Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Bab 100


__ADS_3

Malam menjelang pada saat Agna terus saja memikirkan Darren tiba-tiba saja terdengar suara dering teleponnya yang saat ini sedang wanita hamil itu taruh di atas nakas.


"Om suami." Mata Agna berbinar bahagia pada saat mengetahui kalau saja sang suami menghubunginya setelah lama Agna menunggu Darren untuk meneleponnya. "Om Suami, pasti dia sudah sampai di sana karena dia janji kalau sudah datang dirinya akan langsung menghubungiku, istrinya yang sangat imut dan cantik ini," gumam Agna pelan sambil senyum-senyum sendiri.


Agna dengan gerakan sangat cepat langsung saja menggeser tombol hijau.


"Hallo ...." Agna terus saja tersenyum pada saat dirinya melihat layar ponsel yang ternyata benar-benar Darren.


"Sayang, apa kabar? Bagimana keadaanmu tanpa Om suamimu ini?" tanya Darren sambil membalas senyuman sang istri.


"Aku tidak baik-baik saja karena aku merasa rindu padamu, Om suami." Agna benar-benar sangat merindukan Darren meski sang suami baru saja pergi dalam hitungan jam.

__ADS_1


"Sayang, ini belum satu hari. Aku baru saja pergi beberapa jam saja, tapi kamu malah sudah merindukanku." Darren terkekeh-kekeh pada saat laki-laki itu mengatakan itu semua pada Agna. "Bagimana, dengan satu minggu, dua minggu, bahkan satu bulan. Bagimana perasaanmu, Sayang?"


"Aku ingin Om suami cepat pulang, jangan menunggu sampai bayi kita lahir," ucap Agna yang memang tidak ingin melahirkan tanpa sosok Darren di sisinya. "Harus cepat sembuh, biar cepat pulang. Biar kita bisa kumpul lagi," sambung Agna.


"Aku pasti akan pulang, jangan risaukan akan hal itu. Tolong kamu percaya padaku ini." Darren menimpali Agna karena laki-laki itu juga sangat yakin jika saja dirinya akan bisa sembuh secepatnya. Demi Agna juga calon anaknya. "Sekarang, kamu lebih baik tidur saja. Jangan pikirkan apapun itu karena masa-masa ini kamu harus banyak istirahat, jangan lupa jalan-jalan di pagi hari dan di sore supaya nanti kalau kamu lahiran bisa cepat tanpa kendala apapun itu."


"Aku masih kangen, jangan dulu di matiin." Sekarang Agna terdengar malah tidak mau membiarkan Darren mengakhiri sambungan telepon itu. Beralasan kalau wanita hamil itu masih kangen dengan Darren. "Kalau mau melihat aku tidur, Om suami harus temani aku." Agna terdengar merengek. "Temani aku ya, aku mohon ... Om suami."


Darren mengangguk. "Baiklah, ayo sekarang berbaringlah dan letakkan ponselmu itu di dekat bantal. Supaya aku bisa melihat wajah manis istriku," celetuk Darren yang sangat suka sekali melihat rona merah pada pipi Agna. "Sayang, ayolah."


"Aku selalu manis padamu, kamu saja yang baru menyadari akan hal itu." Darren rasanya ingin sekali mencubit pipi Agna saking gemasnya laki-laki itu pada sang istri.

__ADS_1


"Ish, lebay," seloroh Agna.


"Lebay-lebay begini, kamu sayang sama aku," balas Darren.


"Iya, aku sayang karena Om suami sudah memberikan aku ini." Agna menunjukkan Darren perutnya yang kini sangat buncit. "Ini hasil kerja keras Om suami," lanjut wanita hamil itu.


Darren tertawa renyah sebelum laki-laki itu bertanya, "Oh ya, aku sampai lupa Mami sama Papi di mana?"


"Masih nonton tv, Om suami kenapa nggak bilang sama aku kalau Om suami menyuruh Mami dan Papi menemaniku di sini?" Agna sekarang terdengar malah bertanya balik pada sang suami.


"Aku sengaja biar ada yang menemanimu," jawab Darren. "Sekarang kamu lebih baik tidur saja ini sudah menunjukkan pu pul 22.30 WIB, dan kamu jangan tanyakan tentang apapun lagi." Darren lalu mencium Agna lewat layar benda pipihnya.

__ADS_1


Agna mengangguk dan kini wanita hamil itu terlihat membaringkan tubuhnya sambil menarik selimut.


"Aku tidur Om suami," ucap Agna sambil terlihat menguap beberapa kali. Wanita hamil itu juga menatap Darren dengan mata yang mengisyaratkan kalau ia benar-benar tulus pada laki-laki itu.


__ADS_2