Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Bab 94


__ADS_3

"Ngapain kamu datang kesini?" tanya Darren pada saat laki-laki itu melihat Darius yang datang ke apartemennya.


"Makin ganteng aja kalau cemberut begini, ngomong-ngomong kamu apa kabar?" Darius malah bertanya balik pada Darren sebagai kalimat basa basinya karena kedatangannya ini ingin mengajak Darren untuk pergi ke rumah sakit dan tentu saja itu atas permintaan Hugo.


"Jangan basa basi, kalau tidak ada urusan yang sangat penting mending kamu pulang saja. Jangan malah mengganggu jam istirahatku seperti saat ini!" ketus Darren karena saat ini dirinya berpikiran kalau saja Agna pergi meninggalkan dirinya sendiri di apartemen itu pada saat dirinya sedang merajuk. Padahal selama ini wanita yang berperut buncit itu akan selalu saja melakukan berbagai cara supaya dirinya tidak marah lagi. Tapi kali ini ia malah tidak melihat keberadaan Agna di sana sehingga membuat Darren semakin berwajah masam padahal laki-laki itu sangat ingin mendengar penjelasan sang istri.


"Aku mengusir, sana kamu pulanglah karena hari ini aku tidak terima tamu!" Darren ingin kembali menutup pintu apartemennya. Tetapi Darius malah menghalanginya dengan cara laki-laki itu menaruh kakinya. "Apaan sih, sana kamu pulang saja."


"Ada masalah apa kawan? Sehingga membuatmu seperti ciwik-ciwik yang sedang datang bulan." Darius lalu masuk begitu saja sambil menutup pintu itu. "Sini coba kamu cerita sama aku, siapa tahu aku ini bisa membantumu dan memberikanmu solusi bahkan motivasi." Darius memang seperti ini jika dirinya datang ke apartemen sahabatnya itu.


"Pulang, jangan malah membuat suasana hatiku menjadi karuan." Darren sekarang malah berwajah datar.


"Apa ini semua gara-gara Agna?" Darius tiba-tiba saja bertanya seperti itu pada laki-laki yang sedang duduk di kursi roda itu.


"Tahu apa kamu tentang dia?" Darren sekarang menatap Darius intens.


"Aku tahu tentang Agna yang saat ini tidak ada di apartemen ini karena aku melihatnya sedang ada di rumah sak–"


"Biarkan saja dia mau pergi kemanapun itu bukan urusanku!" potong Darren sebelum kalimat Darius selesai.


"Serius kamu tidak mau tahu saat ini sedang ada dimana istri kamu itu." Darius melontarkan kalimat itu pada Darren.


"Aku harus pergi ke dalam kamarku. Kamu kalau mau tetap disini tidak apa-apa." Darren lalu terlihat pergi begitu saja. Tetapi kursi rodanya malah ditarik oleh Darius. "Apaan lagi, aku ini mau tidur." Darren menepis tangan temannya itu.


"Agna ada di rumah sakit, calon bayi kalian dikabarkan sudah tidak bernyawa lagi," kata Darius yang saat itu juga memberitahu Darren.

__ADS_1


Deg ....


Darren langsung saja diam membisu karena dirinya sangat kaget mendengar apa yang Darius katakan saat ini pada dirinya.


"Kamu jangan mengada-ngada, Dar! Tadi Agna disini masih baik-baik saja. Tapi kenapa kamu sekarang malah berkata seperti itu. Ini semua tidak mungkin!" Darren menggeleng kuat karena laki-laki itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang saat ini Darius sampaikan pada dirinya.


"Ayo kita harus pergi ke rumah sakit supaya kamu percaya, disana juga kamu akan mendengarkan penjelasan Dokter kandungannya langsung. Tanpa perlu bertanya padaku. Aku yang tidak tahu apa-apa ini," balas Darius ketika Darren malah tidak percaya dengan apa yang tadi dikatakan. "Sekarang ayo kita pergi. Jangan malah diam saja di sini."


"Kamu jangan membual, Dar!" bentak Darren.


"Kamu ini di bilangin masih saja ngeyel. Jika kamu diam disini saja maka kamu tidak akan tahu kebenarannya." Darius yang mulai merasa kesal dengan Darren malah mendorong kursi roda laki-laki itu karena Darius ingin membawa Darren ke rumah sakit. "Jangan bicara lagi, sekarang ikut aku biar kamu bisa melihatnya sendiri," sambung Darius.


Darren pada saat itu juga langsung saja mengangguk kuat, menandakan bahwa apa yang dikatakan oleh Darius memang benar kalau mereka harus cepat sampai di rumah sakit. Darren juga tidak bicara apa-apa lagi ia hanya berdoa supaya kabar yang laki-laki itu dengar salah.


"Tuhan, lindungilah Agna dan juga bayi kami, jangan sampai sesuatu hal buruk akan menimpa istri serta anakku," gumam Darren membatin yang merasa menyesal karena telah memarahi Agna beberapa jam yang lalu hanya karena dirinya merasa cemburu.


🍂🍂


"Macet Ren. Jadi, harap kamu memaklumi ini semua. Kita juga akan sampai di rumah sakit cepat atau lambatnya laju mobil ini," sahut Darius yang sebenarnya juga merasa sangat kesal jika dirinya terjebak macet seperti saat ini. Darius juga terdengar beberapa kali terus saja membunyikan klakson. "Satai ya, tenang dikit jangan sampai kondisi kesehatanmu malah akan menurun karena jika kamu sakit siapa yang akan menjaga Agna nanti," sambung Darius.


"Selama ini Agna yang menjagaku bukan aku yang menjaganya," timpal Darren yang mulai merasa bahwa dirinya laki-laki yang tidak berguna. Laki-laki yang memang selalu saja menyusahkan sang istri. "Mungkin karena itu juga yang membuatnya malah selingkuh dariku," gumam Darren pelan sambil menunduk sendu pada saat dirinya mengatakan itu tadi.


"Agna selingkuh? Hahaha ...." Darius terdengar tertawa terbahak-bahak. "Darren, Darren ... mana mungkin Agna akan selingkuh. Justru dia sangat takut kehilangan laki-laki sepertimu." Darius bisa tahu karena rupanya laki-laki itu sekarang mulai dekat dengan Saras, bestie-nya Agna. Wanita hamil yang saat ini sudah ada di dalam ruangan operasi.


"Jika dia ingin berpaling darimu bahkan selingkuh. Mungkin sudah sejak dulu Agna lakukan secara dia itu wanita yang sangat cantik, pasti banyak laki-laki yang tergila-gila padanya dan menurut penglihatanku ini Agna tulus mencintai suami yang tidak tahu diri sepertimu ini. Bukan cuma itu, aku juga rasa bahwa laki-laki yang melihat Agna mereka tidak akan bisa menolak pesona Agna."

__ADS_1


"Kurang ajar!" Darren malah meninju lengan Darius. "Apa kamu termasuk laki-laki terkutuk itu, yang malah menyukai istri orang?"


"Sorry, aku sudah punya calon istri, dan aku juga tidak doyan dengan istri orang tapi kalau Agna yang mau sendiri sih, aku rasa bisa dibicarakan baik-baik," celetuk Darius menjawab Darren.


"Brengsek!" Darren sekali lagi malah meninju lengan Darius berulang-ulang kali. "Apa kamu sudah bosan hidup, Dar? Sehingga kamu malah berkata seperti itu?"


"Aku hanya bercanda, dan mana mungkin Agna mau sama aku. Secara dia itu cinta matinya sama kamu." Darius mengulum senyum pada saat laki-laki itu berkata seperti itu. "Jadi, kamu itu tidak usah takut, Ren."


"Omong kosong!" Darren lalu membuang pandangan ke arah luar jendela.


***


Darren benar-benar sangat terkejut ketika mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh kedua orang tuanya dan kedua mertuanya juga.


"Keputusan saat ini ada di tanganmu Darren," kata Hugo pada saat Darren hanya diam saja dari tadi setelah mengetahui jika saja Agna akan di operasi. "Pikirkan lagi." Hugo menepuk-nepuk bahu putranya beberapa kali.


"Aku setuju, lakukan apa saja yang terbaik untuk Agna," timpal Darren yang langsung saja menandatangani surat persetujuan itu. "Sekarang dimana Agna?" Darren sekarang menanyakan tentang dimana Agna.


"Ada di ruang operasi, kalau kamu mau kesana pakai baju yang sudah disterilkan dulu. Agna juga dari tadi terus saja mencarimu," jawab Al yang sedang berdiri di sebelah Hugo.


Sedangkan Ranum dan Alea, dia wanita itu terlihat sedang duduk di bangku tunggu sambil terus saja berdoa tentang Agna yang tidak akan kenapa-kenapa. Mereka juga merasa sangat sedih karena salah satu cucu mereka terpaksa akan dikeluarkan.


"Ayo biar Ayah antar. Pak Hugo diam saja di sini." Al langsung saja terlihat mengambil alih kursi roda itu dari Darius. "Dar, kamu kalau sibuk boleh pulang, terima kasih sudah mengantar Darren ke sini," ucap Al yang sekarang berbicara dengan Darius sebelum pria paruh baya itu mendorong kursi roda Darren menuju ke ruang operasi.


🍂🍂

__ADS_1


Tetap pantengin terus yak💜💜


__ADS_2