Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Menjadi Depresi


__ADS_3

Hugo menyeret putranya ke dalam ruangan yang kosong, pria paruh baya itu juga langsung saja memberikan Darren bogem mentah. Bukan cuma itu saja Hugo yang sangat marah pada putranya benar-benar melampiaskan kemarahannya itu, umur bagi Hugo hanya angka untuk soal memberikan pelajaran pada putranya dengan cara memukul Darren sangat di luar dugaan putranya itu.


"Rujuk sekarang juga sebelum Papi membu nuhmu disini pecundang!" Hugo menendang perut Darren beberapa kali. "Katakan rujuk lagi pada Agna, kamu jangan keras kepala, Darren! Jangan membuat Papi malu, dasar anak yang tidak tahu diri!" Hugo terus saja memarahi putra semata wayangnya itu. "Dokter dan Dosen hanya sebagai pangkat gelarmu saja, tapi apa ... otakmu isinya sangat nol besar!"


Darren terlihat tidak mau melawan, laki-laki itu juga sama sekali tidak membuka suara, karena saat ini pikiran laki-laki itu sedang sangat kacau. Sehingga Darren saat ini sama sekali tidak merasakan sakit pada wajahnya yang sudah babak belur karena perbuatan ayahnya sendiri.


"Kembalikan menantu Papi, Darren! Jangan jadi pengecut dan pecundang seperti ini!" Hugo murka sampai-sampai pria paruh baya itu tidak menyadari kalau tubuh putranya sudah sangat lemas. "Rujuk dengan Agna sekarang juga!" Pria paruh baya itu tidak henti-hentinya membentak bahkan berteriak di telinga Darren.


"Tidak! Aku tidak akan pernah rujuk dengan wanita keras kepala seperti Agna, karena gara-gara dia calon anakku lahir sebelum waktunya. Sehingga menyebabkan darah dagingku itu tidak bisa diselamatkan!" Suara Darren menggema di ruangan yang kosong itu. Saking sakit hatinya pada Agna yang ia pikir adalah penyebab dirinya kehilangan anaknya. "Sampai kapanpun wanita itu tidak akan pernah berubah, dia akan tetap egois, keras kepala!" Seumur hidupnya Darren baru kali ini berbicara lantang pada sang ayah. Saking kacaunya keadaan suasana hati laki-laki itu.


"Kurang ajar!" Hugo menarik baju Darren, karena saat ini pria paruh baya itu ingin memukul putranya lagi.


Namun, ketika tangan Hugo sudah terayun bersiap meninju perut Darren, tiba-tiba saja Alea datang sehingga membuat Hugo mengurungkan niatnya.


"Pi, jangan seperti ini. Jangan sampai putra kita nanti malah akan mati karena Papi yang terus-terusan memuk ulnya seperti ini." Dengan air mata yang berlinang Alea berusaha menenangkan sang suami. Alea juga merasa semakin hancur ketika ia melihat wajah Darren yang sudah babak belur. "Papi, jangan lakukan ini lagi Mami mohon ...." Alea berusaha terus untuk menenangkan Hugo.


"Urus anakmu ini Mi, sekarang Papi harus bicara dengan Pak Al." Hugo menghela nafas, pria paruh baya itu juga benar-benar sangat merasa kecewa dengan putranya sendiri. "Otaknya memang sudah benar-benar tidak ada isinya, sehingga dia mengambil keputusan tanpa memikirkan sebab dan akibatnya terlebih dahulu." Hugo mengusap wajahnya dengan sangat kasar sebelum ia keluar dari sana membiarkan Alea dan Darren hanya berdua disana.


"Pi, jangan memperkeruh keadaan. Cobalah berada di posisi Darren pasti Papi juga akan melakukan hal yang sama." Meski Alea merasa kecewa pada Darren, tapi wanita paruh baya itu juga tidak akan mungkin bisa menyalahkan sang putra. Sehingga membuat Alea membela Darren di hadapan Hugo saat ini.


"Papi tidak sebodoh putramu itu, Mi! Karena Papi masih memiliki akal sehat bukan malah seperti anak itu yang menceraikan istrinya dalam keadaan seperti ini!" sahut Hugo menimpali Alea sebelum pria paruh baya itu benar-benar pergi dari sana.

__ADS_1


"Papi, jangan membela sepihak saja!" teriak Alea yang merasa sakit hati saat melihat sudut bibir Darren dan hidung putranya itu berdarah. "Mami juga kecewa, bahkan sangat-sangat kecewa pada Darren. Tapi bukan berarti Papi malah menghajar putra kita seperti ini, kalau masih bisa dibicarakan dengan baik-baik tidak perlu menggunakan kekerasan." Alea tidak peduli meskipun Hugo tidak mendengarnya yang terpenting dirinya sudah mengeluarkan apa yang seharusnya memang ia ucapkan.


"Mi, sudah." Lirih Darren yang saat ini tidak tahu apa yang akan laki-laki lakukan disaat keadaanya sudah sangat lemah seperti ini. "Apa yang dikatakan oleh Papi memang benar apa adanya. Aku hanya pecundang."


"Tidak, kamu melakukan ini semua juga karena kamu sangat merasa kecewa pada Agna. Tapi ... Mami juga tidak membenarkan apa yang saat ini kamu lakukan, Ren. Jika bisa diperbaiki maka kamu langsung rujuk saja dengan Agna, karena Mami yakin kalian pasti akan diberikan malaikat kecil lagi. Anggap saja kalau yang tadi itu adalah kehilafanmu. Agna juga pasti akan menerima apa yang tadi terjadi." Alea berbicara panjang lebar, berharap supaya Darren mau rujuk dengan Agna.


Sedangkan Darren yang disuruh rujuk malah menggeleng kuat. "Aku selama ini sudah sangat cukup sabar Mi, dalam menghadapi sifat Agna, tapi untuk saat ini aku benar-benar tidak bisa untuk kembali lagi bersamanya. Sekali lagi maafkan aku Mi," kata Darren yang terlihat mencoba untuk berdiri, ia juga terlihat memegang perutnya yang terasa sakit. "Maafkan aku karena ... aku tidak bisa." Darren kini berjalan dengan langkah sempoyongan, entah kemana tujuan laki-laki itu saat ini karena bagi Darren, ia harus menenangkan dirinya dulu untuk sementara waktu.


"Ren, jangan keras kepala 'Nak, ayolah jangan egois. Kasihan Agna saat ini pasti dia sangat terluka." Alea memegang tangan Darren. "Rujuk dengan Agna, Ren, kasihan dia."


"Maaf Mi, aku benar-benar tidak bisa." Darren rupanya tetap teguh pada pendiriannya saat ini, dimana laki-laki itu tidak mau rujuk dengan Agna. Meskipun Hugo juga Alea sudah menyuruhnya untuk rujuk. Akan tetapi Darren malah menolaknya.


"Kita harus segera membawa Agna pulang." Al, sang ayah dari Agna merasa benar-benar sangat kecewa juga dengan apa yang telah diputuskan oleh Darren. "Biarkan Agna dirawat di rumah saja, tidak masalah bagi Ayah mengeluarkan uang banyak demi putri kita," kata Al yang memang saat ini tidak akan mungkin bisa marah dengan Darren karena laki-laki itu sekarang entah sudah pergi kemana. Sehingga membuat Al hanya bisa menahan rasa marah dan kecewanya hanya di dalam benaknya saja. Ia juga tidak akan menunjukkan semuanya di depan hadapan istri serta putrinya saat ini.


Al juga tidak mau jika pria paruh baya itu akan menunjukkan raut wajah penuh amarah di hadapan Agna dan Ranum, bisa-bisa nanti dua wanita yang sangat pria paruh baya itu sayangi akan takut dengan dirinya.


"Mas, jangan marah ya, Bunda mohon ...." Ranum mendekat, ia juga terlihat menepuk pundak sang suami. "Anggap ini semua sebagai cobaan untuk Agna dan Darren, karena Bunda yakin jika saja pasti mereka akan bersama lagi jika masih jodoh." Ranum mengatakan itu sebagai kalimat penenang bagi dirinya sendiri dan juga sang suami. Sebab ia juga sama seperti Al dimana Ranum merasa sangat kecewa dengan Darren. Tapi tidak ada yang bisa Ranum lakukan selain membuat suasana menjadi sedikit adem bukan malah semakin panas sehingga memperkeruh suasana.


Ranum juga tidak bisa melakukan apapun selain mencoba meredam amarah Al, karena ia takut jika saja nanti suaminya itu malah akan membuat kehidupan Darren akan menjadi berantakan. Mengingat Al bisa saja melakukan apapun jika pria itu sudah benar-benar marah.


"Sekarang kita harus benar-benar membawa Agna pulang." Al lalu melihat ke arah bed dimana Agna terlihat hanya menatap langit-langit ruangan rawat inap itu. Al juga bisa merasakan bahwa putrinya pasti sangat terluka, karena Agna sekarang menjadi janda pada saat umur pernikahan putrinya itu masih seumuran jagung. "Bun, kita bawa Agna pulang karena seperti kata Bunda sekarang Agna sudah menjadi tanggung jawab kita lagi," sambung Al.

__ADS_1


"Aku tidak mau pulang ke rumah." Tiba-tiba saja Agna membuka suara dan mengatakan bahwa dirinya tidak mau pulang ke rumah kedua orang tuanya. "Antar saja aku pulang ke rumah Darren."


Al dan Ranum begitu terkejut pada saat mereka mendengar apa yang putri mereka katakan saat ini.


"Rumah Darren? Nak, kalian sudah bercerai. Jadi, kamu harus ikut pulang bersama Bunda dan Ayah." Ranum dengan suara yang terdengar lirih mengatakan itu pada Agna.


"Tidak! Aku tidak mau bercerai karena bayinya masih berada di dalam perutku! Disini ...." Agna menunjuk perutnya. "Bayi kami masih ada disini. Bunda ama Ayah percaya 'kan, kalau bayiku ada di dalam sini." Sekarang Agna menoleh ke arah Al juga Ranum. "Aku tidak keguguran Bun, aku tidak keguguran Ayah." Agna terus saja mengulangi kalimatnya berulang-ulang kali. Sehingga membuat Al dan Ranum saling pandang.


Dimana kedua orang tua Agna merasa kalau saja putri mereka mungkin saja membutuhkan psikiater untuk saat ini. Melihat kalau gelagat Agna agak sedikit aneh. Dimana mereka merasa kalau Agna mungkin saja depresi gara-gara keguguran.


Ditambah Agna setelah mengatakan kalimat itu-itu saja, ia kini malah berteriak-teriak tidak jelas membuat Al dan Ranum semakin yakin kalau saja putri mereka saat ini benar-benar membutuhkan psikiater.


"Agna sayang, tenangkan diri kamu." Ranum sekarang mendekat ke arah bed sang putri, karena ia semakin yakin kalau saat ini Agna sedang depresi.


"Bayiku masih ada disini!" teriak Agna histeris. "Bayiku tidak mungkin mati! Bunda kasih tahu Darren kalau bayi kami masih ada di dalam perutku saat ini." Agna terlihat memberontak sehingga membuat Ranum sangat kesulitan untuk menenangkan putrinya sendiri.


"Mas, panggilkan Agna, Dokter, karena Bunda takut jika saja dia nanti malah akan melukai dirinya sendiri." Ranum sekarang semakin panik pada saat ia melihat Agna malah mencabut selang infus dengan sangat kasar. "Mas! Sana panggilkan Dokter." Ranum memeluk Agna supaya putrinya itu menjadi sedikit tenang. Tapi sayang Agna malah semakin memberontak.


"Bayiku masih ada di dalam sini, Dokter kandungan itu jahat dia sangat licik!" Agna malah menarik-narik rambutnya sendiri. Sambil terus saja berteriak. "Calon cucu Ayah dan Bunda masih ada disini."


"Mas!" seru Ranum memanggil Al yang terlihat malah diam mematung saja dari tadi.

__ADS_1


__ADS_2