
"Kita akan tetap menikah Agna, dengan syarat yang ada pada kertas ini." Darren memberikan Agna selembar kertas. "Baca dan kalau kau setuju tanda tangan, karena saya tidak punya banyak waktu," sambung Darren.
Agna mengambil selembar kertas itu, dan dengan segera membacanya. Pada saat itu juga kedua bola mata gadis itu hampir saja mau lepas dari tempatnya. Hanya karena membaca isi surat perjanjian yang ditulis langsung oleh laki-laki itu.
"Apa isi surat perjanjian ini tidak salah? Atau Bapak menulisnya saat sedang mengantuk? Kenapa isinya malah ngawur begini?"
"Iya atau tidak," ucap Darren yang malah memilih mengabaikan pertanyaan gadis tengil dan bar-bar itu. "Jika kau tidak mau sobek saja surat itu, dan kita tinggal lompat saja dari lantai sepuluh ini. Setelah itu semua akan selesai, tidak akan ada lagi urusan kita di dunia ini." Dengan sangat santainya Darren malah mengatakan itu pada Agna.
"Selain galak rupanya Bapak ini juga kurang waras. Karena cuma orang yang tidak waras saja yang akan mengatakan itu semua. Dan bisa-bisanya Bapak ini malah menjadi seorang dosen sekaligus dokter juga." Agna menggeleng-gelengkan kepalanya tanda bahwa gadis itu tidak percaya dengan semua ini. "Ayah memang sudah sangat salah besar, ingin menerima perjodohan ini." Saat Agna terus saja berbicara tiba-tiba saja suara Darren membuat gadis itu terdiam seketika.
__ADS_1
"Saya akan membantumu dalam menyelesaikan sidang skripsi, apa kau masih tidak setuju?" Darren yang tidak punya pilihan lain akhirnya memberikan penawaran itu pada Agna. "Saya juga akan menjamin kalau kau akan bisa menjadi dokter bedah sama seperti saya suatu hari nanti. Apa kau masih tidak tergiur dengan apa yang saya katakan ini, Agna?"
Agna terdiam sejenak karena saat ini gadis itu benar-benar sedang dalam dilema. Sebab di sisi lain Agna belum mau menikah, akan tetapi di sini lain juga Agna tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Darren. Karena setahu gadis itu kedua poin yang disebutkan oleh sang dosen itu sangat penting dan sangat sulit sekali didapatkan. Jika tidak melalui orang dalam.
"Bagaimana ini? Apa aku terima saja tawaran dosen ini? Tapi tunggu dulu, apa mungkin ini akal-akalannya saja?" Saat Agna masih saja melamun sambil membatin. Dan memikirkan tawaran Darren yang cukup menggiyurkan.
"Saya tidak akan mungkin mengingkari janji saya ini Agna. Jadi, kau tidak usah takut akan hal itu," ucap Darren.
"Siapa tahu mulut Bapak pandai berdusta, karena saya belum percaya kalau Bapak akan membantu saja pada dua hal yang tadi itu," timpal Agna yang merasa kalau Darren akan membohonginya. "Saya juga tidak yakin dengan isi surat perjanjian itu yang bertulis tentang Bapak yang tidak akan menyentuh saya ketika kita sudah menikah nanti."
__ADS_1
"Saya cuma mau menepati janji saya saja Agna pada almarhum Opa saya. Untuk menikahimu, bukan karena apa-apa. Oleh sebab itu, saya menulis perjanjian itu sendiri. Karena saya juga memiliki kekasih yang harus saya nikahi," kata Darren berbohong. Karena tidak mungkin dosen galak itu mengatakan kalau dirinya masih jomblo di saat usianya sudah sangat matang.
"Kenapa Bapak tidak menikah saja dengan kekasih Bapak itu? Dan kenapa Bapak malah mau membantu saya untuk menyelesaikan sidang skripsi itu? Dengan syarat saya harus menikah dengan laki-laki yang mesum seperti Bapak. Sungguh sangat di luar dugaan dan nalar."
"Jika ada pilihan lain, maka saya akan memilih pilihan itu Agna. Daripada harus menghadapi kamu yang kekanak-kanakan seperti ini." Darren lagi dan lagi harus dibuat kesal oleh anak didik yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu. "Bagaimana? Karena kesempatan tidak akan datang dua kali."
"Nanti saya pikirkan, karena saya masih mau bebas tanpa ada yang melarang saya melakukan ini dan it–"
"Makanya baca kalimat nomor enam Agna, supaya kau tidak salah paham," potong Darren cepat.
__ADS_1