
Ellen menyusul suaminya yang saat ini sedang berbincang dengan para menteri. Aldrich pun melihat kedatangan istrinya dengan senyuman mengembang di wajahnya.
"Kau kenapa lama sekali?"Tanya Aldrich.
"Maaf yang mulia, saya tadi sedang mengobrol dengan ibu."Ucap Ellen masih dengan senyum cerahnya.
"Ibu? Sekarang orang tua itu menyuruhmu memanggilnya ibu?"Tanya Aldrich lagi.
"Huss! Yang mulia jangan bilang begitu. Iya, ibu mulai mengizinkan saya untuk memanggilnya seperti itu. Syukurlah beliau ternyata tidak membenci saya."
Jadi itu alasan mengapa dia tersenyum senang seperti itu?
Aldrich tidak bertanya apapun lagi. Mereka pun fokus untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Saat malam, Ellen tiba-tiba kepikiran dengan Viona. Dia ingin melihat kabar gadis itu. Ellen pun berjalan menemui suaminya untuk menanyakan tentang Viona.
Saat sudah menemukan suaminya itu, Ellen berhenti sejenak disana. Dia melihat Aldrich yang sedang berbicara berdua dengan Anna.
Ellen pun menggeser tubuhnya ke balik dinding untuk mendengar percakapan kedua orang itu.
"Yang mulia, apa anda tidak mau memberikan saya kesempatan sekalipun? Apa anda telah melupakan semua kenangan kita dulu? Padahal kita yang paling dekat diantara anak-anak yang lain. Saya pikir Anda akan menerima saya sebagai permaisuri anda. Kenapa anda bisa memilih wanita itu?"Ucap Anna sambil memeluk Aldrich.
"Aku pilih siapapun itu bukan urusanmu. Dan sebenarnya kau lah yang suka mendekati aku dulu."Ucap Aldrich dingin.
"Kenapa anda berubah jadi sedingin ini? Apa saya punya salah dengan anda yang mulia? Saya akan melakukan apa saja agar yang mulia bisa memaafkan saya."Ucap Anna kemudian dia meneteskan air matanya.
"Kalau begitu tinggalkan istana ini. Aku benar-benar tidak sudi melihat wajahmu."Ucap Aldrich.
Anna seketika merasa sakit hati mendengarnya. Dia mengepal tangannya teringat dengan Ellen yang sudah merebut cinta pertamanya.
"Tapi yang mulia, ada satu hal yang ingin saya beri tahu. Anda adalah cinta pertama saya. Saya pikir kita bisa bersama. Jika anda bersedia, saya rela menjadi selir anda dan melakukan apapun untuk melayani anda yang mulia."Ucap Anna memohon.
Ellen sudah tidak tahan mendengar wanita itu memohon seperti itu. Dia sama sekali tidak berharap ada selir di antara mereka.
"Hei kau."Panggil Ellen dengan ekspresi seperti membunuh.
__ADS_1
"Ya-yang mulia permaisuri? Maaf tadi saya hanya berbincang dengan yang mulia ra-"
PLAK! Ellen menampar pipi wanita itu hingga Aldrich yang masih berdiri disana ikut tercengang.
"Aku sudah mendengar semuanya. Seharusnya kau tahu diri jika yang mulia raja tidak menyukaimu. Cinta pertama bukan berarti harus bersama. Jika yang mulia raja memilihku, kau harusnya merelakannya, bukan rela menjadi selir untuk menjual tubuhmu. Kau pikir kau secantik dewi? Kau bahkan tidak sebanding denganku, dasar jal*ng!"
Anna pun terpaku disana dan membisu.
Ellen seolah rasa takutnya sudah lenyap, dia bahkan berani melotot ke arah Aldrich.
"Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku yang menyeretmu tanpa harga diri. Tidak ada yang menerimamu lagi disini termasuk ibu dan Kath sekalipun. Aku bisa membuat anak itu merasakan pelajaran yang sangat berarti."Ucap Ellen lagi.
Anna kemudian tersenyum meskipun masih rada takut. "Baiklah Yang mulia permaisuri. Saya akan pergi. Tapi saya ingatkan anda jangan senang dulu. Besok masih ada hari spesial yang menunggu anda. Saya permisi."Ucap Anna mengangkat roknya memberi salam.
Dia pun berbalik lagi ke arah Aldrich untuk mengucap salam perpisahan. "Yang mulia, saya akan pergi. Tapi saya akan datang lagi suatu hari nanti. Terima kasih untuk segalanya yang mulia. Saya jamin akan membalas kebaikan anda. Selamat tinggal yang mulia."Ucap Anna dengan anggun.
Aldrich hanya diam dan melihat kepergian wanita itu tanpa ekspresi. Setelah wanita itu pergi, dia lalu melihat Ellen yang masih berdiri disana. Namun Ellen seperti tak acuh dan membalikkan badannya untuk pergi.
"Kau mau kemana?"Tanya Aldrich berjalan mendatangi Ellen.
Aldrich merasa marah sebab Ellen berani untuk bicara tanpa melihat ke arahnya. Dia pun memegang bahu Ellen untuk membalikkan tubuh wanita itu.
"Kau sudah tidak takut kepadaku? Kau berani melawanku!"
"Hentikan yang mulia...sakit!"Ucap Ellen karena Aldrich memegang bahunya terlalu kuat.
"Apa kau marah karena cemburu? Apa karena itu?"
"Tidak yang mulia. Anda jangan salah paham. Saya hanya tidak suka Anna menjatuhkan harga dirinya. Dia seharusnya mendapatkan suami lebih yang pantas untuknya."Jawab Ellen.
"Jadi maksudmu aku tidak pantas begitu?"
"Bukan begitu yang mulia. Anda kan sudah menikah dengan saya. Kalau saya tanya, apa anda mau menjadikan Nona Anna selir anda?"
Aldrich terdiam. Dia benar-benar bingung dan tidak bisa berpikir dengan jernih.
__ADS_1
"Kalau anda mau, lebih baik anda ceraikan saya. Lalu anda tinggal menjadikan Anna istri anda, mudah kan?" Ucap Ellen tanpa beban.
"Heh, kau sama sekali tidak takut ya? Bagaimana jika kau hamil?"
"Saya tinggal menggugurkannya saja. Saya tidak mau melahirkan anak yang tidak punya ayah."Ucap Ellen lagi.
Aldrich seketika amarahnya sudah membuncah. Dia benar-benar sudah dibuat kehilangan kesabaran oleh istrinya itu.
"Kau sudah melewati batas Ellen."Ucap Aldrich kemudian menggendong Ellen untuk membawanya ke kamar.
"Ahhh! Yang mulia, anda mau membawa saya kemana?! Tolong anda jangan seperti ini yang mulia! Saya tahu saya salah! Saya mohon ampun yang mulia!"Teriak Ellen memberontak namun Aldrich tidak peduli dan terus berjalan.
Orang-orang yang berada di istana mendengar jeritan Ellen yang sedang memberontak. Mereka meresa kasihan dan ingin menolong wanita kecil itu, tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
Setelah sampai di kamar, Aldrich mencampakkan Ellen di ranjang dan wanita itu semakin takut. Aldrich tanpa menunggu langsung melucuti pakaiannya dan pakaian istrinya sampai mereka tidak menggunakan benang sehelai pun.
"Yang mulia, tolong jangan seperti ini...! Saya akan semakin membenci Anda jika anda memperlakukan saya dengan kekerasan!"Ucap lagi Ellen dengan air mata yang sudah basah di pipinya.
"Diam! Kau bagaimana pun harus melahirkan keturunanku! Kau selamanya tidak boleh cerai denganku!"Ucap Aldrich.
"Tapi bagaimana dengan Nona Anna...?"
"Jangan bawa-bawa nama wanita itu! Mau kubilang berapa kali jika aku tidak menyukainya hah? Aku seumur hidup tidak akan menjadikan dia selir. Jadi kau harus menurutiku."Ucap Aldrich kemudian melanjutkan aksinya.
Namun Ellen masih merasa jijik karena tangan Anna yang tadi menempel di tubuh suaminya masih berbekas.
"Lepaskan saya yang mulia! Wanita itu tadi sudah menyentuh Anda."
Aldrich memberhentikan aksinya. Dia kemudian beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Ellen hanya keheranan dengan sikap rajanya yang aneh.
Aldrich kemudian muncul lagi dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan itu membuat Ellen terkejut.
"Kau lihat kan, sekarang aku sudah bersih. Sekarang ayo kita lanjutkan yang tadi."Ucap Aldrich kali ini dengan senyum aneh.
Ihh dasar b*bi hutan musim kawin!
__ADS_1
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa tekan tombol like 👍)