Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Mengalah


__ADS_3

Tepat ketika Darren terus saja meminta maaf pada Agna, tiba-tiba saja terdengar suara bel yang berbunyi.


"Itu pasti Darius," kata Darren yang tahu kalau itu si biang kerok, ia juga terlihat melangkahkan kakinya karena ingin membuka pintu itu untuk temannya sebab laki-laki itu ingin memberikan pelajaran untuk Darius. "Itu pasti Darius, si pembuat masalah karena hanya dia yang akan berani datang disaat sudah melakukan kesalahan." Darren tanpa mengatakan pada Agna segera menuju ke pintu.


Namun, pada saat Darren terus saja berjalan, terlihat Darius sudah membuka pintu utama terlebih dahulu karena kebetulan pintu itu tidak di kunci.


"Ren, apa kabar?" Kalimat pertama yang Darius ucapkan adalah menyapa Darren dengan cara menanyakan kabar sang dosen itu. Bukan cuma itu Darius terlihat memperlihatkan deretan giginya karena ia nyengir kuda.


Sepertinya laki-laki yang jago dalam hal IT itu sudah tahu kalau dirinya akan dimarahi habis-habisan oleh Darren, sehingga membuat Darius terus saja tersenyum pepsodent memperlihatkan giginya yang putih.


"Berani juga kamu datang," kata Darren sambil berdecak pinggang. "Rupanya kamu bukan pecundang."


"Ren, aku benar-benar minta maaf padamu karena obat demammu ketuker sama obat punya Rangga." Darius berharap setelah ia mengatakan itu Darren tidak akan marah lagi pada dirinya. "Tadi Rangga memarahiku, jangan tambah lagi memarahiku kasihanilah aku karena aku yang ceroboh ini."


"Minta maaf pada Agna, karena dia pikir ini hanya akal-akalanku saja. Lihatlah dia dari tadi tidak mau bicara padaku," ucap Darren yang menatap Darius dingin. "Ayo minta maaf dan jelaskan semuanya pada Agna, kalau ini semua bisa terjadi karena murni kesalahanmu bukan kesalahanku."


Darius menelan salivanya, karena laki-laki itu agak sedikit takut jika saja dirinya harus menjelaskan semuanya pada Agna, wanita yang ia tahu belakangan ini sering marah-marah tidak jelas bahkan sering ngambek juga.


"Ayo minta maaf pada Agna, Darius, kamu jangan diam saja disini." Darren memelototi Darius karena sahabat karibnya itu terlihat hanya diam saja dari tadi.


"Aku harus mengatakan apa pada Agna?" tanya Darius.


"Kasih tahu dia kalau ini murni kesakahanmu bukan kesalahanku!" jawab Darren ketus, karena lama-lama berbicara dengan Darius membuat Darren merasa kalau tensinya naik.


"Bukankah seharusnya kamu berterima kasih padaku, karena gara-gara obat itu yang ketuker kamu sekarang jadi sembuh. Tidak demam lagi juga tidak sakit perut," celetuk Darius tanpa ada rasa berdosa sedikitpun. "Jadi, aku tidak merasa terlalu bersalah karena kesalahanku bisa membuatmu sembuh. Sepertinya obat itu lebih manjur daripada obat demam untuk mengatasimu," sambung Darius.


Darren yang mendengar itu menarik tangan sahabatnya itu. "Lebih baik aku masih sakit, daripada Agna malah menjadi mogok bicara padaku hanya gara-gara kesalahan yang kamu lakukan, tapi malah aku yang kena getahnya. Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu ternyata isi otakmu sangatlah licik, Dar."

__ADS_1


"Iya, aku tahu ini kesalahanku. Tapi apakah aku bisa memutar waktu supaya obat itu tidak kamu minum?" tanya Darius yang saat ini akan membela dirinya. Meskipun laki-laki itu tahu kalau saat ini dirinya memang benar-benar bersalah dan rupanya Darius tahu kalau Darren pasti sudah meminum obat itu. Sehingga membuat Darius mengatakan itu juga pada Darren. "Jadi, disini sudah sangat jelas aku yang bersalah. Aku juga meminta maaf padamu terutama meminta maaf juga pada Agana, ibu hamil yang kadang mood-nya sudah sekali di tebak."


"Ngomong di depan Agna langsung, jangan malah disini terus, karena Agna tidak akan mungkin bisa mendengarmu. Sekarang sana minta maaf pada Agna," ucap Darren yang sekarang mendorong Darius supaya laki-laki itu berjalan ke arah meja makan dimana Agna masih terlihat santai memakan makan malam.


Seolah-olah juga Agna terlihat tidak peduli dengan percakapan Darren dan Darius padahal wanita hamil itu dari tadi terus saja menguping, dengan mulut yang tidak ada capek-capeknya terus saja mengunyah.


"Na," panggil Darius yang sekarang berjalan ke arah Agna. "Ini salahku. Jadi, aku mau minta maaf padamu dan jangan salahkan Darren lagi, sebab ini terjadi benar-benar karena kecerobohanku." Darius berharap setelah mengatakan itu Agna akan luluh, tapi nyatanya salah wanita itu malah tidak mau berbicara juga dengan Darius. Meskipun Darius sudah benar-benar meminta maaf seperti saat ini.


"Minta maaf secara sungguh-sungguh," kata Darren menepuk pundak Darius. "Supaya Agna mau memaafkanmu juga memaafkan aku," sambung Darren.


"Apa aku harus bersimpuh di lantai ini bahkan berguling-guling supaya kamu tahu kalau aku ini bersungguh-sungguh dalam meminta maaf pada Agna?" Darius bertanya dengan mata yang terus saja tertuju pada Agna yang mem*tong steak. "Jika aku sudah meminta maaf seperti ini, lalu Agna tidak mau memaafkanku ... itu bukan urusanku lagi melinkan urusanmu, Ren, yang harus membuat istrimu percaya. Toh, lagipula tidak apa-apa kalian bercocok tanam wajar-wajar saja karena kalian adalah pasangan suami istri, bukan masih pacaran yang harus malu-malu melakukan hal itu lagi."


"Kamu memang benar-benar kurang ajar Darius, bisa-bisanya kamu mengatakan itu. Apa kamu ini mau memperkeruh keadaan?" tanya Darren yang tidak menyangka Darius malah akan mengatakan itu semua.


"Ini fakta Ren, masa kalian sudah menikah tiga bulan tapi untuk melakukan ibadah seperti itu saja harus di pancing dulu dengan obat per4ngsang. Kalian ini normal apa gimana?" Mulut Darius lama-lama suka benar. Gimana para pembaca? Apakah kalimat Darius benar apa adanya? Kalau iya tolong di komen.


"Sama saja!" ketus Agna sebelum wanita itu membanting piring yang masih berisi steak, karena wanita itu kesal mendengar perkataan Darius. "Sama-sama licik!" sambung wanita itu sebelum ia benar-benar pergi dari sana.


Sedangkan Darius menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pasangan suami istri paling aneh yang aku temui, masa gara-gara obat itu mereka seperti ini. Sungguh aku tidak bisa berkata apa-apa lagi." Darius lalu terlihat duduk karena kebetulan laki-laki itu sangatlah lapar. Jadi, ia memutuskan untuk makan malam dulu di rumah Darren sebelum ia pulang.


***


"Agna, jangan marah lagi ya," kata Darren pada saat melihat Agna sedang mengotak atik laptop di atas ranjang.


Agna tidak menimpali wanita itu malah terlihat semakin fokus menatap benda segi empat di depannya saat ini.


"Agna, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya." Darren sekarang duduk di bibir ranjang. "Jangan marah lagi, please ...," ucap Darren.

__ADS_1


Agna tiba-tiba saja memiliki ide yang sangat luar biasa. Sehingga membuatnya kini malah berdehem beberapa kali.


"Hem, hem ... apa Om suami benar-benar tulus meminta maaf padaku?" tanya Agna yang sekarang menutup laptopnya.


"Sangat tulus Agna. Jadi, aku mohon maafkan aku." Darren menjawab sambil menatap sang istri.


"Aku maafkan asal kerjakan ini dulu untukku." Agna memberikan laptopnya pada Darren. "Kerjakan soal yang tadi siang Miss Kara berikan padaku. Maka aku akan langsung memaafkanmu, Om suami." Agna tersenyum manis pada saat ia mengatakan itu.


Darren mengambil leptop sang istri. "Apa ini yang dimaksud dengan sogokan? Mau memaafkan tapi aku harus mengerjakan tugasmu."


"Harus biar kita sama-sama enak." Agna dengan santainya mengatakan itu. "Sekarang kerjakan Om Suami, biar aku memaafkanmu." Agna menaik turunkan alisnya.


"Lebih baik kamu jangan maafkan aku, daripada aku harus mengerjakan tugasmu ini, karena ini sama artinya aku akan membiarkanmu bodoh selama-lamanya. Gara-gara mengerjakan tugasmu ini dari Miss Kara." Apa yang dikatakan oleh Darren memang benar apa adanya dimana laki-laki itu tidak akan mungkin mengerjakan tugas Agna yang diberikan oleh Kara. "Aku hanya akan membantumu cara mengerjakannya saja, tapi bukan berarti kamu tidak akan menggunakan otakmu untuk berpikir. Bukan juga aku yang memikirkan jawabannya melainkan harus kamu."


"Didikanmu sangat luar biasa sekali wahai Dosen mesum!" Agna menatap sinis Darren hanya gara-gara permintaannya ditolak mentah-mentah oleh sang suami. "Aku merajuk lagi!" teriak Agna sambil menghentak-hentakkan kakinya di kasur dengan sangat keras.


"Dasar anak kecil." Darren lalu memegangi kaki Agna supaya wanita hamil itu tidak menghentak-hentakkan kakinya lagi. Setelah tadi Darren sempat menaruh laptop Agna di atas nakas. "Ingat di parutmu ada bayi yang sedang tertidur lelap. Jadi, jangan malah kamu usik dengan tindakanmu yang seperti ini kasihan bayi kita."


"Ini semua gara-gara kamu yang tidak mau mengerjakan tugasku," kata Agna.


"Aku bukan tidak mau Agna, tapi aku hanya tidak ingin kamu akan menjadi bodoh gara-gara menyuruhku yang akan mengerjakan tugasmu. Cobalah untuk mengerti jangan terus-terusan seperti ini." Darren berharap supaya wanita hamil itu akan paham dengan apa yang saat ini laki-laki itu katakan.


"Kalau satu kali mungkin saja tidak apa-apa. Ayolah Om suami." Agna malah merengek seperti anak kecil.


"Tidak, karena aku tidak mau mengajarimu hal yang salah." lagi-lagi penolakan itu keluar dari mulut Darren karena laki-laki itu benar-benar tidak akan mau mengerjakan tugas milik Agna.


"Pelit!" katus Agna sebelum wanita hamil itu terlihat malah memainkan ponselnya. "Lebih baik aku scrol sosmed daripada harus mengerjakan tugas si Miss kecentilan itu."

__ADS_1


Darren pada saat itu juga langsung saja merebut ponsel milik Agna. "Kerjakan sekarang Agna, nanti aku kasih contoh di setiap soal-soal itu. Jangan malah scrol sosmed. Itu hanya akan membuatmu semakin malas untuk belajar."


Agna mendengkus kesal sambil meletakkan ponselnya. "Baiklah, tidak apa-apa mengalah untuk kali ini saja. Tapi untuk hari-hari yang akan datang tidak ada kata mengalah lagi," ucap Agna pelan.


__ADS_2