Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Hati yang Rapuh


__ADS_3

Setelah merasa agak sedikit tenang Daren langsung saja membawa Agna ke rumah sakit karena wanita hamil itu terus saja menanyakan bagaimana keadaan Al padahal Darren sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan ayah mertuanya itu.


"Sayang, Ayah pasti baik-baik saja. Kamu harus tetap tenang." Darren berusaha meyakinkan Agna meskipun ia sendiri tidak yakin.


"Ayah kecelakaan, bagaimana mungkin aku bisa tenang? Di saat aku tidak tahu bagaimana keadaan serta kondisinya saat ini." Gemetar, tubuh Agna gemetaran karena bayangan Al yang terbaring lemah di rumah sakit tiba-tiba saja menghantui dirinya. "Melajukan mobilnya lebih cepat lagi karena kita harus cepat sampai ke rumah sakit. Ayo Om suami, jangan bawa mobilnya lelet seperti ini." Sekarang Agna terdengar menyuruh Darren untuk mempercepat laju mobilnya. 


"Sayang, lihatlah. Saat ini kondisi jalanan yang sangat ramai tidak memungkinkan aku untuk mempercepat mobil ini. Bisa-bisa aku malah akan menabrak orang nantinya." Darren memberikan pengertian pada Agna karena memang benar saat ini jalanan terlihat sangat ramai entah ini karena malam minggu atau memang jalan yang Darren lalui ini memanglah selalu ramai setiap malam. "Mau mobilnya melaju kencang atau lambat, kita akan tetap sampai di rumah sakit, Sayang. Jadi, kamu cukup tenang dan berdoa saja supaya Ayah cuma luka ringan saja."


"Jika Ayah hanya luka ringan saja, maka Bunda tidak akan menangis seperti itu. Suara Bunda juga terdengar sangat berbeda membuatku menjadi berpikir kalau saja Ayah terluka parah karena kecelakaan yang menimpanya." Sambil mengusap air matanya Agna terlihat tetap menatap lurus ke depan. Ia juga tidak menyuruh Darren untuk mempercepat laju mobil itu lagi karena Agna mulai memikirkan keselamatannya, bayi yang ada di rahimnya, dan juga keselamatan sang suami. Sebab wanita hamil itu tidak mau jika saja kejadian ketika ia hamil Nawa malah terulang lagi. Membuatnya merasa harus tetap waspada dan berhati-hati dimanapun ia berada.


"Buang pikiran burukmu itu Sayang karena Ayah di rumah sakit saat ini memang baik-baik saja," kata Darren yang masih saja terus meyakinkan Agna. Meskipun ia tahu kalau ikatan batin seorang anak dan kedua orang tuanya sangatlah kuat.


Meski tidak yakin Anga terlihat tetap mengangguk karena percuma saja ia terus mengatakan kalau saja Al terluka parah. 


"Tuhan, tolong jangan berikan aku ujian seperti ini lagi. Sungguh kali ini pundakku tidak kuat untuk memikulnya sudah sangat cukup Engkau mengambil Mami. Jangan ambil Ayahku juga." Entah mengapa Agna sampai berdoa seperti itu di dalam benaknya. Saat ia sama sekali belum tahu bagaimana keadaan sang ayah. "Lindungi Ayahku Tuhan, semoga dia benar-benar baik-baik saja."

__ADS_1


***


"Bunda." Agna langsung saja memeluk Ranum pada saat ia melihat wanita yang telah melahirkannya itu bercucuran air mata. "Bagaimana kondisi Ayah? Apa Ayah baik-baik saja?"


"A-Ayah … Ayah masih ada di ruang operasi karena kepalanya terbentur di trotoar sehingga dia terluka parah Agna." Ranum tidak sanggup menceritakan semuanya. Sehingga wanita itu hanya bisa menceritakan intinya saja setelah itu ia kembali menangis histeris karena ia takut terjadi sesuatu pada cinta pertama dan terakhirnya itu. "Suruh Darren masuk supaya dia bisa melihat bagaimana keadaan Ayah kamu Agna." Sekarang Ranum terdengar menyuruh Darren untuk masuk ke dalam ruang operasi dengan suara seraknya.


"Maaf Bunda, bukan aku tidak mau. Tapi … ini bukan rumah sakit tempatku bekerja. Jadi, aku tidak memiliki hak untuk asal nyelonong masuk begitu saja. Aku bisa kena sanksi karena telah melanggar peraturan. Sebab beda rumah sakit beda sanksinya." Darren berharap kalau saja Ranum mengerti dengan apa yang dikatakannya tadi. "Aku benar-benar minta maaf Bunda karena tidak bisa ikut menolong Ayah di saat situasi seperti ini."


"Bun, apa yang Om suami katakan memang benar. Bahwa kita tidak boleh asal masuk saja." Rupanya sebagai dokter bedah Agna juga tahu apa yang tadi Darren katakan. "Semoga operasinya berjalan lancar, siapapun yang menangani Ayah. Semoga mereka tidak ada kendala." Meski hatinya saat ini sangat rapuh, Agna terus saja mencoba untuk menenangkan sang ibu karena ia sudah berada di posisi Ranum saat ini ketika Darren dan dirinya waktu itu mengalami kecelakaan. "Pokoknya  Bunda harus sabar, Bunda harus tabah. Anggap saja ini sebuah ujian untuk menggugurkan semua dosa-dosa Bunda. Kita juga harus saling menguatkan satu sama lain."


"Tidak ada yang akan terjadi pada Ayah karena Ayah laki-laki yang kuat." Agna mengelus lembut pundak Ranum. Sehingga ia tidak menyadari kalau saja sang ibu sudah pingsan di dalam pelukannya.


"Sayang, Bunda pingsan." Darren yang melihat mata Ranum terpejam langsung tahu kalau saja ibu mertuanya itu sedang pingsan.


"Om suami, tolong aku. Kita bawa Bunda ke ruang yang tidak ada pasiennya." Agna terlihat berusaha menahan tubuh Ranum supaya tidak jatuh.

__ADS_1


"Biar aku saja yang menggendong Bunda." Darren langsung mengambil tubuh Ranum, lalu ia menggendongnya karena ia harus membawa tubuh Ranum ke ruangan yang tidak ada pasiennya seperti kata Agna tadi.


***


"Bagaimana ini, Bunda belum juga sadar. Padahal Bunda pingsan sudah hampir dua jam lamanya." Agna menggigit kukunya sambil terus saja mondar-mandir. "Apa yang harus kita lakukan Om suami? Keadaan Ayah juga belum kita tahu sampai saat ini."


Ketika Agna terus saja mondar-mandir sambil memikirkan kedua orang tuanya, terlihat seorang suster malah keluar dari dalam ruang operasi. Membuat Agna yang melihat itu bergegas menghampiri suster itu hanya untuk sekedar menanyakan bagaimana keadaan sang ayah.


"Permisi Sus, apa saya boleh tahu bagaimana keadaan Ayah saya saat ini di dalam sana?" tanya Agna dengan perasaan yang tidak karuan.


"Maaf Nyonya, saya sedang buru-buru karena saya harus mengambil kantong darah dulu sebab kantong darah yang sudah disiapkan di dalam sudah habis. Untuk pertanyaan Anda nanti ketika Anda kembali baru saya akan menjawabnya." Ketika Suster itu akan pergi tiba-tiba saja Darren malah mencengkram pergelangan tangan Suster itu.


"Jawab, bagaimana keadaan mertua saya? Suster tinggal menjawab sejujur-jujurnya." Darren memelototi suster itu.


"Pasien mengalami pendarahan, sehingga saya tidak bisa menyimpulkannya sendiri karena saya bukan Dokter." Suster itu lalu pergi begitu saja setelah berhasil melepaskan cengkraman tangannya dari Darren.

__ADS_1


"Pendarahan." Agna langsung saja luruh ke lantai karena ia tahu bahaya jika terjadi pendarahan apalagi pendarahannya itu letaknya pada kepala. "Om suami, Ayah. Ayah harus selamat." Agna menangis tanpa suara, dadanya terasa sangat sesak karena cinta pertamanya sedang berjuang di dalam sana antara hidup dan mati.


__ADS_2