
Sepanjang jalan sejujurnya Ellen cukup menikmati liburannya. Sayangnya dia tidak bisa berenang.
Huh, kalau saja di jaman ini sudah ada yang namanya swimsuit pasti mudah. Kalau pun dulu ada aku juga tidak bisa membelinya karena mahal...
Seharian mereka hanya mengitari pantai yang sudah sedikit jauh dari Villa.
"Ayo kita kembali. Kita sudah berjalan-jalan satu jam penuh."Ucap Aldrich.
"Yah, bisakah sebentar lagi? Aku belum puas melihat lautnya."Ucap Ellen.
Aldrich terdiam sejenak. "Apa kau mau naik perahu bersamaku?"Ajak Aldrich tiba-tiba.
"Naik perahu? Mau!"Ucap Ellen girang.
"Baiklah. Ayo ikut aku."Ucap Aldrich lalu mengulurkan tangannya kepada Ellen. Dengan senang hati Ellen menerima uluran tangan sang Raja.
Mereka berdua naik perahu dengan satu orang yang akan mengayuh perahu yang cukup besar itu.
Perahu mulai berjalan perlahan dan arus ombak laut tampak tenang jadi mereka bisa menikmati berjalan di atas laut dengan damai.
Ellen mengulurkan tangannya menyentuh air laut di bawahnya. Dia merasa tangannya begitu dingin saat menyentuh air.
"Ellen, sebaiknya kau jangan sembarangan memasukkan tanganmu ke air, kita tidak tahu jika ada makhluk buas di dalamnya."Ucap Aldrich.
"Apa? Lalu kenapa kita naik perahu?!"Ellen langsung panik.
"Tenanglah yang mulia, anda jangan terlalu banyak gerak, nanti perahunya tidak seimbang..."Ucap si pengayuh yang ikutan panik melihat tingkah Ellen.
"Maaf..."Ucap Ellen merasa bersalah.
"Pffft..."Aldrich tidak sempat menahan tawa karena dia telah berhasil mengerjai istrinya.
"Ketahuan! Yang mulia tertawa!"Teriak Ellen mendengarnya.
"Tidak, aku tidak tertawa."Ucap Aldrich menyangkal.
"Sudahlah yang mulia tidak usah berbohong padaku. Yang mulia bisa-bisanya bercanda di tengah laut seperti ini?! Kenapa yang mulia harus selalu menahan tawa seperti itu?"Ellen merasa jengkel dengan tingkah suaminya.
"Hei, putar balik perahunya."Pinta Aldrich.
"Baik yang mulia."
"Eh, kita sudah mau kembali? Cepat sekali?"Tanya Ellen kecewa.
"Cepat apanya? Ini sudah mau tengah hari dan mataharinya sebentar lagi akan semakin naik. Kau juga perlu memberi makan bayi kita."Ucap Aldrich.
__ADS_1
"Baiklah."
Setelah perahunya menepi, kedua pasutri itu pun segera masuk dan Aldrich hendak memberi makan istri serta anaknya di dalam kandungan Ellen.
"Ellen, sepertinya perutmu mulai membesar?"Ucap Aldrich memerhatikan perut Ellen yang sudah sedikit membuncit. Dia sempat menyentuhnya dan mengelusnya.
"Ah, benar juga. Aku juga merasa agak gemukan. Belakangan ini makanku benar-benar tidak terkontrol, hehe..."Ucap Ellen menyadari sikapnya yang selalu sering makan.
"Berarti anak kita suka makan ya?"Ucap Aldrich tersenyum memandangi perut Ellen.
"Haha iya ya..."
"Kau makanlah duluan. Ada hal yang harus aku lakukan diluar."Ucap Aldrich lalu beranjak dari kursi makan.
Ellen tiba-tiba menarik tangan Aldrich. "Kau mau kemana?"Tanya Ellen yang sedikit keberatan jika Aldrich pergi meninggalkannya walau cuma sebentar.
"Ada pekerjaan sedikit yang harus aku tangani. Sebentar saja dan aku tidak pergi jauh-jauh. Secepatnya aku akan kembali."Ucap Aldrich.
"Hmm, baiklah."Ucap Ellen akhirnya melepaskan genggamannya.
Aldrich tersenyum kemudian pergi meninggalkan ruang makan. Ellen terpaksa makan sendirian lagi. Dia jadi bernostalgia bahwa dia selalu makan sendirian sewaktu dirinya menjadi Jane.
Sementara Aldrich keluar dan menemui Ravin yang juga ikut mereka.
"Ravin, bagaimana? Apa permintaanku sudah dilakukan?"Tanya Aldrich kepada Ravin yang sedang duduk santai di bangku sambil menikmati angin pantai.
"Bagus. Ravin, Kira-kira apakah Ellen akan menyukai hadiahnya?"Tanya Aldrich meminta pendapat Ravin.
"Tentu saja yang mulia. Setiap wanita pasti akan senang dengan hadiah yang diberikan pasangannya. Apalagi hadiah yang anda berikan itu sangat berharga."Ucap Ravin yakin.
"Begitu ya? Tapi istriku itu adalah wanita yang berbeda sendiri dengan wanita lainnya. Dia tidak terlalu suka perhiasan kecuali bunga."Ucap Aldrich yang sudah mengetahui kesukaan Ellen.
"Anda tidak perlu khawatir yang mulia. Saya jamin Yang mulia permaisuri dengan senang hati menerima hadiah anda. Saya juga yakin jika dia menyadari perasaan anda yang tulus kepadanya."Ucap Ravin.
Tiba-tiba Aldrich tersentak dengan perkataan Ravin. Perasaan. Saat Ravin menyebut kata itu dia baru tersadar jika dia memang telah jatuh hati kepada wanita kecil itu.
"Yang mulia, anda..baik-baik saja?"Tanya Ravin heran melihat Rajanya terbengong.
"Ah ya, aku baik-baik saja. Besok pastikan hadiahnya sampai kepadaku."Pinta Aldrich kemudian dia kembali ke kamarnya.
"Baik yang mulia."
*****
Aldrich melihat Ellen yang sedang tidur di ranjang. Dia menggelengkan kepalanya melihat Ellen yang langsung tidur setelah makan.
__ADS_1
"Ck, ck, Habis makan langsung tidur. Kebiasaan itu sangat tidak bagus."Ucap Aldrich. Dia kemudian mendekati Ellen untuk melihatnya lebih dekat. Dia menyibakkan rambut yang menutupi wajah Ellen dan membelai wajahnya.
"Tidurnya nyenyak sekali..."Gumam Aldrich.
Tiba-tiba Ellen memegang tangan Aldrich yang menyentuh wajahnya dan membuat Aldrich terkejut.
"Jangan pergi...jangan tinggalkan aku..."Gumam Ellen seperti mengigau. Wajahnya benar-benar terlihat kesepian.
Apa dia bermimpi...?
"Tidak, aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Aku tetap akan selalu berada disisimu."Ucap Aldrich sambil mengelus kepala Ellen dan menghujaninya dengan ciuman. Dia merasa mengantuk dan ikut tidur disamping istrinya sambil memeluknya. Ellen yang masih tidur jadi tersenyum merasa tenang. Sepertinya mimpi buruknya berubah menjadi indah.
****
Keesokan paginya, Ellen terbangun lebih awal. Kedua pasangan itu sarapan seperti biasa dan berjalan-jalan di pantai seperti semalam.
Saat berjalan-jalan di pantai Ellen menemukan ada ranting pohon yang terletak di atas pasir. Dia mengutipnya.
"Semalam kerang, sekarang apalagi? Ranting pohon?"Tanya Aldrich tidak habis pikir dengan tingkah istrinya.
"Aku hanya ingin menggambar di atas pasir. Kalau bisa aku juga ingin membuat istana pasir, hehe."Ucap Ellen mulai menggambar.
Aldrich hanya diam dan melihat apa yang dilakukan istrinya.
"Nah sudah selesai!"Ucap Ellen selesai menggambar.
"Kau menggambar bunga?"Tanya Aldrich. Dia sedikit kecewa karena dia pikir Ellen akan mengukir kata-kata romantis.
"Iya, bagus tidak?"Tanya Ellen,
"Tidak."Ucap Aldrich singkat.
"Huh!"Ellen jadi badmood.
"Ellen kemari sebentar."Pinta Aldrich dan Ellen menurut merasa heran.
"Ada apa sa-hei, kenapa kau menutup mataku?"Tanya Ellen kaget saat Aldrich menutup matanya dengan kain.
"Diam dulu."Ucap Aldrich kemudian memasang sesuatu di leher Ellen. Dia kemudian membuka penutup kain Ellen.
Ellen dengan cepat melihat sebuah kalung yang baru dipasangkan Aldrich. Saat melihatnya matanya membulat karena baru melihat benda yang luar biasa indah dimatanya.
Aldrich kaget saat melihat kedua mata Ellen yang berkaca-kaca menatap kalung pemberiannya.
"Ada apa? Kau tidak suka hadiahnya?" Tanya Aldrich panik.
__ADS_1
Ellen dengan cepat menggeleng. "Tidak, aku sangat suka hadiahnya yang mulia. Cantik sekali...aku tidak pernah mengira kau akan memberiku benda secantik ini...terima kasih..."Ucap Ellen sambil menatap Aldrich menunjukkan dia benar-benar bahagia.
Bersambung. (Terima kasih yg sudah membaca, jangan lupa like ya 👍)