Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Nawa


__ADS_3

Satu minggu kemudian Agna sudah diperbolehkan untuk pulang, dan dimana saat ini wanita itu terlihat sedang memangku sang buah hati sambil duduk di kursi roda yang didorong oleh Darren.


"Bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu?" tanya Darren dengan wajah yang terlihat berseri-seri karena sungguh saat ini laki-laki itu pada akhirnya bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Sangat-sangat bahagia karena sebelumnya aku tidak pernah menyangka kalau saja diriku ini akan menjadi seorang Ibu seperti saat ini," jawab Agna yang terus saja menatap wajah bayinya yang saat ini sedang tertidur pulas di pangkuannya. "Aku juga tidak pernah menyangka kalau jodohku itu, adalah Dosen galak yang sangat aku benci. Bahkan dulu aku sempat berkata bahwa aku tidak akan berjodoh dengan Dosen seperti Om suami," sambung Agna pada saat dirinya mengingat betapa dirinya dulu sangat membenci sosok Darren yang sangat menyebalkan di kedua bola matanya.


Namun, takdir tidak ada yang tahu dimana mahasiswa dan dosen yang sangat saling membenci satu sama lain malah terikat di dalam sebuah pernikahan.


"Jangan mengingat masa lalu, cukup jadikan kenangan saja jangan sampai anak cucu kita nanti sampai tahu karena aku takut kalau saja bisa di tiru oleh mereka," celetuk Darren yang juga merasa bahwa dirinya tidak pernah menyangka jika ia akan sangat menyayangi wanita yang dulu Darren panggil dengan sebutan gadis bar-bar.

__ADS_1


"Ish, Nawa belum besar lho, Om suami sudah malah membahas sampai ke anak cucu," timpal Agna yang tiba-tiba saja malah menjadi membayangkan jika kelak bayi laki-laki yang saat ini sedang ia pangku akan menikah dengan wanita seperti dirinya menikah atas dasar perjodohan. "Nawa harus sukses dulu seperti Papanya, baru dia boleh menikah. Jangan sampai membuat anak orang kelaparan dan kehausan."


"Nawa sang pewaris, untuk apa dia harus capek-capek bekerja?" tanya Darren yang sengaja memancing pemikiran Agna sampai sejauh mana karena yang Darren tahu kalau saja, pemikiran istrinya itu masih dibilang labil meskipun wanita itu sudah berusaha semaksimal mungkin supaya bisa berpikiran dewasa seperti yang terus saja Agna katakan.


"No, Nawa harus mulai dari nol, bukankah Om suami yang berkata, jika kita sengaja tidak menggunakan marga supaya anak-anak kita diperlakukan sama rata seperti anak lain. Lalu kenapa Om suami yang malah berkata seperti itu? Aku tidak suka, jika saja Nawa malah akan menjadi pemalas karena dirinya tahu bahwa dia adalah sang pewaris," kata Agna panjang lebar saat wanita itu menjawab pertanyaan Darren. "Jangan harap aku akan membiarkan Om suami mendidik serta mengajarkan Nawa hal yang tidak aku ingin kan, sama sekali karena itu tidak pantas. Intinya aku mau Nawa berjuang dari nol. Apa sampai sini Om suami paham?"


Darren mengelus pundak Agna, setelah itu ia berbisik di indera pendengaran sang istri.


"Lebay!" seloroh Agna dengan pipi yang sudah merah merona karena entah mengapa hatinya menjadi berbunga-bunga pada saat Darren mengatakan kalimat istri yang paling laki-laki itu sayangi. "Ini di rumah sakit, bagaimana kalau ada yang mendengar kalimat Om suami itu? Pasti mereka akan berpikiran jika sja Dokter Darren atau Papanya Nawa tergolong orang yang sangat lebay dari ribuan orang Om suami ada di dalam kumpulan orang-orang itu."

__ADS_1


"Jangan bahas itu, saat ini rasanya aku ingin membahas tentang membuatkan adik untuk Nawa. Bagaimana apa boleh?" Darren bertanya seperti itu karena ia sengaja. Supaya Agna tahu bahwa dirinya sudah tidak menjadi laki-laki impoten lagi, rupanya Darren sudah benar-benar sembuh total dari sakit yang diderita olehnya selama ini.


"A-apa O-Om su-suami ... sudah sembuh?" Saking gugupnya pada saat bertanya seperti itu Agna sampai terbata-bata.


"Kalau aku belum sembuh, pasti aku tidak akan mengatakan hal itu," jawab Darren sambil meniup kuping Agna, sehingga membuat bulu kuduk ibunya Nawa itu malah berdiri. "Untuk saat ini aku memaklumi, kalau istriku yang cantik ini baru saja selesai di operasi. Jadi, jangan tukut dulu. Anggap saja ini hanya sebagai salah satu kabar yang membahagiakan. Tunggu sampai kamu sembuh baru kita bikin dedek bayi lagi."


"Om suami," panggil Agna pada saat menyadari jika saja orang-orang yang sedang berlalu lalang malah menghentikan langkah kaki pada saat mendengar kalimat Darren.


...****************...

__ADS_1


Buat kakak² yang sudah komen kasih nama masukan buat anaknya Agna dan Darren, terima kasih banyak💜💜💜 tapi karena Agna sudah dari awal maunya Nawa, maka author hanya bisa menuruti🙏🙏buat kakak² jangan pernah bosan buat baca novel acak adulku ini ya😅😅


__ADS_2