Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Wangi Parfum


__ADS_3

"Kalau sudah jelas begini, saya dan istri saya haus pulang dulu Pak Hugo, karena adiknya Agna yang kecil kami tinggalkan di rumah. Jangan sampai dia nangis jika kami telat pulang," kata Al yang merasa sudah cukup ia mendengarkan solusi Hugo, dan pria itu juga sangat setuju karena rupanya Al dan Hugo sudah membicarakan hal ini sebelumnya ketika mereka sedang menuju ke rumah Darren. Sebab Al juga Hugo mereka satu mobil sedangkan Alea, Ramun, Agna bersama Darren di satu mobil yang lain.


"Jeng Alea, Pak Hugo kalau begitu kami pamit dulu. Nanti kalian belakangan." Ranum bersalaman pada Hugo juga Alea. Tidak lupa ia juga bersalaman dengan Agna dan Darren. "Bunda pamit dulu Sayang, karena sepertinya Bunda tidak bisa menginap," ucap Ranum saat berjabat tangan dengan putri kesayangannya.


"Bun, nanti sering-sering ya, datang ke sini." Agna mengatakan itu saat wanita itu mencium punggung tangan sang ibu. "Harus janji, begitu juga dengan Mami, yang harus datang kesini sering-sering." Agna menatap Alea yang duduk di depan sana di batasi oleh meja.


"Kalau Mami nggak sibuk, pasti Mami akan sering ke sini," timpal Alea tersenyum.


"Iya Bunda juga sama seperti Mami kamu Na, yang pasti akan sering kesini kalau nggak sibuk." Sekarang Ranum mencium pipi Agna dengan rasa panuh kasih sayang, bukan cuma itu ia juga mendo'akan sang putri supaya rumah tangganya akan baik-baik saja dan tidak akan ada drama perpisahan ataupun perceraian. "Kalau begitu Bunda sama Ayah pamit pulang dulu, baik-baik sama suamimu jangan terus-terusan seperti anak kecil, oke."


Agna hanya bisa mengangguk, sebenarnya saat ini wanita itu sangat ingin memarahi Darren habis-habisan. Tetapi, karena janjinya pada sang mertua membuatnya harus tetap bertahan selama enam bulan.


"Biar aku antar Bunda dan Ayah sampai ke depan," kata Darren yang dari tadi hanya diam saja.


"Tidak usah, lebih baik kamu dan Agna segera istirahat saja. Kasihan istri kamu." Hugo mengatakan itu karena pria paruh baya itu memang ingin benar-benar membuat Darren dan Agna semakin kenal lebih dekat satu sama lain. "Biar Papi sama Mami yang antar mertuamu sekalian juga kami pulang bersama-sama," sambung Hugo yang kemudian berjalan mengikuti Al dan Ramun dari belakang.

__ADS_1


Sedangkan Alea masih terlihat ada di sana entah apa yang saat ini ingin disampaikan oleh wanita paruh baya itu pada putra serta menantunya saat ini seblum ia benar-benar pulang ke rumah utama.


"Jaga Agna baik-baik Ren, karena saat ini dia sedang mengandung cucu Mami," kata Alea. "Buat kamu juga Sayang." Kini Alea menatap Agna. "Kamu tolong jaga cucu Mami, karena bayi itu kelak akan menjadi pewaris di keluarga besar kita."


Agna mengiyakan Alea dengan cara mengangguk, ia juga pada saat itu langsung saja di peluk oleh ibu mertua yang sangat-sangat menyayangi dirinya tanpa ada drama mertua membenci menantu.


***


Setelah kedua orang tua mereka pergi terlihat Agna berjalan ke arah kamarnya, dan di belakangnya ada Darren yang mengikutinya.


"Aku capek Agna, tentu saja aku mau tidur," jawab Darren.


"Lalu, kenapa kamu malah mau masuk ke dalam kamarku?" Agna menyipitkan mata.


"Hanya enam bulan Agna, kamu jangan melupakan itu." Darren mengingatkan sang istri. "Tadi kamu setuju, begitupun denganku. Itu artinya kita mulai malam ini akan seperti pasangan suami istri sungguhan yang tidur bersama di ranjang yang sama.

__ADS_1


Agna menghela nafas, lalu menghembuskannya dengan sangat kasar. Kini wanita itu hanya bisa pasrah saja jika dirinya akan tidur bersama Darren selama enam bulan.


"Terserah kamu saja Ren, aku sudah capek, muak dan sangat bosan degan semua ini. Ditambah kamu yang tidak percaya dengan bayimu ini," gumam Agna pelan.


"Jangan bahas itu lagi, nanti kita buktikan saja melalui tes DNA ketika bayi itu lahir, sekarang yang harus kamu lakukan adalah istirahat saja." Sesaat setelah mengatakan itu Darren medahului istrinya. Sehingga membuat Agna langsung saja memejamkan mata karena entah mengapa wanita itu mendadak suka dengan aroma parfum milik Darren.


Dimana dulu Agna sangat membenci wangi itu, tapi sekarang Agna benar-benar sangat suka menghirup aroma itu. Sehingga membuat wanita itu tidak sadar mulai melangkahkan kaki mengikuti sang suami untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Besok pagi, kita sedikit ubah kamar ini supaya terlihat lebih luas, bagimana apa kamu setuju?" tanya Darren ketika laki-laki itu baru saja membuka pintu kamar itu.


"Aku tidak setuju," jawab Agna singkat. "Kenapa kita tidak tidur saja di kamarmu, supaya kamarku ini tidak di ubah-ubah?"


Darren malah menunjuk anak tangga. "Kamarku di lantai dua Agna, tidak mungkin aku akan membiarkanmu terus saja naik tangga setiap hari, karena nanti hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi dan ujung-ujungnya pasti aku yang di salahkan karena tidak becus menjadi seorang suami."


"Ya sudah, terserah kamu saja Darren." Agna lalu masuk terlebih dahulu ke dalam kamar itu, karena jujur saja rasa pusing serta mualnya masih terasa. Sehingga wanita itu sangat malas berdebat dengan sang suami.

__ADS_1


__ADS_2