tidak menjadi masalah yang terpenting kamu hadir dalam bunga tidur Mamamu ini."


Darren terdiam karena jujur saja ia juga sangat merindukan putrinya yang telah tiada itu. Tapi untuk bersedih di depan Agna ia tidak ingin karena Darren takut jika saja nanti Agna semakin merasa bersalah atas meninggalnya putri mereka.


"Apa sebaiknya kita pergi ke makamnya saja bagaimana?" Darren terdengar mengajak Agna untuk pergi ke pemakaman. "Hanya itu satu-satunya cara untuk mengobati rindu di dalam dada kita Sayang."


"Om suami benar, kita harus pergi ke pemakaman karena aku ingin membawakan putri kita itu bunga yang sangat banyak. Supaya Aruna tahu kalau kita berdua sangat menyayanginya. Meskipun putri kita itu sudah tiada."Β 


"Aruna tetap hidup di dalam jiwa kita Sayang, dia tidak pernah meninggalkan kita. Buktinya kita selalu ingat dengannya meskipun kita sudah beda alam dengan putri kecil kesayangan semua keluarga kita." Darren tidak ingin melihat Agna bersedih. Oleh karena itu, ia berusaha untuk menghibur Agna meskipun dengan kalimat itu-itu saja. Setiap wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu merindukan buah hati mereka yang sudah beda alam. "Sekarang Sayang siap-siap, kita pergi ke pemakanan karena mungkin nanti agak siangan dikit kita akan sangat sibuk. Mengingat acara ulang tahun Nawa harus dirayakan untuk yang pertama kalinya."


"Nawa harus ikut ke pemakaman Kakaknya, supaya anak kita tahu bahwa dia memiliki Kakak meskipun sudah tiada." Agna rupanya sangat setuju jika sekarang mereka akan pergi ke pemakanan. "Hanya kita bertiga, Bi Maria biarkan dia di rumah untuk menjaga Papi."

__ADS_1


"Iya Sayang, hanya kita berdua. Kalau begitu aku mau memberitahu Bi Maria dulu. Supaya dia bisa memandikan Nawa sebelum kita pergi."


"Pergilah, tapi jangan lama-lama karena entah mengapa aku hari ini sangat ingin sekali mandi berdua dengan Om suami." Agna menatap Darren, ia sangat berharap jika saja suaminya itu mau mandi bersama dengannya.


"Deal, kita mandi berdua. Sayang tunggu saja aku karena diri ini tidak akan mungkin lama," sahut Darren yang kini terlihat pergi setelah ia mengatakan itu tadi.Β 


Kini hanya tinggal Agna saja di dalam kamar itu, ia terlihat meneteskan air mata pada saat ia melihat ke arah dinding tembok yang ada bingkai foto milik Aruna. Foto Aruna dan Nawa telah di edit sedemikian rupa supaya terlihat estetik.


"Bunda sangat merindukanmu Aruna. Tenang di alam sana ya, Sayang. Mama akan selalu mengirimkan do'a untukmu," gumam Agna pelan sambil mengusap lelehan air matanya.


***


"Sayang, Mama sama Papa datang lagi nih. Tapi sekarang Nawa juga ikut. Adek kamu. Katanya dia juga kangen sama Kakaknya." Agna mencium nisan milik Aruna beberapa kali. "Maafkan Mama yang tidak bisa menjenguk Aruna setiap hari karena Mama dan Papa sangat sibuk. Semoga kamu tidak marah kepada kedua orang tuamu ini." Agna kini menuangkan air ke atas kuburan yang tadi sudah ia taburi bunga. "Aruna, meski kita sudah beda alam sayang. Percayalah di hati Mama dan Papa kamu itu masih tetap hidup."


"Mm ... a ... ma ...." Terdengar Nawa berceloteh mamanggil Agna. "Pa ... pa ...." Kini Nawa memanggil Darren yang saat ini sedang menggendongnya.


"Stt, Mama masih melepas rindu dulu. Nawa jangan berisik." Darren berbicara sangat pelan pada saat ia mengatakan itu. "Apa Nawa juga kangen sama Kakak?"

__ADS_1


"Ta ... ta ...." Lagi dan lagi Nawa terus saja berceloteh meski suaranya tidak jelas.


"Ka ... kak, kita ulangi lagi. Ka ... kak. Nanti kalau Nawa sudah besar. Pasti putra Papa ini akan bisa datang sendiri ke rumah Kak Aruna. Iya kan, Nawa gembul." Darren lama-lama menjadi gemas sendiri. Sehingga ia tidak sadar jika saja Agna dari tadi terus saja menutup mulut.


"Giliran Om suami, ayo duduk ajak Nawa. Jangan lupa ajak Aruna juga ngobrol-ngobrol biar putri kita itu tidak iri dengan Nawa." Sambil berdiri Agna mengatakan itu, ia juga terlihat langsung saja menutup mulut serta hidungnya sebab ia merasa sangat mual. "Ayo Om suami duduk, jangan buang-buang waktu. mengingat matahari semakin berada di atas kepala kita." Sesaat setelah mengatakan itu Agna langsung saja mual-mual membuat Darren yang tadi akan duduk kini malah mengurungkan niatnya.


"Sayang kamu kenapa?" Raut wajah Darren begitu sangat panik.


"A-aku ti-tidak apa-apa." Agna terbata-bata. "Sekarang Om suami duduk saja. jangan hiraukan aku yang mungkin saja sedang masuk angin."


"Apa kamu benar-benar baik-baik saja? Padahal wajahmu sangat pucat Sayang. Apa jangan-jangan kamu sakit?" Darren meraba kening Agna. Hanya untuk memastikan kalau istrinya itu baik-baik saja. "Nggak panas, tapi kenapa kamu malah tumben-tumbenan merasa mual?"


"Aku baik, Om suami lanjutkan saja aku akan tetap berdiri di sini." Tepat pada saat kalimatnya usai kini Agna terlihat agak sedikit oleng. Sehingga Darren yang melihat itu semua terlihat sangat panik.


"Sayang, kita harus ke rumah sakit karena sepertinya kamu tidak masuk angin." Darren segera membawa Agna pergi dari sana setelah tadi ia sempat berpamitan pada putrinya.


πŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


Pantengin terus karena Author akan up 3 bab dalam sehari. Author sangat berharap kalian semua tidak akan bosan😊😊 jangan lupa komen dan like. Itu semua dapat menjadi penyemangat buat si Author ini.


__ADS_2