Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Ingin Menikah Lagi


__ADS_3

Sejak kejadian satu minggu yang lalu kini Agna lebih banyak diam, ia juga lebih sering melamun tidak seperti hari-hari sebelumnya. Sehingga membuat Ranum merasa sangat khawatir tentang putrinya yang saat ini seperti ini


"Agna Sayang, mau sampai kapan kamu begini terus?" tanya Ranum pada saat wanita itu membawakan makan malam untuk sang putri. "Agna sayang ...," panggil Ranum lembut.


"Bunda, aku mau makan asam jawa." Agna tiba-tiba saja malah mengatakan kalau dirinya mau memakan asam jawa.


Ranum sedikit tersentak kaget langsung saja melotot sempurna karena kali ini Agna tidak diam saja melainkan sudah mau berkomunikasi lagi dengan dirinya. Membuat Ranum merasa sangat senang. Akan tetapi, yang membuat Ranum merasa aneh seta heran karena permintaan Agna yang ingin memakan asam jawa.


"Apa kamu serius mau makan asam jawa, Sayang?" Ranum bertanya lagi hanya untuk sekedar memastikan saja. Bahwa saat ini dirinya tidak salah dengar.


Agna terlihat mengangguk. "Aku mau makan asam jawa yang dicocol gula pasir pasti enak."


Ranum terdiam karena dulu sewaktu dirinya mengindam anak ketiga dirinya sempat ingin memakan asam jawa yang juga dicocol gula pasir. Sehingga membuat wanita itu sedikit merasa heran karena yang ia tahu juga kalau saat ini putrinya tidak sedang mengandung.


"Calon cucu Bunda yang mau." Kalimat Agna malah terdengar semakin ngawur di indera pendengaran Ranum. "Suruh Ayah yang cari asam jawanya, kalau Bunda temani aku disini." Agna menepuk kasur menyuruh Ranum untuk duduk di sebelahnya saat ini. "Aku mau cerita tentang calon cucu Bunda yang pasti sangat mirip denganku," kata Agna tersenyum simpul.


Ranum menggeleng dengan sangat kuat. "Sayang, bayi kamu sudah tidak ada, itu artinya di dalam sini tidak ada bayi lagi." Ranum yang sudah duduk di sebelah putrinya meraba perut Agna. "Sekali lagi Bunda katakan kalau disini sudah tidak ada bayi lagi. Jadi, Agna jangan mengatakan itu terus-terusan." Hancur berkeping-keping hati Ranum pada saat dirinya harus mengatakan itu pada sang putri, karena wanita itu menjadi mengingat bagaimana dulu ia sempat merasa bahagia ketika mengetahui bahwa Agna hamil, karena itu tandanya ia akan segera memiliki cucu.


Tapi sekarang harapan itu sudah tinggal kenangan saja bagi dirinya yang memang sudah mendambakan cucu dari Agna, satu-satunya anak perempuannya.


"Bunda, tolong percaya sama aku kalau bayiku masih berkembang dengan baik di dalam sini." Pucat, letih dan lesu itu dapat digambarkan wajah Agna saat ini ketika wanita itu terus-terusan berusaha meyakinkan sang ibu untuk saat ini. "Kalau Bunda tidak percaya sekarang kita periksa saja ke Dokter kandungan, pasti Dokter itu akan mengatakan bahwa aku ini tidak sedang berbohong."


Ranum langsung saja memeluk Agna, karena wanita itu pikir hanya dengan cara seperti ini ia akan menenangkan putrinya itu. Sehingga detik berikutnya suara tangisan Ranum juga Agna mulai terdengar sangat menyedihkan.

__ADS_1


***


Sedangkan di ruang tamu terlihat Hugo dan Al sedang berbicara empat mata.


"Saya benar-benar minta maaf Pak Al, atas apa yang sudah Darren lakukan." Hugo terus saja mengatakan itu jika pria paruh baya itu datang kerumah Al hanya untuk meminta maaf. "Saya tidak tahu harus melakukan apalagi supaya Darren mau rujuk dengan Agna, berhubung ini baru satu minggu mereka bercerai." Hugo memang hampir setiap hari datang hanya untuk menanyakan kabar Agna, karena pria paruh baya itu tahu kalau saja Agna mengalami depresi.


"Pak, biarkan dulu seperti ini karena kita tidak bisa memaksakan siapapun. Apalagi ini menyangkut masalah hati. Cukup kita sebagai orang tua harus memaklumi serta memahami situasi saat ini yang seperti apa. Jangan hanya kita saja yang menginginkan putra dan putri kita rujuk, sedangkan mereka berdua mungkin saja sedang berusaha mengobati luka mereka masing-masing," kata Al panjang kali lebar. "Seperti kata kita yang tadi, bahwa tugas kita kerang harus berdoa untuk putri dan putra kita, supaya pintu hati mereka akan terbuka maka dengan begitu. Darren maupan Agna akan bersama lagi jika garis takdir mereka mengatakan kalau mereka akan tetap bersama sampai akhir hayat," sambung Al yang sudah sering kali diajarkan bersikap bijak pada masalah apa saja yang menimpa keluarganya.


"Ini semua salah putra saya." Hugo menunduk karena dirinya merasa gagal dalam mendidik Darren. "Karena saya tidak mampu berikan contoh yang baik untuk Darren, sehingga masalah seperti ini pada akhirnya terjadi juga."


Al menepuk pundak Hugo dengan pelan. "Sudahlah Pak Hugo, cukup kita berpegang teguh pada kalimat jodoh tidak akan pernah kemana. Dengan cara begitu Bapak sudah menyerahkan semua urusan pada yang diatas. Sang maha pendengar juga maha melihat." Al sama sekali tidak merasa marah pada Hugo, karena ia yakin bahwa pria paruh baya itu sudah mengajari Darren semua hal. Sehingga Al hanya merasa kecewa saja pada Darren.


"Jujur saja Pak Hugo, bahwa saya ini sangat-sangat merasa kecewa pada putra Bapak, tapi apa boleh buat saya tidak akan mungkin menyuruhnya untuk jangan gegabah. Mengambil keputusan dalam keadaan sedang marah." Al mengatakan itu supaya Hugo tahu bahwa dirinya benar-benar kecewa pada Darren.


Meskipun Agna sama sekali tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk Hugo, kecuali bertemu dengan kedua orang tuanya Agna baru tidak akan menolak.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu Pak Al, dan jangan lupa titipkan salam saya pada Agna," ucap Hugo yang sekarang berpamitan untuk pulang.


Al merespon Hugo dengan anggukan kecil serta senyum simpul pada pria paruh baya itu.


***


"Ren, habis dari mana kamu?" Alea bertanya pada saat wanita paruh baya itu melihat putranya yang tumben-tumbenan datang ke rumah utama dengan penampilan yang sangat acak-acakan.

__ADS_1


"Papi mana?" Darren bertanya balik sebelum ia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah kedua orang tuanya.


"Papi sedang pergi ke rumah Agna, memangnya kenapa kamu kok tumben-tumbenan mencari Papi kamu?" Alea melipat kembali majalah yang saat ini wanita itu baca, karena melihat putranya berpenampilan seperti ini membuat Alea merasa kasihan pada putranya.


Mendengar sang ayah sedang pergi ke rumah Agna, Darren pada akhirnya melangkahkan kakinya untuk masuk.


"Ren, kata Darius kamu sudah satu minggu ini tidak pergi mengajar, juga tidak pergi ke rumah sakit. Apa benar begitu?" tanya Alea yang sekarang melihat Darren masuk.


"Aku ingin menikah," kata Darren tiba-tiba. Bukannya menjawab apa yang tadi Alea tanyakan pada dirinya. "Aku ingin menikah dengan wanita pilihanku sendiri bukan main dijodoh-jodohkan. Jika pada ujung-ujungnya malah akan menjadi seperti ini."


"Ren, kamu tidak mabuk kan, Nak?" Alea sampai terlihat mengendus-ngendus baju sang putra, karena ia pikir kalau saja saat ini Darren sedang dalam pengaruh minuman keras sehingga membuat laki-laki itu berkata seperti itu saat ini. "Kamu itu baru satu minggu bercerai dengan Agna, masa iddah kamu saja belum berakhir masa kamu mau menikah lagi?" Alea menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil terdengar menghela nafas kini wanita itu tidak mengerti apa maksud dan tujuan Darren.


"Mi, aku benar-benar ingin menikah, karena bayang-bayang Agna terus saja menghantuiku sehingga membuatku merasa kalau aku ini harus segera menikah. Demi menghapus bayang wanita yang telah membuatku kehilangan penerus generasiku." Darren menunduk sendu pada saat ia mengatakan itu semua. "Tolong aku, kasih tahu Papi kalau aku ini benar-benar mau menikah."


"Apa susahnya kamu mengucapkan kata rujuk? Apa berat sekali bibirmu itu? Wahai anak yang sangat kurang ajar." Suara Hugo terdengar, karena rupanya pria paruh baya itu mendengar apa saja yang tadi Darren katakan. "Bisa-bisanya kamu mau menikah lagi, lihat Agna ... dia sekarang depresi tapi kamu …!" Hugo menunjuk wajah putranya. "Kamu malah sibuk mencari wanita lain, wanita yang ingin kamu nikahi!" teriak Hugo yang terlihat malah melempar kursi ke arah Darren. Dan untung saja Alea malah menarik putra mereka sehingga Darren tidak terluka karena kursi yang sang ayah lempar.


"Apa kamu pikir dengan kamu menikah lagi semua masalah akan selesai? Kamu salah Darren! Justru masalah akan semakin bertambah. Coba kamu pikirkan matang-matang kenapa bayang-bayang Agna selalu saja menghantuimu? Tidakkah kamu sadar jika dirimu masih sangat mencintai Agna. Sampai-sampai bayangannya juga terus saja mengikutimu." Mata Hugo memerah begitupun dengan wajahnya yang sangat merah seperti kepiting rebus.


"Rujuk dengan Agna, dan kembalikan mentalnya supaya dia tidak depresi lagi. Papi sudah tidak bisa diam saja karena keadaan Agna saat ini sangatlah memprihatinkan. Sampai-sampai dia tidak mau bertemu dengan siapapun bahkan dia juga tidak mau berbicara." Hugo terus saja memberitahu Darren bagaimana keadaan Agna saat ini. "Pergi ke rumahnya, lalu minta maaf dan mulai membuka lembaran baru lagi dengan Agna. Bukan malah mencari wanita lain untuk menutupi hatimu yang kosong itu, karena jika kamu malah menghadirkan orang baru maka Papi yakin jika masalah akan bertubi-tubi datang padamu."


"Aku tidak mau rujuk! Aku hanya ingin menikah lagi, percuma saja Papi berbicara panjang lebar padaku karena aku tidak akan peduli." Tanpa perasaan Darren malah menimpali sang ayah dengan berkata seperti itu.


"Dasar egois dan keras kepala!" Hugo dengan gerakan cepat menarik baju Darren. Lalu ia terlihat memu kul sang putra dengan cara memberikan Darren bogem mentah. "Kamu akan menyesal telah menyia-nyiakan Agna, karena meski sifatnya begitu. Dia wanita yang baik."

__ADS_1


"Pi! Hentikan!" Alea yang dari tadi hanya diam saja mencoba untuk melerai sang suami. "Kasihan putra kita hentikan, Mami mohon ...." Alea histeris karena melihat wajah Darren lagi-lagi harus babak belur, ditambah putranya itu tidak melawan sama sekali.


__ADS_2