
Darren yang merasa bahwa Agna saat ini sedang masuk angin bergegas langsung saja berlari ingin mengambil obat untuk sang istri.
Namun, gara-gara suara wanita itu sudah tidak terdengar lagi membuat Darren lagi-lagi menghentikan langkah kakinya untuk saat ini.
"Agna." Darren berbalik karena laki-laki itu ingin melihat keadaan wanita itu sekarang, tetapi pada saat Darren sudah melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja ia malah melihat Agna keluar dari dalam kamar mandi dengan langkah yang terhuyung-huyung. "Agna," panggil laki-laki itu pada sang istri.
"Kepalaku pusing." Sesaat setelah mengatakan itu Agna malah langsung saja bersadar pada dinding tembok, karena sungguh saat ini kepala wanita itu malah semakin berdenyut nyeri. "Aku sangat pusing," gumam wanita itu pelan.
Darren yang takut terjadi apa-apa dengan Agna, langsung saja berlari ke arah wanita itu. "Kita harus segera ke rumah sakit, Agna." Darren saat ini terlihat sangat panik, saking paniknya laki-laki itu malah tidak sengaja menabrak meja makan. Sehingga menyebabkan tangan laki-laki itu terasa sangat sakit.
Namun, Darren tidak mempedulikan itu semua karena saat ini bagi laki-laki itu, ia harus cepat-cepat membawa sang istri untuk pergi ke rumah sakit.
"Jangan menyentuhku!" ketus Agna yang kini malah memdorong Darren pada saat suaminya itu ingin membantunya untuk berjalan. "Aku bisa sendiri." Meski terasa sangat pusing dan juga mau muntah wanita itu terus saja berusaha untuk melangkahkan kakinya. Tetapi, baru saja Agna mulai melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja wanita itu malah jatuh pingsan. Sehingga membuat Darren langsung saja menangkap tubuh sang istri dengan sigap.
"Agna!" seru Darren sambil menggendong wanita itu. "Apa yang sebenarnya terjadi, tidak mungkin anak ini masuk angin lalu bisa pingsan seperti ini." Darren kali ini merasa benar-benar ada yang tidak beres dengan sang istri. "Aku harus segera membawanya ke rumah sakit." Laki-laki itu lalu membawa tubuh lemas Agna untuk keluar dari rumah itu karena saat ini ia harus membawa Agna ke rumah sakit. Darren juga sempat melihat wajah Agna yang begitu sangat pucat pasi.
"Apakah dia memiliki penyakit yang sangat serius selama ini, tapi aku tidak menyadarinya bahkan aku tidak tahu?" Dengan perasaan yang tidak menentu Darren terus saja berlari membawa tubuh Agna, supaya dirinya cepat sampai di halaman rumahnya karena kebetulan laki-laki itu belum memasukkan mobilnya ke dalam garasi.
Darren juga beberapa kali menatap wajah sang istri sambil terus saja berlari. "Semoga saja kamu tidak apa-apa, wanita keras kepala dan sangat egois." Melihat Agna pingsan Darren tiba-tiba saja merasa bersalah, karena ia merasa kalau mungkin saja Agna pingsan gara-gara dirinya juga. "Jangan sampai Agna memiliki penyakit yang serius." gumam Darren lirih.
***
__ADS_1
Setiba di rumah sakit Darren terus saja berlari sambil membawa tubuh sang istri dalam gendongannya.
"Sus, tolong!" seru Darren saat melihat salah satu suster yang sedang berjalan di lorong rumah sakit itu. Tanpa Darren tahu bahwa suster itu adalah Lestari.
"Dokter Darren." Lestari berbalik sehingga wanita itu saat ini bisa melihat Darren. "Anda membawa siapa?" tanya suster itu sambil berusaha menebak-nebak di dalam benaknya.
"Dimana ruangan kosong?" Darren malah mengabaikan pertanyaan Lestari. "Les, dimana ruangan yang kosong?" Darren bertanya lagi disaat suster itu malah diam saja tidak menjawabnya.
"Les, dimana?" Darren yang tidak dijawab malah melewati Lestari begitu saja, karena saat ini laki-laki itu harus segera membawa sang istri ke ruangan yang kosong. Sebab Darren tahu rumah sakit itu sempat penuh saking banyaknya pasien yang memang belakangan ini sakit gara-gara efek cuaca yang berubah-ubah. Membuat Darren terus saja menanyakan dimana ruangan yang kosong. Tetapi, suster itu malah tidak mau menjawabnya sehingga saat ini laki-laki itu yang akan mencarikan dirinya sendiri ruangan itu.
"Dok, ada di ruangan VVIP kamar melati nomor 15!" Suara Lestari terdengar setengah berteriak memberitahu ruangan yang kosong pada Darren.
"Panggilkan aku Dokter Isabela, dan segera suruh dia ke ruangan yang tadi kamu sebut!" sahut Darren sebelum laki-laki itu berbelok ke sebelah kiri menuju ruangan VVIP yang kosong.
***
Namun, tidak lama tiba-tiba saja Hugo dan Alea datang dengan wajah panik mereka masing-masing.
"Ren, kenapa menantu Mami bisa pingsan?" tanya Alea yang saat ini begitu panik, karena tadi Darren sempat menghubunginya.
"Aku tidak tahu Mi, karena Dokter Isabel belum keluar, nanti kita tunggu saja," jawab Darren yang sekarang malah mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Duduk dulu, tenangkan pikiranmu Darren semoga saja Agna tidak memiliki penyakit yang serius." Alea tahu bahwa saat ini putranya itu serang sangat mengkhawatirkan Agna. "Ren, duduk 'Nak." Alea memegang pergelangan tangan putranya.
"Mi, aku tidak bisa duduk dengan tenang jika aku belum tahu bagaimana keadaan Agna saat ini dan sakit apa dia. Sehingga membuatnya tiba-tiba malah menjadi pingsan," timpal Darren, dan pada saat laki-laki itu terus saja berbicara dengan sang ibu.
Terlihat dokter yang bernama Isabela itu keluar dari dalam ruangan itu dengan raut wajah yang berhias senyum.
"Dokter Darren mari ikut dengan saya," kata Isabela. "Karena ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada Anda tentang kondisi pasien yang beranama Agna," sambung Isabela.
Darren dengan sangat cepat megangguk. "Ayo Dok," ajak Darren. "Mami sama Papi tunggu dulu disini sebentar." Darren lalu terlihat mengikuti dokter itu sesaat setelah ia mengatakan itu.
***
"Kalau boleh tahu wanita yang tadi saya periksa itu siapa?" tanya Isabela, wanita yang juga selama ini menaruh rasa pada Darren.
"Dia, istriku," jawab Darren dengan kalimat penuh penekanan, laki-laki itu juga merasa sudah saatnya dirinya mengakui Agna sebagai istrinya.
"Saya serius Dok, Anda jangan malah bercanda seperti ini," ucap Isabela yang tidak percaya jika Agna adalah istri Darren. "Saya ingin Anda serius, karena ada kabar yang sangat menyenangkan."
Darren yang merasa heran langsung saja bertanya, "Katakan saja Dok, sakit apa yang di derita oleh istriku?"
"Dok, jangan bercanda, mana mungkin wanita itu adalah istri Anda. Saya tidak percaya kalau selera Anda tidak sesuai dengan apa yang selama ini saya pikirkan."
__ADS_1
"Dok, tinggal jawab saja kenapa kamu sangat susah sekali. Jangan membuatku terus-terusan berpikiran yang tidak-tidak." Darren menatap Isabela.
"Periksa saja ke Dokter kandungan, supaya Anda tahu, Dok." Isabela yang tadi berhias senyum kini malah menatap Darren sedikit sinis. Hanya gara-gara wanita itu merasa sangat kecewa karena Darren rupanya sudah menikah. "Saya permisi dulu." Isabela lalu pergi begitu saja.