
"Selingkuh?" Agna semakin menjadi bertambah bingung pada saat ia mendengar apa yang saat ini sang suami tuduhkan padanya.
"Sudahlah Na, aku sudah tahu kalau kamu dan Dave masih memiliki hubungan di belakangku. Jadi, katakan jika kamu bosan supaya aku bisa meleโ"
"Jangan permainkan kata talak lagi, aku mohon karena apa yang Om suami tuduhkan itu tidak benar apa adanya," potong Agna dengan cepat karena ia tidak mau jika saja sang suami akan salah bicara lagi padanya. "Aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan laki-laki itu, percayalah kalau aku ini tidak membual saat ini padamu Om suami." Agna terdengar terus saja meyakinkan Darren.
"Alasan!" desis Darren yang sekarang terlihat menjauh dari Agna setelah mengatakan itu. Darren juga merasa tidak mau mendengarkan apa yang wanita hamil itu katakan.
Sebab Darren merasa cemburu, juga merasa takut jika saja Agna nanti malah akan meninggalkan dirinya. Darren juga marah karena hanya gara-gara dirinya dapat kiriman foto dari salah satu mata-mata yang sengaja ia bayar untuk mengawasi sang istri. Mengirimi dirinya potret Agna dan Dave yang sedang duduk berdua di perpustakaan sehingga membuat darahnya terasa seperti mendidih.
"Om suami, ayolah jangan seperti ini aku mohon ...." Agna mengejar Darren. Akan tetapi, laki-laki itu malah membanting pintu kamar mereka karena laki-laki itu menjadi sedikit ragu jika saja Agna akan setia. "Tuhan, apalagi ini?" Lirih Agna yang tiba-tiba saja malah merasa perutnya menjadi kram. Sehingga membuat wanita itu berjalan dengan sangat hati-hati menuju sofa karena dirinya merasa tidak bisa menjelaskan semuanya lagi pada Darren disaat perutnya terasa kram seperti saat ini.
"Sepertinya aku tidak bisa menjelaskan semuanya pada Om suami karena perutku tiba-tiba saja kram, sehingga tidak memungkinkan untuk diriku ini memberitahunya," gumam Agna membatin dimana sekarang perutnya malah semakin terasa kram, nyeri dan sakit. Sehingga membuat keringat dingin mulai bercucuran di pelipis wanita hamil itu. "Aku harus menghubungi Bunda karena aku tidak tahan," sambung Agna membatin yang sekarang malah terlihat mengambil benda pipihnya karena ia benar-benar ingin menghubungi sang ibu. Mengingat belakangan ini perut Agna sering saja kram seperti ini.
"Bunda ...," gumam wanita hamil itu pada saat nomor Ranum tidak aktif. "Ayah, aku harus menghubungi Ayah." Sekarang Agna terlihat akan menghubungi Al berharap nomor sang ayah aktif tapi sayang, nomor Al juga malah tidak aktif membuat Agna malah kembali lagi meletakkan ponselnya. "Mungkin Bunda juga Ayah lagi sibuk sehingga nomor mereka tidak aktif," kata Agna yang sekarang terus saja mengelus-ngelus perut buncitnya.
"Anak Mama sayang, sabar ya karena sebentar lagi kamu akan melihat dunia, mohon bersabar jangan malah membuat perut Mama menjadi kram begini. Tolong maafkan Mama." Agna terus saja berbicara pada bayi yang ada di dalam perutnya sambil terus saja mengelus perut buncitnya dengan penuh perasaan sayang.
Hingga pada detik berikutnya, suara bel pada apartemen itu berbunyi, tapi karena perut Agna kram wanita itu malah diam saja duduk di sofa.
"Om suami, tolong bukakan pintunya!" seru Agna yang sekarang meminta tolong pada Darren. "Om suami! Ada tamu!" Agna terdengar setengah berteriak pada saat wanita hamil itu memanggil Darren.
Namun, suaminya itu tidak merespon apa yang Agna katakan membuat wanita berperut buncit itu menghela nafas lalu menghembuskannya dengan sangat kasar.
"Aku lupa jika saja Om suami sedang marah padaku," ucap Agna yang sekarang malah mencoba untuk berdiri meskipun ia saat ini sedang berusaha menahan rasa sakit pada perutnya, demi bisa membuka pintu apartemen itu untuk orang yang terus saja memencet bel. "Sayang Mama, baik-baik di dalam sampai hari H itu." Agna sempat mengukir senyum indah pada saat mengajak calon bayinya berbicara sebelum wanita itu terlihat berjalan ke arah pintu dengan sangat hati-hati sekali.
Akan tetapi, tiba-tiba saja pintu apartemen itu malah terbuka dengan sendirinya sehingga terlihatlah Alea yang sedang membawakan perlengkapan bayi untuk sang menantu kesayangan seta calon cucu pewarisnya.
__ADS_1
"Agna, ya ampun kamu kenapa sayang?" Alea langsung saja meletakkan barang yang wanita paruh baya itu bawa di lantai karena saat ini dirinya merasa panik pada saat melihat wajah Agna yang pucat pasi ditambah keringat dingin yang terus saja mengalir dedar pada pelipis wanita berperut buncit itu.
"Mami, syukurlah Mami datang. Mi sekarang aku minta tolong ... tolong bantu aku karena perutku terus saja merasa sangat kram." Ada binar bahagia pada kedua bola mata Agna. Pada saat dirinya melihat sang ibu mertua yang datang berkunjung ke apartemennya seperti saat ini.
"Astaga, kenapa bisa begini sayang? Sepertinya kita harus pergi ke rumah sakit karena Mami takut akan terjadi sesuatu dengan calon cucu Mami." Alea dengan cepat menuntun Agna untuk kembali duduk di sofa, wanita paruh baya itu juga ingin memeriksakan bagaimana keadaan janin Agna sehingga perut menantu kesayangannya itu selalu saja merasa sering kram belangan ini. "Kita ke rumah sakit sekarang ya, Mami benar-benar takut terjadi sesuatu dengan cucu Mami."
Agna menatap pintu kamarnya dengan Darren sebelum berkata, "Mi, Om suami ada di dalam kamar. Dia sedang merajuk." Bukan maksud Agna mengadu pada mertuanya itu. Tetapi ia hanya ingin sedikit curhat pada Alea tentang Darren.
"Mami pikir dia sedang pergi terapi, terus kenapa laki-laki cacat tidak tahu diri itu terus saja merajuk?" Alea kesal pada putranya sehingga membuatnya malah berkata seperti itu karena wanita paruh baya itu tahu, kalau saja Darren sering merajuk seperti apa yang tadi Agna katakan hanya gara-gara masalah sepele. "Sudah syukur kamu mau bertahan dengannya, tapi lihatlah dia malah seperti anak kecil yang sedikit-sedikit merajuk, kapan dia akan menjadi dewasa lagi seperti dulu sebelum anak itu lumpuh?" Alea memang tidak pernah membela laki-laki itu meskipun Darren adalah putranya karena wanita paruh baya itu, lebih memilih untuk membela Agna yang nyata-nyata adalah menantunya.
"Mi, nggak boleh berkata seperti ... akhh!" Agna malah mengerang kesakitan pada saat perutnya malah terasa semakin sakit. "Mami, perutku." Wajah Agna semakin terlihat pucat pasi.
Alea yang memang merasa ada yang tidak beres dengan kandungan Agna segera menghubungi Hugo karena Alea sepertinya harus benar-benar membawa menantunya itu untuk pergi ke rumah sakit.
"Kita ke rumah sakit sekarang sayang, ayo Mami bantu." Alea kini membantu Agna untuk berdiri setelah tadi ia juga membantu menantunya itu untuk duduk.
"Sudah tidak apa-apa, sekarang yang terpenting Mami bawa kamu dulu ke rumah sakit untuk Darren biarkan saja anak itu merenung di dalam kamar." Alea kemudian kali ini benar-benar bergegas pergi ke rumah sakit membawa menantunya.
Agna terus saja menatap pintu kamarnya itu karena dirinya semakin yakin kalau saja suaminya itu kali ini benar-benar sangat marah padanya.
"Ini semua gara-gara Dave, kalau saja laki-laki itu tidak mengajakku bicara pasti Om suami tidak akan menjadi marah begini." Agna membatin sambil menahan rasa sakit.
***
Setiba di rumah sakit Alea langsung saja membawa menantunya itu untuk keruangan yang biasanya Agna datangi untuk memeriksa kandungan.
"Kamu tunggu Mami di sini sebentar saja karena Mami mau panggilkan Dokter Jesika dulu," kata Alea.
__ADS_1
"Mami, aku takut." Agna memang saat ini merasa takut, takut jika saja hal buruk terjadi pada kandungannya karena dirinya tidak mau gara-gara itu Darren nanti malah akan menceraikan dirinya lagi. "Mi, aku benar-benar sangat takut. Maka dari itu jangan tinggalkan aku ... aku mohon." Agna terus saja memegang tangan sang mertua.
"Sayang, percaya sama Mami kalau tidak akan ada yang terjadi denganmu. Sekarang berbaringlah supaya Dokter Jesi bisa memeriksamu kalau dia sudah datang." Meski sebenarnya Alea juga sangat mencemaskan Agna juga calon cucunya akan tetapi wanita itu terus saja terlihat biasa saja. Padahal saat ini jantung wanita paruh baya itu berdetak lebih kencang dari sebelum-sebelumnya. "Mami akan kembali, kamu tunggu sebentar." Alea melepaskan cengkraman tangan Agna dari lengannya. Setelah itu ia langsung saja bergegas lari dari ruangan itu.
"Mami, jangan lama-lama!" seru Agna yang sekarang malah melingkarkan tangan pada perut buncitnya. Berharap supaya rasa kram serta nyeri pada perutnya sedikit berkurang.
Namun, bukannya semakin mereda kini perut Agna malah menjadi mules rasanya seperti orang yang mau buang air besar.
๐๐
Beberapa jam kemudian kini Jesika terlihat bicara dengan Hugo dan Alea.
"Tidak ada yang bisa saya lakukan selain mengambil tindakan yang sudah saya katakan tadi itu," ucap Jesika.
"Kenapa ini semua harus terjadi pada calon cucu kami, Dok?" Alea sudah dari tadi meneteskan air mata pada saat wanita paruh baya itu mengetahui kalau saja salah satu bayi yang ada di dalam perut Agna akan dikeluarkan karena ternyata bayi itu sudah tidak bernyawa lagi, dimana bayi yang baru berusia enam bulan dan sudah dinyatakan meninggal itu selalu saja menyebabkan perut Agna kram bahkan terasa sangat nyeri.
"Nyonya jangan khawatir bukankah Nona Agna hamil anak kembar, dan itu artinya cucu Nyonya dan Tuan masih ada satu lagi di dalam rahim Nona Agna setelah yang satu itu nanti dikeluarkan. Bagaimana apa sekarang Tuan dan Nyonya sudah mengambil keputusan?" Jesika menyodorkan kertas tanda persetujuan Agna yang akan di operasi hari ini juga karena Jesika takut jika saja nanti bayi Agna yang masih hidup malah akan menjadi terganggu gara-gara satu bayi itu jantungnya sudah benar-benar tidak berdetak lagi.
"Tunggu kedua orang tua Agna dan juga Darren datang karena kami harus mendiskusikan masalah yang sangat serius ini," jawab Hugo setelah pria paruh baya itu lama terdiam. Sebab ia merasa harus memberitahu Al, Ranum, dan juga Darren tentang ini dulu jangan sampai dirinya malah gegabah mengambil satu keputusan tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu. Mengingat Agna hanyalah menantunya saja. Jadi, Hugo juga merasa jika keputusan Darren adalah suatu keputusan yang mutlak karena laki-laki itu adalah suami dari Agna.
"Baiklah kalau begitu kita tunggu saja mereka datang," timpal Jesika yang memutuskan untuk menunggu saja. "Kalau begitu saya permisi dulu karena masih ada ibu-ibu hamil yang harus saya periksa hari ini," sambung Jesika.
...****************...
NOTE: Sapaan untuk para pembaca Ayuza๐น๐
__ADS_1