
"Aku minta maaf." Meski Agna terlihat enggan menatap Darren. Tapi laki-laki itu terdengar meminta maaf ke pada sang istri sudah berulang-ulang kali.
"Cukup, aku ingin ikut ke rumah sakit membawa Nawa karena Mami. Bukan semata-mata karena laki-laki penghianat sepertimu." Sesaat setelah mengatakan itu Agna menatap Darren sinis. Masih seperti tatapan yang sebelumnya, rupanya ibunya Nawa itu langsung saja ingin pergi ke rumah sakit pada saat Darren mengatakan kalau saja Alea ingin bertemu dengan dirinya juga Nawa.
"Sayang, mau sampai kapan kamu begini? Aku ini suamimu yang harus kamu percaya, dan tidakkah kamu melihat sebuah kejujuran dari kedua bola mataku ini?" Darren sesekali mencuri pandang ke arah samping dimana Agna masih saja menatapnya.
"Turunkan saja aku dan Nawa di depan sana tepat di lampu merah itu." Agna yang mulai merasa risih pada sang suami malah meminta untuk di turunkan di lampu merah. "Aku bisa pergi ke rumah sakit sendiri, ayo lajukan mobilnya lebih cepat nanti keburu lampunya hijau."
Darren terdengar menghela nafas, ia lupa bahwa istrinya adalah wanita yang keras kepala.
"Papi bisa saja me meng gal kepalaku, jika dia tahu kalau saja aku ini membiarkanmu dan Nawa turun dari dalam mobil ini. Ayolah sayang, berhenti bersikap seperti ini. Sungguh aku tidak bisa tenang."
"Turunkan aku!" Suara Agna mulai meninggi sehingga membuat Nawa malah menangis karena Nawa terkejut mendengar sura sang ibu.
"Astaga, sayang. Apa yang kamu lakukan? lihatlah putra kita sekarang malah menangis." Darren dengan gerakan cepat memberikan Nawa sebotol susu. Supaya putranya itu berhenti menangis. "Cup ... cup, sayang ini dotnya. Jangan nangis lagi. Maafkan Mama yang tadi suaranya sempat meninggi."
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kamu." Agna membuang muka ke arah luar jendela. "Aku minta turun tidak kamu izinkan, padahal aku muak mendengar kata maafmu itu."
"Sayang, mana tutur bahasamu yang halus dan lembut itu? kenapa malah kembali seperti saat pertama kali kita bertemu?" Darren sengaja mengatakan itu semua karena ia ingin mengingatkan pada Agna bagaimana dulu ia dan wanita itu di pertemukan.
"Sudah hilang bersamaan dengan penghianatan yang kamu lakukan padaku." Agna menjawab sambil menepuk-nepuk lengan Nawa dengan pelan. Berharap supaya putranya itu kembali lagi memejamkan mata.
"Darius akan membawa kebenaran. Semoga setelah itu kamu akan percaya lagi pada suamimu ini." Darren hanya mengatakan itu setelahnya laki-laki itu hanya diam saja. Raut wajahnya juga terlihat menunjukkan kesedihan.
***
"Tidak mudah membujuk menantu Papi di saat dia sedang merajuk seperti saat ini," bisik Darren di telinga sang ayah.
Darius hanya bisa mengangguk mendengar itu sambil beralih menatap Agna yang menggendong Nawa.
"Agna, sini Nawa sama Papi saja dulu. Kamu ajak Darren masuk ke dalam ruangan Mami karena dari tadi Mami kalian terus saja mencari kalian." Tangan Darius terulur ingin menggendong cucu semata wayangnya.
__ADS_1
"Apa Nawa nggk boleh masuk, Pi?"
"Bukan tidak boleh, tapi saat ini yang di perbolehkan masuk hanya dua orang saja. Nanti kalau Mami mau melihat Nawa kamu suruh saja Darren keluar," jawab Hugo.
Agna mengangguk tanda mengerti, ia juga memberikan Nawa pada Hugo. Tapi baru saja Nawa berada di tangan Hugo tiba-tiba saja Ranum malah terlihat keluar dari kamar rawat inap Alea dengan air mata yang terus saja mengalir deras.
"Mami kalian keritis." Suara tangisan Ranum semakin terdengar jelas.
Bruk
Agna langsung saja terduduk lemas di lantai rumah sakit itu pada saat ia mendengar Alea saat ini dalam keadaan kritis.
"Mami." Lirih Agna.
💜💜
__ADS_1
Maafkan Author yang sering menghilang ini🙏🙏kendalanya hanya satu. Tidak ada kuota. Sekali lagi maaf para pembaca setia Ayuza🥺