
Pada saat Agna terus saja berlari tiba-tiba saja Darren malah menarik tangan wanita itu dari arah samping. Sehingga membuat langkah kaki wanita itu lagsung saja terhenti.
"Mau pergi kemana kamu?" tanya Darren yang kini malah semakin erat mencengkram tangan sang istri, yang hari ini membuat dirinya merasa kesal.
"Lepaskan saya!" Agna kemudian malah menggigit tangan laki-laki itu supaya Darren melepaskan tangannya, dan benar saja tidak lama suami Agna itu langsung melepaskan tangan wanita bar-bar itu. "Bapak selain mesum, ternyata Bapak juga sangat licik bahkan Bapak benar-benar sangat licik!" Agna menatap Darren sinis.
"Kita pulang, supaya masalah ini cepat selesai jangan malah mau pergi lagi bersama laki-laki itu. Disaat kamu ini adalah istri orang," kata Darren yang terdengar sekarang malah mengajak Agna untuk pulang. "Ayo pulang, jangan membuat masalah lagi hanya gara-gara kamu yang salah paham."
"Salah paham? Jutsu Bapak yang harus bertanya pada diri Bapak ini. Apakah yang Bapak lakukan sudah benar atau tidak? Apakah perbuatan Pak Darren yang sok baik akan membawa saya ke jalan yang lebih baik? Tapi perbuatan Bapak malah membuat saya tersesat, sungguh saat ini saya benar-benar membenci Bapak, karena sudah berhasil membuat Saras memihak kepada Bapak bukan saya yang temannya sejak masih balita!" Agna menunjuk-nunjuk dada bidang Darren. "Mulai sekarang saya memutuskan untuk tidak akan pernah kembali lagi ke rumah Bapak!" Agna yang marah tidak melihat sekelilingnya sehingga ia tidak sadar jika dirinya masih berada di lingkungan Universitas tempatnya menimba ilmu.
__ADS_1
Namun, Agna yang sudah terlanjur membenci Darren, sehingga ia tidak memperdulikan akan hal itu, karena Agna merasa bahwa tidak sebagian mahasiswa yang melihatnya saat ini wanita itu kenal.
"Kamu ini lama-lama seperti anak kecil Agna, tidak bisakah kamu bersikap dewasa sedikit saja. Ingat umurmu sudah 19 tahun. Tetapi, kelakuanmu masih seperti anak yang baru saja berumur 10 tahun." Darren yang hari ini merasa beban pikirannya terlalu banyak hampir saja membentak Agna, jika saja laki-laki itu tidak mengontrol emosinya.
"Apa kamu tahu, tadi saya rapat masalah kamu dan 20 mahasiswa yang ada disini menjadi salah satu mahasiswa yang hampir saja dikeluarkan dari Universitas ini, karena kamu juga yang sangat susah dibilangin dari 20 mahasiswa yang tadi saya sebutkan. Kamu juga dikira membawa pengaruh buruk untuk maba yang lain. Tapi apa kamu tahu? Saya membela kamu sendirian di dalam ruang rapat. Saya meyakinkan mereka jika kamu pasti akan berubah." Darren memang benar ia hanya membela Agna dari 20 mahasiswa yang akan dikeluarkan dari Universitas itu pada hari ini juga.
"Saya sendiri yang akan mengeluarkan diri dari sini. Jadi, Bapak tidak usah sok membela saya. Lagipula ini bukan salah satu Universitas yang ada di kota Jakarta ini. Membuat saya tidak perlu takut jika harus dikeluarkan, justru saya akan merasa senang karena sudah tidak akan bertemu lagi dengan Bapak."
"Kamu keras kepala Agna!" Pada akhirnya Darren yang kehilangan kesabaran sehingga laki-laki itu membentak Agna. "Kamu ini semakin hari semakin kurang ajar saja, jika saya tidak melihat Om Al mungkin saja saya ini akan membiarkan apa saja yang ingin kamu lakukan." Darren mencengkram pergelangan tangan wanita itu. "Ikut saya supaya kamu tahu apa saja yang saya lakukan setiap harinya, mungkin dengan cara begitu kamu ini bisa sadar tidak bertingkah sesuka hatimu saja."
__ADS_1
"Saya tidak mau!" Agna lagi-lagi menunjuk wajah Darren. "Secepatnya saya akan berpisah dengan Bapak, karena bagi saya lulus atau tidak itu sekarang bukan suatu hal yang penting."
Darren pada saat itu juga menyeret Agna secara paksa, karena kebetulan saat ini mereka dekat dengan parkiran. "Ikut saya, kamu tidak bisa selalu kurang ajar seperti ini." Darren tidak peduli meskipun Agna terus saja memberontak. "Sepertinya kamu harus diperlakukan dengan kasar jika secara halus kamu malah mengolok-ngolok saya."
"Kamu yang kurang ajar!" Agna tiba-tiba saja malah melayangkan tamparan yang sangat keras di pipi mulus Darren sehingga membuat kacamata laki-laki itu hampir saja jatuh. Jika saja Darren tidak dengan cepat memperbaikinya. "Kamu ba ji ngan!"
Darren memejamkan mata sebelum laki-laki itu menatap Agna sinis. "Kamu sudah membangunkan singa yang sedang tidur Agna." Darren lalu melihat sekelilingnya yang mulai sepi, sehingga ia menggunakan kesempatan itu untuk menggendong Agna supaya mereka bisa cepat sampai di mobil Darren.
"Lepaskan saya!" pekik Agna. Tetapi Darren lagi-lagi tidak peduli. "Kurang ajar! Kamu laki-laki yang sangat kurang ajar!" Agna dengan mimik wajah merah padam terus saja mengatakan kalau Darren laki-laki yang kurang ajar.
__ADS_1