Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Positif Hamil


__ADS_3

Pada saat Alea dan Agna masih saja mengobrol, tiba-tiba saja dokter kandungan terlihat masuk ke dalam ruangan itu.


"Selamat malam," sapa dokter kandungan yang bernama Naya.


"Naya." Saat Alea berbalik wanita itu langsung saja bisa mengenal dokter itu, karena rupanya Naya adalah teman Darren yang dulu pernah dekat dengan sang putra.


"Tante, apa kabar?" Naya semakin melebarkan senyumannya pada saat dokter itu baru saja menyadari kalau di dalam ruangan itu ada Alea, wanita paruh baya yang dulu sempat Naya nobatkan menjadi ibu mertuanya itu.


Alea melambaikan tangannya. "Sini Nay, periksa dulu menantu Tante apakah benar di dalam sini sudah ada cucu Tante." Alea saking senangnya wanita paruh baya itu sampai mengabaikan pertanyaan Naya yang menanyakan tentang bagimana kabarnya. "Nay, cepat kamu periksa menantu, Tente."


Agna yang dari tadi hanya diam saja sangat heran ketika mendengar Alea mengatakan sudah ada cucu di dalam perutnya, karena tadi Alea sempat menunjuk serta mengelus perut Agna yang masih datar. Sehingga membuat wanita itu saat ini malah dibuat semakin bingung dan sekarang Agna hanya bisa diam saja.


"Darren sudah menikah?" Mimik Naya begitu terkejud saat mengetahui jika saja laki-laki yang sempat ia suka itu tiba-tiba di kabarkan sudah menikah. Membuat Naya benar-benar tidak percaya karena tidak ada kabar sekarang status Darren sudah memiliki istri bahkan mungkin saja saat ini Agna tengah mengandung, karena setahu dokter itu bahwa Darren adalah putra satu-satunya dari pasangan Hugo dan Alea membuat Naya langsung saja bisa mengatakan itu.


"Kamu nggak tahu?" Alea bertanya balik pada Naya.


Namun, pada detik berikutnya dengan cepat Alea malah berkata, "Jangan bahas itu dulu Nay, yang terpenting sekarang kamu periksa dulu menantu Tente."


"Tante benar, kalau begitu aku periksa dulu." Naya sekarang menatap Agna yang terlihat hanya diam saja dari tadi. "Apa Tante bisa tunggu aku di luar dulu?" Naya bertanya, karena ia merasa jika saja Agna tidak mau di periksa jika di dalam ruangan itu ada Alea.


"Kenapa Tante harus keluar?" Alea berdiri saat wanita itu bertanya, pada dokter yang akan memeriksa Agna itu.


"Mungkin saja menantu Tante malu jika di periksa saat masih ada Tante di sini," jawab Naya, yang tidak memiliki maksud apa-apa.

__ADS_1


"Periksa saja aku, tidak apa-apa Mami tetap disini." Agna pada akhirnya membuka suara setelah wanita itu dari tadi hanya diam saja. "Dok, sekarang periksa saja aku, supaya aku tahu apakah diriku ini masuk angin atau malah memiliki penyakit yang serius," sambung Agna.


"Baiklah, kalau begitu." Naya kini mendekat ke arah bed Agna. Dokter itu juga terlihat mengeluarkan tastpack dan langsung saja memberikannya pada Agna.


"Jika kita ingin tahu apakah menantu Tante sedang mengandung atau tidak, silahkan cek menggunakan ini." Naya menatap Alea dan Agna secara bergantian.


Agna menggleng. "Aku hanya merasa pusing dan mual, bukan malah hamil." Agna tidak mau mengambil alat pengecek kehamilan itu.


"Coba dulu, supaya kita tahu." Naya terus saja menyerahkan tastpack itu pada Agna.


"Iya Sayang, kamu sekarang cek gih, biar kita tahu." Alea membantu Agna untuk bangun. "Apa kamu mau Mami yang akan menemani kamu ke kamar kandi?"


Agna yang mula-mula tidak mau pada akhirnya memutuskan untuk mengambil testpack itu, karena ia tidak akan mungkin masih saja teguh dengan pendiriannya disaat


wanita itu melihat mata Alea yang terlihat terus saja berbinar-binar bahagia.


"Ya sudah, Mami tunggu dulu kamu disini. Semoga hasilnya sesuai dengan apa yang saat ini Mami harapkan." Alea lalu terlihat hanya mengantar Agna saja sampai ke kamar mandi, wanita itu tidak ikut masuk.


Agna merespon Alea hanya mengangguk kecil sebelum ia menutup pintu kamar kamdi itu.


"Aku hanya mual dan pusing, tapi malah disuruh cek air urine," gumam Agna membatin. "Amit-amit aku nggak mau mengandung anak laki-laki brengsek itu," sambung Agna dengan perasaan yang tidak menentu.


🍂🍂

__ADS_1


Pada saat Agna mengangkat testpack yang bergaris dua, tubuh wanita itu terasa sangat lamas Agna seolah-olah tidak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat.


"Tidak mungkin, aku tidak mungkin hamil." Agna membuang tastpack itu sambil menutup mulutnya, ia juga terlihat menggeleng dengan sangat kuat. "Kenapa bayi ini harus tumbuh di dalam rahimku, disaat aku ingin berpisah dengan laki-laki itu?" Agna menggigit bibirnya, pada saat suara isak tangisnya malah mulai terdengar.


"Mungkin saja aku sedang berimpi saat ini," kata Agna yang terlihat beberapa kali mencubit lengannya sendiri ia juga menampar pipinya dengan keras. "Akhh, sakit ... rupanya aku tidak sedang bermimpi." Agna lagi-lagi menggeleng dengan sangat kuat.


"Agna, bagimana?" Terdengar suara Ranum yang sekarang sedang bertanya pada putrinya. Rupanya wanita itu sudah datang untuk melihat keadaan putrinya.


"Bunda," gumam Agna pelan yang sekarang terlihat mengusap lelehan air matanya.


Ranum diluar malah terdengar mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali, karena ia takut jika saja putrinya di dalam kamar mandi itu malah pingsan. Sebab Agna di dalam sana hanya diam saja tidak menyehut dirinya.


"Agna, Agna ... Na, buka pintunya. Ini Bunda 'Nak," kata Ranum yang terus sana menggedor pintu itu. "Nak, buka ini Bunda sudah datang."


Agna yang masih saja shock langsung saja terlihat membuka pintu itu, sehingga Agna bisa melihat raut wajah sang ibu yang saat ini panik.


"Bunda ...." Agna berhambur ke dalam pelukan Ranum. "Bun, aku tidak mau! Aku benar-benar tidak mau." Wanita itu terus saja mengatakan itu berulang-ulang kali.


Ranum yang tidak mengerti maksud dari sang putri hanya bisa mengelus lembut punggung Agna, karena Ranum merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menanykan tentang apa yang terjadi saat ini.


"Agna, bagimana apa hasilnya positif?" tanya Alea yang tidak sabar ingin mendengar kabar yang sangat membahagiakan itu bagi dirinya dan semua orang yang saat ini sedang ada di ruang rawat inap itu.


Agna yang ditanya malah memilih diam saja, karena wanita itu tidak sanggup mengatakan kebenarannya tentang dirinya yang saat ini malah positif hamil.

__ADS_1


"Jeng, biarkan Agna tenang dulu," kata Ranum sambil menunjuk testpack yang tergeletak di lantai kamar mandi itu.


Alea mengangguk kemudian wanita itu masuk ke dalam kamar mandi untuk melihat hasilnya. Apakah sang menantu hamil atau tidak.


__ADS_2