Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 22


__ADS_3

"Nona Carol, apa yang anda tanyakan tadi benar, saya sedang melakukan tanda penghormatan karena diperintah langsung oleh Nyonya Bella."Ucap Lydora akhirnya memberanikan diri.


"Wah wah, Nyonya Bella, anda keterlaluan juga ya."Ucap Carol tersenyum.


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Nona Carol! Tadi aku hanya bercanda pada Nona Lydora dan aku tidak tahu jika dia akan menurut begitu saja."Ucap Nyonya Bella masih menyangkal.


Lydora benar-benar tidak habis pikir dengan Nyonya Bella. Padahal wanita tua itu tidak terima jika orang lain membantah ucapannya tapi dia sendiri melakukannya.


Rasanya Lydora ingin melawan nyonya Bella lagi, tapi dia memilih untuk bersabar daripada Nyonya Bella tidak jadi mengajarinya lagi.


"Hmm, begitu ya?"Ucap Carol masih dengan tatapan curiga.


"Jadi Nona Carol ada perlu apa datang ke ruanganku?"Tanya Nyonya Bella.


"Oh iya, saya hampir lupa! Saya ingin meminjam buku biru milik anda. Bolehkah saya meminjamnya sebentar, Nyonya Bella?"Pinta Carol.


Buku biru?


"Eh, untuk apa Nona Carol?"Tanya Nyonya Bella terlihat keberatan.


"Saya memerlukannya untuk belajar. Saya tidak mau hanya dianggap sebagai penumpang disini tanpa melakukan apa-apa. Setidaknya buku biru itu berguna untuk saya."Ucap Carol.


"Tapi...kau kan bisa baca buku yang lain, Nona Carol."Ucap Nyonya Bella lagi.


"Apa anda merasa keberatan untuk meminjamkannya pada saya, Nyonya Bella?"Tanya Carol yang membuat Nyonya Bella tersentak.


"T-tidak kok. Baiklah, kamu boleh ambil bukunya. Tapi harus segera dikembalikan karena buku itu sangat penting."Ucap Nyonya Bella memilih mengalah.


Nyonya Bella kemudian mengambil buku biru itu di dalam laci mejanya dan memberikannya pada Carol.


"Terima kasih Nyonya Bella! Saya janji akan segera mengembalikannya."Ucap Carol menerima buku itu.


"Saya permisi dulu semuanya."Ucap Carol segera keluar dari ruangan Nyonya Bella.


Lydora menjadi penasaran dengan buku biru itu. Semenjak Carol memegang buku itu, Nyonya Bella terlihat gelisah sambil mengigit kuku jarinya.


"Lydora, kau ternyata lebih cerdas dan berani dari yang kupikirkan."Ucap Nyonya Bella dingin.


Lydora tersenyum. "Saya hanya ingin berkata jujur Nyonya. Bukankah seorang Ratu harus selalu jujur?"

__ADS_1


"Cih!"


"Lydora, aku panggil dengan nama langsung tidak masalah kan?"Tanya Nyonya Bella terlihat malas.


"Eh? Ya, saya rasa tak apa..."Ucap Lydora yang tersentak.


Nyonya Bella lalu mengeluarkan beberapa buku tebal untuk di tunjukkan kepada Lydora. Lydora sedikit terbatuk-batuk karena buku-buku tebal itu sudah berdebu.


"Kau baca dan hapal semua ini. Setiap undang-undang negara kau wajib untuk menghapalnya agar kau tidak kesulitan saat berbicara dengan para menteri."Ucap Nyonya Bella.


Glek. Lydora membelalakkan matanya melihat ada 6 buku tebal yang harus di bacanya dan hapal semua. Dia sudah cukup stress saat belajar sebagai mahasiswi kampus, dan saat ini dia malah harus belajar lagi menghapal buku-buku kerajaan kuno.


Apa? Dia suruh aku baca semua ini?! Bagaimana aku bisa hapal dalam waktu satu bulan?! Aku bisa gila tahu! Apa jangan-jangan dia membohongiku lagi?


"Kenapa kau diam saja? Kau tidak ingin membacanya? Kali ini aku sedang tidak berbohong. Kau bisa tanyakan langsung kepada Yang mulia baginda Ratu Jika kau tidak percaya."Ucap Nyonya Bella.


"Ah, saya akan membacanya kok, Nyonya Bella. "Ucap Lydora mau tidak mau menerima buku-buku itu.


"Besok kau selanjutnya akan mempelajari dunia politik. Jadi kau harus mempersiapkan otakmu untuk bekerja dengan baik. Sekarang kau pergilah. Hapal semuanya dan kalau bisa kau sudah menghapalnya sebelum pernikahan."Ucap Nyonya Bella.


"Baik. Kalau begitu saya permisi, Nyonya Bella."Ucap Lydora lalu membawa buku-buku tebal itu dengan kedua tangannya. Dia terlihat kesulitan membawanya karena terlalu berat.


"Hei, mana tanda terima kasihmu? Kau mau pergi begitu saja?"Tanya Nyonya Bella lagi.


Setelah keluar dari ruangan Nyonya Bella, barulah Lydora bisa bernapas dengan tenang.


Saat berjalan, Lydora merasa lebih cepat lelah karena dia membawa banyak buku di kedua tangannya. Dia ingin meminta tolong kepada pelayan. Lydora melirik ke kanan dan ke kiri jika ada pelayan yang lewat agar dia bisa memanggilnya.


Kemana para pelayan? Duh, Buku-buku ini kok berat sekali sih!


Jarak ruangan Nyonya Bella ke kamarnya lumayan cukup jauh. Saat di pertengahan jalan, Lydora melihat ada Yohannes yang sedang berjalan berlawanan di depannya. Yohannes pun melihat kemunculan Lydora yang sedang membawa buku-buku tebal di kedua tangannya.


"S-salam yang mulia Pangeran..."Sapa Lydora.


"Dimana pelayanmu?"Tanya Yohannes.


"Eh, apa? Saya juga tidak tahu Yang mulia..."Jawab Lydora.


"Ck, ck, memangnya kau bisa membawa buku-buku berat itu?"Tanya lagi Yohannes.

__ADS_1


"Sedikit berat sih. Saya juga berharap ada pelayan yang mau membantu saya, tapi saya belum ada lihat satu orang pelayan pun yang lewat."Ucap Lydora.


Kalau kau khawatir, tolong bawakan setengahnya dong! Jangan hanya diam saja dan mengomel!


Tak lama baru muncul pelayan Sandy. Sandy kaget saat melihat Lydora membawa buku-buku yang berat di kedua tangannya sendirian.


"Astaga Nona! Anda membawa buku-buku seberat ini sendirian?"Tanya Sandy panik.


"Eh, akhirnya kamu muncul juga Sandy. Iya, Nyonya Bella menyuruhku untuk membaca semua ini. Dan aku berniat membawa buku-buku ini ke kamarku."Ucap Lydora.


"Maafkan saya karena tidak menjemput anda tepat waktu, Nona. Tadi saya sedang membantu memindahkan barang bersama pelayan yang lain."Ucap Sandy merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Sekarang kau sudah bisa membantuku membawanya setengah kan?"Tanya Lydora.


"Eh, tentu saja Nona. Sini saya saja yang bawakan semuanya. Nanti tangan anda bisa sakit."Ucap Sandy segera merebut buku-buku itu dari tangan Lydora.


"Biarkan aku bawakan setengahnya. Aku tiga buku dan kau juga tiga buku, jadi impas. Dan juga biar kau tidak terlalu kesulitan membawanya."Ucap Lydora.


"Tapi..."


"Sudah jangan menolaknya, oke?"Ucap Lydora.


"Baik, terima kasih Nona Lydora."Ucap Sandy merasa segan.


"Haah, aku merasa para pelayan sekarang kurang disiplin. Seharusnya pelayan sepertimu bertanggung jawab sepenuhnya untuk majikan yang sedang kau tangani. Bukan malah mengerjakan yang lain. Kalau katamu membantu memindahkan barang temanmu, bukankah masih banyak yang bisa membantunya?"Ucap Yohannes lagi-lagi mengomel.


"Maaafkan saya yang mulia Pangeran! Saya janji tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi. Mulai sekarang saya akan bertanggung jawab sepenuhnya kepada Nona Lydora."Ucap Sandy membungkukkan badannya.


Yohanes diam saja. Dia kemudian melirik Lydora lalu berjalan pergi.


Lydora sempat melihat Yohannes balik sampai kepergian Yohannes dari belakang.


"Kalau begitu, ayo kita segera pergi juga Nona."Ucap Sandy.


"Baik..."


Setelah sampai di kamar, kedua gadis itu meletakkan buku-bukunya di atas meja.


"Sandy, apa itu benar jika seorang Ratu harus menghapal semua yang ada di buku-buku ini?"Tanya Lydora.

__ADS_1


"Benar Nona. Pemimpin negara harus bisa menjadi andalan negara. Banyak pemimpin negara yang licik dan setiap tahun mereka akan menawarkan sebuah kontrak kerja sama. Jika kita tidak pintar dalam menjalankannya, mereka bisa memanfaatkan kita dengan mudah."Ucap Sandy.


Next...


__ADS_2