Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 63


__ADS_3

Yohannes benar-benar gemas ketika dia menggoda istrinya seperti itu. Karena tidak tahan, dia pun membuat Lydora terjatuh dalam kungkungannya dan dia memegang kedua tangan Lydora dengan erat agar wanita itu tidak bisa bergerak.


"Y-yohannes..."Ucap Lydora lirih.


"Bolehkah sayang?"Yohannes mengucapkannya dengan nada yang serak.


Lydora menelan salivanya menatap kedua mata suaminya yang menatapnya dengan lekat.


Lagi-lagi dia memanggilku begitu...


"Baiklah..."Jawab Lydora akhirnya dengan pelan.


Yohannes tersenyum dan mulai mencium wajah sampai ceruk leher Lydora. Lydora hanya bisa mengerang merasa geli dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Aku akan melakukannya dengan lembut."Bisik Yohannes sambil melanjutkan aktivitasnya.


Dan malam itu adalah momen paling membahagiakan untuk keduanya. Akhirnya kedua pasangan itu saling mengungkapkan rasa cinta mereka satu sama lain.


"Aku mencintaimu Lydora."Ucap Yohannes.


"Aku juga mencintaimu Yohannes..."Balas Lydora.


Keesokan paginya, pasutri itu masih terlelap di bawah selimut mereka memeluk satu sama lain. Sinar matahari mulai masuk dari balik tirai jendela yang masih tertutup. Saat itu yang pertama kali terbangun adalah Lydora.


Lydora tidur di atas lengan Yohannes dan tangan Yohannes yang satunya lagi memeluk pinggangnya. Lydora menatap lekat wajah suaminya yang masih tertidur dengan lelap.


Tampannya suamiku...sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Sekarang masalahnya tinggal satu. Aku ingin mencari tahu bagaimana aku bisa masuk ke dalam dunia novel seperti ini.


"Kau sudah bangun?"Tanya Yohannes dengan suara khas bangun tidurnya.


"I-iya..."Jawab Lydora yang kaget.


Yohannes tersenyum lembut ke arah Lydora dan mengelus rambut Lydora yang sudah sedikit panjang itu.


"Kau...jangan potong rambutmu lagi."Ucap Yohannes.


"Apa...?"


"Sebenarnya rambut merahmu tidak buruk. Sekarang aku malah menyukainya. Biarkan dia tumbuh panjang."Ucap Yohannes lalu mencium rambut istrinya itu.


Lydora yang mendengar pun menjadi tersipu. Dia hanya bisa diam sambil menganggukkan kepalanya.


Aduh, kalau dalam posisi seperti ini terus nanti kasihan Felice tidak bisa dapat gaji....


Lydora segera duduk. "Umm suamiku, ayo kita bersiap-siap. Pekerjaan kita masih banyak yang belum terselesaikan."

__ADS_1


"Hmm baiklah, tapi apa pinggangmu baik-baik saja?"Tanya Yohannes yang sedikit khawatir.


"Ah, iya. Pinggangku baik-baik saja kok."Jawab Lydora.


"Syukurlah. Jika ada yang merasa sakit, tolong bilang padaku."Ucap Yohannes.


"Baik suamiku."


Sekarang dia juga semakin perhatian kepadaku.


Lyora merasa tenang dengan perubahan suaminya yang semakin baik kepadanya. Selama beberapa hari, Lydora menjalankan kehidupannya sebagai seorang ratu dengan sangat baik dan membahagiakan. Hampir setiap malam kedua pasutri itu bermain di ranjang karena mereka juga sudah fokus untuk membuat calon kerajaan.


Dan pada akhir pekan, sesuai rencana Lydora dan Sandy memutuskan untuk pergi menemui peramal di kota sebelah. Lydora sudah bersiap dengan rapi dan kebetulan Yohannes melihat istrinya yang sepertinya hendak pergi.


"Kau mau kemana Lydora?"Tanya Yohannes.


"Aku mau pergi menemui peramal Henston, suamiku. Aku pergi sebentar saja."Jawab Lydora dengan jujur.


"Apa? Menemui peramal Henston? Untuk apa kau menemuinya?"Tanya Yohannes mengernyitkan alisnya.


"Tidak apa. Aku hanya penasaran dengan peramal itu. Boleh kan aku pergi kesana suamiku?"Tanya Lydora.


"Sebisa mungkin kau jangan percaya setiap omong kosongnya. Aku bahkan tidak percaya dengan yang namanya penyihir tidak terlihat itu."Ucap Yohannes.


"Baik, tenang saja Yohannes."


"Selamat siang Nyonya Henston. Ini saya. Saya membawa seseorang kemari. Beliau ingin sekali bertemu dengan anda."Sapa Sandy.


"Oh, Sandy? Kemarilah. Sudah lama juga kau tidak mengunjungiku. Oh ya, siapa yang kau bawa Sandy?"Tanya Henston. Henston langsung mengenali suara wanita itu.


Lydora mengernyitkan alisnya merasa bingung mengapa peramal itu terlihat seperti tidak melihatnya. Padahal dia sedang berada di hadapan peramal itu.


"Saya membawa yang mulia Ratu Lydora, Nyonya."Jawab Sandy.


"Oh begitu ya, hohoho salam yang mulia Ratu. Aku merasa sangat tersanjung dengan kedatangan anda."Ucap peramal itu.


"Iya...senang bertemu dengan anda Nyonya Henston."Jawab Lydora tetap ramah.


Sandy kemudian mendekatkan wajahnya ke arah telinga Lydora untuk membisikkan sesuatu. "Yang mulia, saya lupa mengatakan bahwa Nyonya Henston ini buta. Jadi dia tidak melihat anda."


"Ah...begitu ya."Lydora akhirnya mengerti. Pantas tatapan wanita tua itu terlihat kosong dan kabus.


"Duduklah, apa yang bisa aku bantu untuk kalian berdua?"Tanya peramal itu.


"Ah...kalau begitu Sandy, bolehkah kau keluar sebentar? Ada yang ingin kutanyakan kepada Nyonya Henston."Pinta Lydora.

__ADS_1


"Eh? Baiklah Yang mulia. Saya akan menunggu di luar."Ucap Sandy lalu pergi keluar.


Kini di ruangan yang tidak terlalu besar itu hanya ada Lydora dengan peramal Henston dengan bola kristalnya.


"Hohoho, sepertinya anda orang baru ya yang mulia?"Tanya Henston.


"Sepertinya begitu...?"


"Tidak bukan seperti itu yang kumaksud. Anda...meniliki aura yang begitu kuat. Apakah anda sering bermimpi aneh?"Tanya Henston mulai memeriksa.


Deg, pertanyaan peramal itu benar. "Iya, hampir setiap malam aku selalu bermimpi aneh. Terutama aku sangat sering bertemu dengan seorang pria dengan jubah hitam yang selalu menghantuiku."Jawab Lydora.


"Selamat, anda sudah berhasil bertemu dengan penyihir yang sudah lama tidak dipercaya orang-orang lagi itu."Ucap Peramal Henston.


"Apa? Penyihir?"Tanya Lydora kaget.


"Iya, pasti pria itu di dalam mimpi anda tidak pernah memperlihatkan wajahnya kan? Dia adalah pria misterius yang selalu menyembunyikan identitasnya. Tapi percayalah kekuatannya sangat besar bagai dewa. Katanya dia sudah hidup ratusan tahun. Dan anda mungkin tidak percaya bahwa dulu saya sempat menjadi muridnya."Ucap Peramal Henston.


"Begitu ya...."


"Anda bukan berasal dari sini kan yang mulia? Anda jadi mengingatkanku pada seseorang yang memiliki kehidupan yang sama seperti anda."Ucap Henston lagi.


"Maksud anda Nyonya?"Lydora mulai berkeringat.


Jika dia mengatakan aku datang dari masa depan berarti dia bukanlah manusia biasa.


"Anda bukan berasal dari dunia ini."Ucap Peramal itu akhirnya.


"Bagaimana anda bisa tahu Nyonya?"Tanya Lydora cukup terkejut.


"Aku punya indera yang bisa melihat dan merasakan karena guruku sempat mengajari dan memberikan sedikit kekuatannya padaku. Jujur saja padaku bahwa anda memang tidak sengaja masuk ke dunia ini. Aku benar kan?"


Lydora mengangguk."Benar. Tapi belum ada yang tahu kalau aku bukanlah pemilik tubuh ini. Bahkan kedua orang tuaku sekalipun belum mengetahuinya. Aku tidak tahu kenapa aku bisa tiba-tiba masuk ke tubuh ini sementara aku juga penasaran dimana pemilik jiwa aslinya."


"Biasanya jika jiwa seseorang masuk ke dalam tubuh orang lain, jiwa orang itu sudah mati. Anda menggantikan jiwa orang yang mati, yang mulia."Jawab Henston.


Jadi...Lydora sudah mati? Bagaimana bisa?? Lalu diriku yang di masa depan berarti sudah...


"Anda tidak perlu takut Yang mulia. Anda saat ini belum diberikan kutukan apapun oleh penyihir kecuali wanita yang satunya lagi."Ucap Henston.


"Wanita? Ada yang sepertiku juga? Siapa Nyonya?"Tanya Lydora jadi penasaran.


Sungguh kesempatan yang bagus!


"Dia adalah seorang Ratu, sama seperti anda. Namanya Ellenavier kalau tidak salah."

__ADS_1


"Apa?"


Next....


__ADS_2