
"Mau ikut atau tidak?" tanya Darren pada Derius.
"Nggak usah diajak, dia orangnya sangat-sangat menyebalkan." Agna mengatakan itu dengan suara pelan. "Jangan diajak, nanti aku ngambek."
"Aku juga nggak mau ikut, lagi fokus nonton bola. Kalian saja yang pergi berhubung ini malam minggu." Darius rupanya mendengar apa yang tadi Agna katakan oleh sebab itu ia mengatakan itu semua pada Agna juga Darren. "Sana kalian berdua harus cari mangga muda sampai dapat. Biar anak kalian nanti tidak ileran kalau nggak kesampaian nggak makan mangga muda yang dicocol bon cabe."
Agna melengos, wanita hamil itu malah terlihat mendahului Darren yang masih saja diam disana, karena sepertinya laki-laki itu ada yang ingin dia bicarakan dengan Darius.
"Aku tunggu di dalam mobil saja, soalnya kupingku mendadak sakit setiap kali aku mendengar laki-laki sok tau itu berbicara," kata Agna sambil berlalu pergi, karena sepertinya wanita hamil itu mulai tidak menyukai Darius.
"Iya, tunggu saja aku di dalam mobil, karena ada yang harus aku sampaikan dulu pada Darius," balas Darren menimpali sang istri.
"Terserah!" sahut Agna saat wanita itu sudah sampai didepan teras rumah itu. "Waktumu hanya lima menit, kalau lewat kita nggak usah pergi!"
Darren menatap Darius sesaat setelah ia mendengar kalimat Agna. "Jangan ketawa cengengesan, aku cuma mau bilang tolong kunci pintu dapur. Soalnya aku tadi lupa. Kalau mau nginap tidur di kamar sebelah kamar Agna saja." Darren lalu terlihat berjalan ingin menyusul Agna. "Dar, kamu dengar aku nggak?" Sambil terus melangkahkan kakinya Darren bertanya pada sahabatnya itu.
"Denger, tapi untuk tidur aku tidur disini saja. Nggak apa-apa 'kan, tuan rumah yang super baik dan ramah?" Darius melempari Darren menggunakan kulit kacang. "Sana gih, nanti Agna berubah mencadi macan," seloroh Darius.
"Buang sampah pada tempatnya Dar, jangan main lempar saja. Nanti Agna bisa marah-marah kek orang kerasukan," kata Darren sambil memungut kulit kacang itu karena laki-laki itu tahu kalau Agna tidak suka melihat sampah yang berserakan di atas lantai yang mengkilat. Sehingga membuat Darren sejak menikah dengan wanita bar-bar itu selalu berusaha untuk tidak membuat rumahnya kotor serta berantakan. "Ingat, buang sampah pada tempatnya."
__ADS_1
Darius menimpali, "Siap Bos, jangan lupa beliin martabak sama tranbulan, karena sepertinya aku juga ngidam sama kek Agna," celetuk Darius sambil mengelus perutnya.
"Ya ampun, sejak kapan Darius menjadi orang gila? Apa ini semua gara-gara kamu kelamaan jomblo oleh sebab itu kamu menjadi seperti ini?" Darren menggeleng-gelengkan kepalanya sambil komat kamit seperti orang yang sedang membaca mantra.
"Sonoh! Aku cuma bercanda." Darius kemudian terlihat malah kembali fokus menonton tv pada saat ia sudah mengatakan itu.
🍂🍂
"Perasaan lama banget, ngomongin apaan sih, sama bermulut lemas itu?" tanya Agna dengan nada suara yang sedikit sewot. "Dikasih waktu lima menit saja malah lebih 2 menit!" gerutu Agna pada saat Darren akan mulai menjalankan mobilnya.
"Maaf, tadi itu aku sempat mengambil kunci mobil yang ketinggalan di kamar," jawab Darren. "Aku juga sempat menyuruh Darius untuk mengunci pintu dapur," sambung laki-laki itu, berharap supaya sang istri tidak marah padanya.
"Agna tidak ada yang berpikiran kool seperti itu, isi otakmu saja yang selalu saja berpikiran buruk pada orang lain," timpal Darren yang sekarang sudah mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya yang luas. "Aku sama Darius sama sekali tidak mengatakan apapun, apalagi membicarakanmu yang bukan-bukan."
"Itu alasanmu saja. Padahal di belakangku mulutmu komat kamit terus sambil mengelus dada." Agna sekarang malah membuang pandangan ke arah samping. Dimana ia sekarang bisa melihat roda dua bahkan roda empat dari jendela. "Ngaku saja, apa susahnya coba. Tinggal bilang iya tanpa harus ada drama pembelaan seperti itu."
"Aku mohon hentikan Agna, aku ini baru saja sembuh. Jadi, jangan membuat sakitku kambuh lagi." Darren sempat menoleh demi melihat sang istri. "Bukankah kita juga harus mencari mangga muda?"
"Nggak jadi! Kita pulang saja. Putar balik mobilnya." Agna jika sudah seperti ini maka wanita hamil itu sedang ngambek.
__ADS_1
"Kita tidak akan pulang sebelum mendapat mangga muda," kata Darren yang tidak mau pulang sebelum mendapatkan mangga muda seperti yang Agna mau.
Agna tidak menimpali wanita itu lebih memilih untuk bungkam seperti biasa.
***
Sudah dua jam lamanya Darren mencari mangga muda, tapi sampai sekarang laki-laki itu tidak bisa menemukan apa yang Agna inginkan. Sehingga membuatnya merasa sedikit prustasi karena Darren sedikit takut jangan sampai gara-gara ini mood Agna akan kembali berantakan.
"Kita pulang saja, aku sudah tidak menginginkan mangga muda itu lagi." Dengan wajah datarnya Agna mengatakan itu pada sang suami.
"Satu kali putaran lagi, jika tidak ada maka kita akan langsung pulang saja," sahut Darren yang sekarang terus saja celingak-celinguk karena laki-laki itu sering melihat orang jualan rujak keliling di jalan itu. Membuat Darren terus saja berdoa supaya kang rujak yang sering ia lihat itu akan laki-laki itu lihat lagi. Supaya Agna malam ini bisa makan mangga muda yany dicocol bon cabe. "Hm, seandainya ada dagang rujak apa kamu mau di belikan disana saja mangga mudanya?"
Mendengar nama rujak air liur Agna seolah-olah terasa mau menetes saat itu juga. "Boleh, aku mau rujak. Nanti di rumah campur bon cabe."
Tepat ketika Agna mengatakan itu dagang rujak yang tadi Darren maksud kini terlihat sedang mangkal di trotoar.
"Itu dagang rujaknya." Agna heboh sendiri. Tapi wanita itu tidak tahu kalau di dagang rujak itu ada Dave juga Kara yang sedang mengantri membeli rujak.
"Itu Miss Kara sama Dave sedang apa kira-kira mereka disanaa?" Darren menyipitkan mata demi melihat Kara dan Darren.
__ADS_1
"Budu amat, mereka mau apa yang penting aku mau rujak, ayo turun." Wajah Agna begitu ceria.