Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Tidak Sadarkan Diri


__ADS_3

"Wah, senang bertemu dengan Anda Tuan Al." Bukannya merasa takut Sopian dengan angkuhnya menyapa Al. "Saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena Anda telah mau datang jauh-jauh kesini hanya untuk melihat putri serta cucu kesayangan Anda meregang nyawa. Sungguh sangat luar biasa sekali." Dokter itu lalu terdengar tertawa terbahak-bahak karena ia merasa bahwa apa yang terjadi saat ini sangatlah lucu.


"Ren, biar Ayah yang mengurus penjahat ini. Tugasmu hanya perlu menyelamatkan Agna dan Nawa sebelum semuanya terlambat. Pakai ini supaya kamu tidak menghirup asap yang beracun itu." Al terlihat melempar tas yang berisi baju pelindung beserta penutup wajah supaya Darren tidak akan bisa menghirup asap beracun itu. 


"Baik Ayah." Darren berhasil menangkap tas itu dengan sempurna. "Tapi Ayah, pintunya tidak bisa di buka."


"Hahahaha, sebentar lagi mereka berdua akan menyusul putri semata wayang sayaq. Kalian siapkan saja acara pemakamannya," kata Sopian yang kini terlihat seperti mengejek Al dan Darren. "Dendam saya ini akan terbalaskan, kalian akan merasakan apa yang saya rasakan."


"Kurang ajar!" Al yang sangat marah langsung saja melayangkan tendangan ke arah perut Sopian. Membuat dokter yang belum siap menerima serangan mendadak itu jatuh tersungkur. "Kau juga harus lenyap di tanganku ini Dokter yang sangat keji!" Al mengambil kesempatan untuk menen dang tubuh Sopian yang masih saja duduk di lantai rumah sakit itu.


Tindakan Al itu berhasil membuat kunci ruang operasi yang ada di saku Sopian  malah terjatuh tepat di bawah kaki Darren.

__ADS_1


"Kunci itu, tidak. Jangan selamatkan mereka!" teriak Sopian sambil merangkak ingin mengambil kunci itu. Al hasil Darren dan Sopian menjadi rebutan kunci itu. Sehingga apa yang saat ini dilakukan oleh dokter itu membuat Al menjadi gelap mata. "Kembalikan kunci itu, kunci itu milik saya." Sopian terlihat terus saja mempertahankan kunci itu sehingga adegan tarik menarik dapat disaksikan.


Bukk … bukk … buuukkk …..


Al dengan brutalnya menghajar Sopian karena ayahnya Agna itu sudah benar-benar gelap mata. Di tambah pikirannya sudah sangat tidak karuan di saat ia mengingat Agna dan Nawa yang masih saja terjebak di dalam ruangan yang memiliki asap beracun itu.


"Rasakan ini, dasar penjahat yang berkedok sebagai Dokter." Al mengajar Sopian sampai dokter itu melepaskan kunci itu. "Cepat Ren, biar Ayah yang akan mengurus si tua bangka ini." Al mengatakan itu sambil menyeret tubuh lemah Sopian supaya menjauh dari sana. Jelas saja Sopian tidak akan pernah bisa menang melawan Al mengingat Sopian sudah hampir game over. "Selamatkan Agna serta cucu Ayah!" seru Al sebelum ia mempercepat langkah kakinya untuk menyeret tubuh Sopian.


Darren terlihat tidak sempat mengangguk sebab ia saat ini sedang berusaha memasang alat pelindung yang tadi Al berikan padanya.


"Agna dimana kamu sayang?" Setelah berhasil masuk Darren langsung saja terlihat mencari keberadaan anak serta istrinya dengan seluruh badan yang sudah sangat gemetaran. Pada saat ia melihat gumpalan asap itu sangat tebal. "Agna, aku di sini. Dimana kamu sayang?"

__ADS_1


"Tolong aku ...." Lirih Agna samar-samar.


"Agna." Mata Darren langsung saja tertuju pada kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu. Tanpa perlu berlama-lama Darren bergegas menuju ke sana.


Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama kini Darren sudah berhasil menemukan Agna yang masih saja terlihat memeluk tubuh Nawa dengan sangat erat.


"Agna." Darren langsung saja berjongkok sambil mengeluarkan selimut tebal dari sebuah tas yang ia bawa tadi. "Bertahanlah sayang, semua akan baik-baik saja."


"Selamatkan Nawa, selamatkan putra kita." Suara Agna terdengar sangat berat. Tidak lama wanita itu terihat memejamkan matanya. Detik berikutnya Agna sudah tidak sadar kan diri.


"Agna, aku akan selamatkan kalian berdua. Aku mohon bertahanlah." Darren mengangkat tubuh Agna yang posisinya masih sangat erat memeluk Nawa.

__ADS_1


💜💜


Jangan lupa komen biar Author semangat buat Up🥰


__ADS_2