
"Darius datang ke rumah, tapi Mama sama Papa mengusirnya." Terlihat Saras di layar ponsel milik Agna.
"Kapan Darius datang ke rumahmu?" Sambil memberikan Nawa dot, Agna terdengar bertanya pada Saras yang terlihat mata gadis itu sembab mungkin saja itu karena Saras sudah menangis.
"Tadi malam, dia sempat bertengkar dengan Papa. Membuatku menjadi tahu kalau saja Mama dan Papaku selama ini tidak merestui hubunganku dengan Darius. Apa itu semua yang menjadi salah satu alasan Darius selalu saja menolak untuk menikahiku?"
"Tidak enak bicara melalui video call seperti ini Saras. Kamu datanglah kesini biar kamu bisa menceritakan semuanya padaku. Kebetulan hari ini aku tidak pergi ke rumah sakit." Agna malah menyuruh Saras untuk datang ke rumah utama. "Kalau kamu kesini jangan lupa bawakan aku mangga muda yang ada di belakang rumahmu karena kata Om Bagas pohon mangga itu buahnya sangat lebat."
"Sorry, bukan aku tidak mau kesana tapi hari ini Mama mau mengajakku untuk pergi ke salon. Katanya, aku harus perawatan dulu sebelum hari H." Saras terlihat cemberut.
"Ya sudah, nanti biar Om suami saja yang kesana minta mangga mudanya. Btw, apa kamu benar-benar akan menikah dengan Roy. Mmm, maksudku … kamu tidak terpaksa 'kan?" Agna tadinya tidak mau menanyakan hal ini, tapi karena ia melihat Saras tampak sedih ketika menceritakan tentang Darius sehingga membuat mulutnya gatal untuk bertanya secara langsung dan terang-terangan.
"Aku sudah setuju Na, itu artinya aku akan benar-benar menikah dengan Roy. Ini semua juga atas kemauanku sendiri bukan karena dasar keterpaksaan." Saras berbohong sebenarnya gadis itu saat ini sangat terpaksa karena ia tidak mau kalau sampai Bagas mendekam di penjara karena rupanya Bagas memiliki hutang yang sangat banyak kepada Roy. Membuatnya harus rela berkorban, mengorbankan perasaannya sendiri.
"Sar, jujur saja sama aku. Aku janji tidak akan membocorkan rahasia kita berdua." Agna sangat berharap jika saja Saras mau terbuka padanya seperti waktu mereka masih remaja dulu. "Kita sahabatan dari orok, masa kamu tidak mau jujur sama aku, masa kamu juga tidak percaya padaku kalau aku ini pandai menyimpan rahasia. Hanya kita berdua. Eh, salah kita berempat Nawa, sama adiknya yang masih ada di dalam perut juga 'kan, akan ikut mendengarnya." Agna nyengir kuda seperti biasanya.
"Aku sudah jujur padamu, kejujuran apalagi yang harus kamu cari dariku, Na?"
"Matamu tidak bisa membohongiku Saras, sebaiknya ceritakan saja padaku. Siapa tahu aku ini bisa saja membantumu." Agna menatap layar ponselnya tanpa berkedip karena ia mau melihat ekspresi wajah sahabatnya itu.
"Ini hanya efek layar ponsel yang terlalu terang Agna, kamu ini jangan berlebihan." Saras berusaha untuk meyakinkan Agna dengan alasan yang logis. "Aku tutup dulu teleponnya nanti kita lanjut lagi karena sepertinya Mama sudah memanggilku." Saras berpura-pura celingak-celinguk sambil memegang handuk. "Aku mandi dulu, dadah Nawa gembul. Aunty mau pergi. Jaga keponakanku yang gembul itu Agna. Jangan cubit-cubit pipinya."
Agna tersenyum sambil mengangguk sebelum panggilan itu terputus karena Saras yang mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
"Mau sekeras dan sepandai apapun kamu menutupinya, kamu tidak akan bisa membohongiku Saras. Aku tahu kalau saja kamu terpaksa harus menerima perjodohan ini." Terdengar Agna menghela nafas lalu membuangnya secara perlahan melalui mulutnya.
***
"Darius katanya tadi malam bertengkar dengan Om Bagas." Darren yang sedang tidur di pangkuan sang istri mengatakan itu, ia tidak tahu saja kalau Agna sudah mengetahuinya terlebih dahulu.
"Aku sudah tahu." Agna menjadikan tangannya untuk menyisir rambut sang suami. "Tadi pagi, Saras sendiri yang menceritakannya padaku." Entah mengapa setiap kali Agna membahas Saras dan Darius raut wajah ibu hamil itu langsung saja berubah.
"Kenapa tidak memberitahu suamimu ini?" tanya Darren yang mencubit hidung Agna.
"Aku tahu kalau Darius pasti akan memberitahu Om suami. Maka dari itu aku memilih diam saja," jawab Agna dengan raut wajah yang semakin terlihat sedih.
"Oh, begitu ya. Ngomong-ngomong apa kamu memiliki rencana?" Tiba-tiba saja Darren bertanya seperti itu pada Agna.
"Kita satukan lagi Saras dan Darius. Apa kamu setuju?"
"Ide gila darimana ini?" Agna tidak menyangka kalau saja Darren malah akan menyatukan dua insan yang mungkin saja di takdirkan tidak akan bersama itu. "Om suami, kali ini jangan ngadi-ngadi. Ingat, Papi sudah mengingatkan kita untuk jangan ikut campur."
"Aku harus ikut campur karena Darius adalah saudaraku. Sayang, apa kamu mengerti?"
Agna menggeleng kuat. "Papi sepertinya tahu suatu hal makanya menyuruh kita untuk tidak ikut campur."
Tepat pada saat Agna dan Darren masih saja terus membahas tentang Darius, tentang mereka yang dilarang untuk ikut campur. Tiba-tiba saja ponsel Agna malah berdering.
__ADS_1
"Bunda, kenapa menelponku malam-malam begini? Apa mungkin dia mau ditemenin karena malam ini Ayah pasti sudah berangkat ke Tiongkok?"
"Angkat gih, mungkin ada hal lain." Darren bangun ia lalu duduk di sebelah Agna.
"Bun, ada apa?" tanya Agna pada sang ibu.
"Ayah Na, Ayah." Suara Ranum terdengar serak karena sepertinya wanita itu sedang menangis.
"Iya, Ayah kenapa Bunda? Jangan membuatku berpikiran yang tidak-tidak." Agna menoleh ke arah Darren.
"A-Ayah ke-kecelakan … se-sekarang ada di rumah sakit." Ranum langsung saja mengakhiri sambungan telepon itu.
Ponsel yang Agna pegang langsung saja terjatuh pada saat ia mendengar kabar yang membuat jantungnya hampir saja berhenti berdetak.
"Apa kata Bunda?" Darren bertanya pada saat ia mendengar suara ponsel Agna yang terjatuh di lantai.
"A-ayah … A-ayah." Agna terbata-bata dengan air mata yang sudah menetes.
"Apa telah terjadi sesuatu dengan Ayah?"
"Ke-kecelakaan." Agna langsung saja berdiri tapi tiba-tiba saja ia duduk lagi karena tungkai kakinya terasa sangat lemas. "A-ayah … kecelakaan, sekarang dia ada di rumah sakit." Suara Agna bergetar. Tubuh ibu hamil itu juga terguncang dengan sangat kuat. Tidak lama suara isak tangis Agna pecah di ruang tamu itu. "Kita harus pergi kesana sekarang juga. Ayo Om suami kita harus kesana, kita harus melihat bagaimana keadaan Ayah." Meski Agna terisak wanita itu terus saja mengajak Darren untuk pergi ke rumah sakit.
"Sayang, tenangkan diri kamu dulu baru kita pergi ke rumah sakit. Jangan seperti ini karena kamu harus ingat kalau saat ini di rahim kamu ada buah hati kita. Aku tidak mau anak kita sampai kenapa-kenapa." Darren kemudian membawa Agna ke dalam pelukannya. "Tolong kontrol diri kamu, Sayang," kata Darren yang kini semakin erat memeluk tubuh sang istri.
__ADS_1