
Jika Agna masih belum sadarkan diri, beda halnya dengan Saras yang sudah sadar dari tadi. Namun, gadis itu masih berpura-pura memejamkan mata karena ia tahu bahwa saat ini dirinya sedang dalam bahaya. Apalagi tadi Saras sempat mendengar samar-samar percakapan atara Lian dan Bram.
"Gawat, sepertinya aku dan Agna saat ini sedang dalam bahaya, apa yang harus aku lakukan?" gumam Saras bertanya di dalam benaknya. Sebab gadis itu benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini sehingga membuatnya harus tetap berpura-pura pingsan.
Saat Saras masih saja berusaha mencari cara supaya ikatan di tangannya lepas. Gadis itu tiba-tiba saja malah mendengar suara Agna yang berteriak meminta tolong. Membuat dirinya malah terpaksa membuka mata saat itu juga, sehingga Bram yang dari tadi menunggu Saras sadar langsung saja mendekati gadis itu dengan senyum me sumnya saat melihat Saras sudah sadarkan diri.
"Hei, kau sudah sadar rupanya. Mari kita mulai bersenang-senang," kata Bram yang malah mau kembali menutup mata Saras, karena rupaya tadi laki-laki itu sendiri yang membuka penutup mata gadis itu. Hanya untuk bisa melihat apakah Saras sudah sadar atau belum.
"Lepaskan aku!" Saras memberontak karena ia tidak mau kalau matanya akan kembali lagi di tutup. "Lepaskan ...!" Gadis itu terlihat malah semakin memberontak karena ia takut jika laki-laki itu akan melanjutkan misi bejatnya. "Tolong lepaskan aku, aku merasa tidak punya salah denganmu," ucap Saras yang akan mencoba berbicara lemah lembut pada Bram. "Tapi kenapa kau malah menculikku seperti ini?"
"Nona tidak punya salah, tapi saya memang hanya ingin bermain-main dengan Anda Nona manis."
__ADS_1
"Jangan lakukan apapun padaku, jika kamu masih sayang dengan nyawamu karena jika Mama dan Papaku tahu maka dapat aku pastikan, kalau kau akan kehilangan semuanya." Saras terdengar sedang menakuti Bram. "Ayo, buka ikatan pada tanganku sebelum aku melaporkanmu ke kedua orang tuaku."
Bram malah tertawa terbahak-bahak saat dirinya mendengar deretan kalimat Saras, karena entah mengapa tangan kanan Lian itu merasa lucu.
"Laporkan saja Nona, kalau kita sudah melakukan itu." Bram terlihat mulai membuka baju kaosnya dengan terburu-buru. Sebab dari tadi laki-laki itu sudah tidak tahan lagi menahan adik kecilnya yang terus saja memberontak ingin keluar dari sarangnya.
"Jangan macam-macam, jika kau berani maka aku akan berteriak." Saras melihat Bram yang mulai mendekat. Setelah itu ia malah mengangkat kedua kakinya yang ternyata tidak diikat. Selanjutnya kalian bisa bayangkan kalau Saras malah menendang se lang kangan laki-laki itu dengan sekuat tenaga. Sehingga membuat Bram langsung saja jatuh tersungkur sambil memegang pisang ambonnya yang terasa ngilu.
"Akkhh, kurang ajar!" Bram terguling-guling karena saat ini laki-laki itu menahan rasa sakit.
***
__ADS_1
Look Di kamar sebelah Agna terus saja marah-marah pada Lian, karena gadis itu tidak pernah menyangka kalau teman sekelasnya itu malah tega menculiknya seperti ini.
"Ayolah Agna, jangan munafik karena aku sangat yakin kalau kamu itu juga sudah tidak perawan lagi," kata Lian yang sekarang berdiri disebelah Agna. "Dave, laki-laki me sum itu pasti sudah melakukan itu padamu. Sebab laki-laki seperti dia tidak akan mungkin tidak mencicipi tubuh para kekasihnya termasuk kamu."
Agna menatap Lian sinis. "Cuih!" Agna meludah ke baju Lian. "Dasar kau laki-laki ba ji ngan! Bisa-bisanya kau malah berpikiran semenjijikkan seperti itu." Gadis bar-bar itu sekarang terlihat memberontak sekuat tenaga supaya ikatan pada tangannya lepas, karena ia saat ini sedang diikat diatas ranjang dengan posisi terlentang.
"Agna, jangan lukai diri kamu sendiri karena tali itu tidak akan pernah bisa lepas dari tanganmu kecuali aku memberikannmu pisau untuk me mo tong tali itu langsung," ucap Lian yang mulai naik ke atas ranjang itu sambil merangkak, laki-laki itu juga tidak marah saat Agna tadi meludahinya. "Kita nikmati saja malam ini Agna, sehingga kamu bisa membedakan mana yang lebih pro aku atau Dave, laki-laki culun yang tidak ada bandingannya secuilpun dengan diriku."
"Hentikan semua kegilaanmu ini Lian! Dan lepaskan aku!" teriak Agna yang tidak peduli dengan tatapan me sum laki-laki itu. "Jika aku tahu kau malah akan berniat jahat padaku maka, aku tidak akan pernah mau menerima tumpangan darimu. Dasar laki-laki brengsek!"
"Aku pasti akan melepaskanmu, jika kamu sudah melayaniku Agna, karena saat ini kamu itu adalah tawananku, tawanan yang harus membuat sang penawan puas," kata Lian pelan.
__ADS_1
"Jangan macam-macam!" Agna menatap Lian penuh kebencian. Apalagi mendapat perlakuan seperti ini gadis itu merasa ingin sekali menelan Lian secara hidup-hidup. "Menjauh bedebah!" Agna berteriak lagi sambil berharap ada orang yang akan menolongnya saat ini.
"Tuhan, aku sangat berharap keajaiban itu datang," gumam Agna saat gadis itu tidak sengaja melihat ke arah jendela. Sehingga ia bisa melihat bahwa pasti tempatnya saat ini berada ada di tengah hutan.