Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 32


__ADS_3

Saat didengarnya hanya ada keheningan di dalam ruangan yang lumayan besar itu, Lydora menyingkapkan selimutnya memastikan apakah pria itu sudah benar-benar keluar dari kamar.


Lydora pun bernapas lega karena melihat ruangannya sudah benar-benar kosong dan dia segera mengambil pakaian yang diberikan Yohannes tadi.


Apa ini? Jadi aku harus memakai kemeja pria?? Bagaimana nanti orang-orang ketika melihatku? Mereka pasti akan menatapku dengan aneh.


Atau jangan-jangan...mereka semua sudah tahu?! Arghh, sungguh memalukan sekali!!


Sementara di kediaman sang Ratu, seorang kepala pelayan mendatanginya karena dipanggil oleh Ratu Edna.


"Selamat pagi yang Mulia baginda Ratu."Sapa kepala pelayan itu dengan hormat.


"Bagaimana dengan kabar kedua anak itu? Apa rencanaku sudah berhasil?"Tanya Ratu Edna.


"Sepertinya begitu yang Mulia. Saya lihat tadi malam yang mulia pangeran menggendong Nona Lydora ke kamarnya."Ucap Pelayan itu.


"Maksudmu kamar putraku?"Tanya lagi Ratu Edna.


"Benar yang mulia."Jawab pelayan itu.


Seketika senyuman mengembang di wajah Ratu Edna. Terlihat sekali wanita paruh baya itu senang bukan main saat rencananya sudah berhasil.


"Baiklah, kau boleh pergi sekarang. Jangan lupa nanti antarkan dokumen yang aku minta."Ucap Ratu Edna.


"Baik, saya permisi yang mulia..."


Di tempat Yohannes pula, saat dia melihat seorang pelayan melewatinya dengan tertunduk, pria itu langsung menarik pelayan itu dengan kasar dan pelayan itu sangat ketakutan.


"Hei, kenapa kalian semua saat kupanggil semalam hanya diam saja? Apa kalian sengaja? Padahal aku sudah berteriak seperti orang tidak waras semalam itu!"Bentak Yohannes begitu marah mencengkram bahu pelayan itu.


"Ma-maafkan saya...yang mulia...kami hanya...melakukan perintah atas...yang mulia baginda Ratu..."Jawab pelayan itu gemetaran.


"Sudah kuduga. Tapi kalian tetap tidak boleh mengabaikan panggilanku, kalau kalian sampai berani mengulanginya sekali lagi, aku tidak akan segan-segan memotong leher kalian semua! Camkan itu!"Ancam Yohannes dengan penuh penekanan.


"Ba-baik...ampuni kami yang mulia..."

__ADS_1


Yohannes mendorong pelayan itu dengan kesal. Dia hendak pergi namun dia mengurungkan niatnya jika dia teringat sesuatu bahwa tadi malam saat mereka melakukan itu, mereka tidak menggunakan pengaman.


"Hei pelayan, tolong antarkan obat kontrasepsi ke kamarku. Kau harus memberikannya pada Lydora. Gadis itu masih berada di kamarku. Jadi kau harus mengantarnya secepatnya."Ucap Yohannes masih dengan tatapan tajam.


"B-baik Yang mulia..."


Yohannes pun berlalu pergi dan pelayan itu merasa begitu lega karena nyawanya selamat kali ini.


Sementara pria itu, dia mencoba menahan amarahnya dan memutuskan untuk pergi menemui sang Ratu.


Kembali lagi ke kediaman Lydora, gadis itu mau tidak mau harus memakai kemeja dan celana panjang pemberian Yohannes dan segera keluar dari kamar itu secepatnya sebelum Yohannes kembali.


Sampai sekarang Lydora masih belum berani untuk melihat wajah Yohannes karena terlalu malu. Saat dia berdiri, dirinya masih merasakan sakit di daerah pangkal pahanya dan dia berusaha mencoba berdiri dan berjalan meskipun tertatih-tatih.


Aww...kenapa sakit sekali? Apa bisa aku keluar dalam keadaan seperti ini?


Aku masih tidak percaya kami benar-benar telah melakukannya tadi malam. Padahal selama ini kami selalu berjauhan seperti musuh.


Tapi kenapa aku tidak dapat mengingatnya sama sekali? Apakah efek minuman itu begitu kuat sehingga ingatanku menjadi kabur?


Pfft, bajunya besar sekali. Celananya juga. Aku takut nanti bisa melorot! Bagaimana cara untuk mengikatnya ya?


Cklek, tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu hingga membuat Lydora terperanjat kaget. Pintu terbuka dan memunculkan seorang pelayan wanita yang datang memasuki kamar.


"Selamat pagi Nona."Sapa pelayan itu dan berjalan mendekati Lydora.


"Ah ya..."Lydora hanya nyengir kebingungan dengan kedatangan pelayan itu.


"Saya kemari untuk memberikan ini. Anda harus meminumnya secepatnya atas perintah Yang mulia pangeran."Ucap pelayan itu memberikan sebuah obat pil.


"Obat apa itu?"Tanya Lydora dengan tatapan curiga.


"Ini adalah obat kontrasepsi Nona."Jawab pelayan itu.


"Oh, b-baik. Aku akan meminumnya."Ucap Lydora dengan malu-malu. Dia pun mengambil obat pil itu dari tangan pelayan itu.

__ADS_1


"Saya juga membawa pakaian untuk anda, Nona."Ucap pelayan itu lagi sambil menyodorkan sebuah lipatan pakaian di tangannya kepada Lydora.


"Baik, terima kasih!"Ucap Lydora terlihat senang dan lega. Dia merasa lega sebab dia tidak perlu merasa malu saat keluar harus mengenakan pakaian pria yang kebesaran di tubuhnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu Nona. Setelah ini anda harus segera turun untuk sarapan."Ucap pelayan itu mengundurkan dirinya untuk pamit.


"Baik."Ucap Lydora.


Dengan gerakan cepat Lydora segera mengenakan gaun pemberian pelayan itu. Gaun itu adalah gaun baru. Dia merasa jika Sang Ratu atau pangeran Yohannes sengaja membelikannya untuknya.


Setelah memakai gaun itu, Lydora segera meminum obat pemberian pelayan tadi.


Dia pun keluar dari kamar itu dan memilih masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Sementara Yohannes saat ini mencari keberadaan Sang Ratu di ruang makan dan tebakannya benar bahwa wanita yang bukan melahirkannya itu saat ini sedang duduk di kursi makan dengan santainya.


"Ibu!"Panggil Yohannes dengan suara yang keras.


"Ada apa putraku? Kenapa kau memanggilku dengan nada tidak sopan begitu?"Tanya Ratu Edna.


"Ibu pasti sudah tahu alasannya dan jangan coba-coba memanggilku putramu, karena kau bukan ibuku! Kenapa ibu harus melakukan sampai sejauh ini? Katakan cepat!"Yohannes terus berbicara dengan bentakan karena emosinya masih berantakan.


"Sudah jelas kan? Ibu melakukannya demi kamu. Ibu tidak ingin kau memikirkan wanita yang sudah berkeluarga itu lagi, Yohan. Mulai saat ini kau harus fokus pada tunanganmu yang akan menjadi istrimu sebentar lagi."Jawab Ratu Edna dengan wajah datar.


"Apa? Berani sekali ibu melakukan hal itu dan ikut campur dalam kehidupanku? Terserah aku masih ingin memikirkan Ratu Ellen atau tidak karena itu bukan urusan ibu! Ibu bukan siapa-siapa jadi ibu tidak berhak mengatur hidupku. Lagipula apa ibu tidak memikirkan perasaan Lydora? Ibu tidak merasa kasihan padanya sehingga aku sampai harus memerk*sanya diluar kesadaranku?! Ibu bahkan sampai menyembunyikan para pelayan agar mereka tidak membantuku yang berteriak malam-malam seperti orang tidak waras!"Ucap Yohannes terus-menerus dengan suara bentakan.


Ratu Edna hanya terdiam masih dengan wajah datanya.


"Aku sudah tahu bahwa ibu bukan orang yang baik. Ibu tidak pernah memikirkan perasaanku dan selalu merasa apa yang ibu lakukan itu benar terhadapku. Ibu itu egois! Ibu sama sekali tidak mirip dengan ibu kandungku. Kalian sangat berbeda, itu sebabnya aku membencimu."Ucap Yohannes dengan penekanan dan dia pun segera meninggalkan ruang makan.


Ratu Edna terdiam dan ekspresi wajahnya seketika berubah. Dia memegang kepalanya sambil memikirkan ucapan Yohannes barusan.


Apa yang sudah kulakukan? Kenapa aku seperti ini? Aku telah membuat Yohannes begitu menderita dan tidak pernah memikirkan perasaannya bahkan perasaan menantuku. Aku telah melakukan kesalahan besar...


Air mata Edna seketika lolos begitu saja karena dia sungguh menyesali perbuatannya. Entah kenapa sejak bertemu dengan Lydora, dia benar-benar tidak sabar untuk membuat Yohannes bisa segera berpindah hati dan melupakan masa lalunya.

__ADS_1


Next....


__ADS_2