Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Ingin Rujuk


__ADS_3

"Aku ini sua–" Darren tidak melanjutkan kalimatnya karena laki-laki itu baru saja menyadari sesuatu. Dimana dirinya dan Agna sudah berpisah. Jadi, Darren hanya bisa diam saja pada saat Agna mengatakan bahwa mereka tidak pernah saling kenal.


"Ayo Vin, kita pergi saja dari sini, karena seleraku untuk makan seafood menjadi hilang!" ketus Agna yang sebenarnya merasa sedikit malu jika saat ini para pengunjung kedai itu melihat ke arahnya. "Vin, jangan diam saja ayo kita segera pergi. Daripada nanti si gila ini mengamuk lagi." Agna sempat terlihat mengusap sudut bibit Malvin yang berdarah sehingga perbuatannya itu malah membuat Darren semakin meradang.


"Apa-apaan kamu Agna! Berani-beraninya kamu menyentuh laki-laki lain selain aku!" Darren menepis tangan Agna yang tadi terulur. "Sekarang lebih baik aku antar kamu pulang saja, daripada kamu disini malah bermesraan bersama laki-laki yang tidak jelas asal usulnya ini." Sesaat setelah mengatakan itu Darren tanpa perasaan malah menyeret Agna supaya keluar dari kedai itu.


"Lapas! Anda tidak berhak melakukan ini pada saya." Agna berusaha memberontak. Akan tetapi, tiba-tiba saja Darren malah menggendongnya. "Turunkan saya!" Agna memu kul-mu kul dada bidang Darren. "Lepas!" Agna sekarang malah mencakar-cakar leher laki-laki itu dengan kukunya yang tajam. Sehingga leher Darren sedikit mengeluarkan darah.


"Hentikan Agna! Kita pulang sekarang dan selesaikan masalah ini di rumah. Lagipula aku sudah menghubungi Mami juga Papi," kata Darren sambil terus saja melangkahkan kakinya menuju ke tempat parkiran. "Kamu juga, jangan menggunakan bahasa formal karena aku tidak suka mendengarnya."


Sedangkan Malvin yang melihat itu semua hanya bisa diam saja, karena ia pikir bahwa dirinya tidak berhak melakukan apapun. Disaat posisinya sekarang ini hanya sebagai dokter psikiater saja. Bukan siapa-siapa bagi Agna, sehingga membuatnya menjadi membiarkan Darren membawa wanita yang Malvin taksir pergi begitu saja.


"Maafkan aku, Agna, karena aku tidak berhak ikut campur saat ini," gumam Malvin lirih saat dokter psikiater itu membatin. Sambil menatap punggung Darren yang semakin menjauh dari pandangannya. Ia juga langsung mengirim pesan pada Al memberitahu ayahnya Agna itu tentang Darren yang tiba-tiba saja datang dan membawa Agna pergi begitu saja.


"Malvin! Tolong aku!"


Suara Agna terdengar samar-samar di indera pendengaran Malvin. Tapi apa boleh buat tidak ada yang bisa laki-laki itu lakukan.


"Malvin, Vin ... tolong aku ...." Agna terus saja terdengar meminta tolong pada dokter psikiaternya itu.

__ADS_1


"Diam Agna! Sekarang kita harus pulang!" Darren membentak Agna, sebelum laki-laki itu memasukkan tubuh sang istri ke dalam mobil. "Kita harus selesaikan masalah ini secepatnya, biar kamu tidak berduaan seperti ini bersama laki-laki lain."


Bukk!


Darren menutup pintu mobil itu dengan sangat kasar, sehingga suaranya terdengar sangat nyaring.


"Dasar brengsek!" teriak Agna yang terdengar mulai mencaci maki Darren di dalam mobil itu.


🍂🍂


Diam itu yang Agna lakukan di sepanjang perjalanan, tidak sedikitpun dirinya memiliki niat untuk membalas ataupun sekedar menyahut apa yang saat ini Darren katakan pada dirinya.


"Cukup! Mau aku kegatelan atau tidak itu bukan urusan kamu! Karena kita ini sudah tidak ada hubungan apapun lagi!" Suara Agna melengking saking sakit hatinya ketika ia mendengar Darren mengira dirinya kegatelan. "Aku tidak menyangka hal seperti ini saja kamu urus, padahal aku sama sekali tidak ada niatan untuk mengurus laki-laki pengecut sepertimu."


"Kamu tidak paham dengan apa itu dosa Agna, sehingga kamu berkata seperti itu." Darren yang benar-benar sangat marah mengemudi dengan kecepatan tinggi. "Aku ini hanya tidak ingin melihatmu terjerumus dalam lembah dosa itu, apa kamu paham dengan apa yang aku katakan saat ini?"


Agna menghela nafas, lalu ia menghembuskannya dengan sangat kasar. Sungguh saat ini rasanya wanita ingin meneriaki Darren, hanya gara-gara laki-laki itu terus saja membahas masalah dosa juga masa iddah.


"Ngaca dulu baru kamu bicara seperti itu, apa kamu pikir bahwa kamu ini tidak berdosa? Membawa anak orang pergi secara diam-diam." Agna tersenyum getir. "Aku saja yang kamu anggap berdosa, sedangkan kamu yang menceraikan aku tanpa tahu salahku dimana. Malah dengan sombong dan angkuhnya ka–"

__ADS_1


"Kita rujuk!" potong Darren cepat. Sebelum kalimat Agna selesai.


"Rujuk katamu? Apa kamu sudah tidak waras? Main menceraikan aku begitu saja dan kamu malah meminta rujuk padaku lagi. Sungguh kamu laki-laki plin-plan yang pernah aku kenal." Sudut mata Agna mulai berair karena ia pikir bahwa Darren benar-benar sedang mempermainkan perasaannya saja. "Jangan harap aku ingin kembali lagi pada laki-laki egois sepertimu!"


"Terserah apa katamu, yang terpenting kita akan rujuk," kata Darren mengulangi kalimatnya sekali lagi. "Biar aku perjelas kita akan rujuk Agna, itu artinya aku dan kamu akan kembali bersama lagi."


Agna tertawa dengan sangat renyah, bersamaan dengan itu juga air mata wanita itu jatuh membasahi kedua pipi mulusnya.


"Apa begitu rendahnya harga seorang wanita dimatamu Tuan, sehingga kamu setega ini mempermainkan perasaanku. Dimana hati nuranimu? Apa memang sifat laki-laki yang memiliki dua gelar sepertimu selalu saja begini?" Tidak bisa dipungkiri bahwa Agna berpikiran bahwa Darren adalah laki-laki yang mungkin saja ingin menang sendiri. Lebih tepatnya Darren, laki-laki yang sangat egois di mata Agna saat ini.


"Sudah kukatan, lebih baik kamu diam saja saat ini Agna. Daripada kamu hanya membuang-buang energimu saja." Darren malah semakin mempercepat kecepatan mobilnya ketika ia mengatakan itu, karena laki-laki itu tidak suka mendengar deretan kalimat Agna yang tadi.


"Kamu seharusnya, yang diam saja!" Agna membentak Darren. "Kamu memang diciptakan tidak memiliki hati nurani Darren, kamu hanya laki-laki pengecut dan pecundang!" Agna menarik tangan Darrej sehingga sehingga sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi juga.


"Awas Agna!" Terdengar Darren berteriak sebelum pengelihatan laki-laki itu menjadi gelap gulita.


Namun, Darren masih bisa mendengar samar-samar suara hantaman yang sangat keras, ia juga mendengar suara orang-orang yang riuh.


Sedangkan Agna terlihat terpental keluar dari dalam mobil itu, karena sebelum semuanya terjadi Darren tadi sempat mendorong wanita itu keluar dari dalam mobil tersebut, dan untung saja jalan raya itu tidak terlalu ramai sehingga membuat Agna terlihat berguling-guling sambil memegang perutnya. Sampai di ujung terotoar, wanita itu juga langsung saja pingsan saking kagetnya dengan apa yang menimpanya pada saat ini.

__ADS_1


__ADS_2