Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 34


__ADS_3

Kepala pelayan yang bernama Arnold itu langsung menoleh ke arah majikan yang sedang memanggilnya.


Wajahnya seketika memucat merasa takut karena Yohannes tiba-tiba memanggilnya.


"Nona Lydora...sedang belajar bersama Nyonya Bella di penjara, yang mulia."Jawab Arnold dengan gugup.


"Sampai kapan dia akan selesai?"Tanya lagi Yohannes.


"Saat jam makan siang nanti Nona Lydora baru akan selesai Yang mulia."Jawab Arnold lagi.


"Hmm, kalau begitu kau boleh pergi sekarang."Ucap Yohannes lalu dia berjalan kembali ke ruang kerjanya.


"Baik, yang mulia saya permisi."Ucap Arnold. Dia merasa lega karena majikannya itu tidak memarahinya tapi dia menjadi merasa kasihan dan bersalah saat memandang punggung Yohannes yang terlihat memiliki begitu banyak beban.


Semoga yang mulia pangeran bisa mencintai Nona Lydora...


Masih di penjara, Lydora tidak bisa fokus menyimak apa yang di ajarkan oleh Nyonya Bella. Nyonya Bella yang sejak tadi memperhatikannya, cukup tahu bahwa Lydora sedang memiliki banyak pikiran.


"Kita sampai disini dulu belajarnya."Ucap Nyonya Bella menghentikan aktivitasnya.


"Eh, sudah selesai?"Tanya Lydora yang merasa belajarnya lebih cepat dari hari biasanya.


"Iya, sudah selesai. Sebentar lagi waktunya jam makan siang. Kau sudah boleh pergi sekarang."Ucap Nyonya Bella.


"Baiklah, Nyonya Bella. Terima kasih untuk hari ini. Tapi apakah saya boleh bertanya sebelum saya pergi, Nyonya?"Tanya Lydora.


"Kau mau menanyakan apa?"


"Dimana Nona Stacey?"


"Oh, putriku ditempatkan di penjara lain. Yang mulia baginda Ratu memerintahkan kami untuk ditempatkan secara terpisah."Jawab Nyonya Bella dengan wajah yang sedikit sedih.


"Begitu ya. Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya Bella."Ucap Lydora segera beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi.


Saat itu Sandy masih dalam perjalanan untuk menjemput Lydora dan Lydora terpaksa menunggu di luar pintu sendirian di lorong penjara yang sedikit kumuh itu karena masih belum hapal dengan jalannya. Penjara di Kerajaan itu jalannya hampir seperti labirin dan sengaja dibuat seperti itu.


Lydora tanpa sadar terus melamun dan teringat dengan kejadian yang menimpanya. Dia berusaha keras untuk mengingat kejadian tadi malam tapi usahanya sia-sia.


Beberapa menit kemudian, Sandy sudah datang dan memanggil nonanya.


"Nona! Nona sudah selesai belajar?"


Lydora menganggukkan kepalanya."Iya sudah."Jawabnya.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo kita kembali ke istana Nona. Yang mulia pangeran juga sedang menunggu anda. Beliau ingin bertemu dengan anda."Ucap Sandy.


Lydora tersentak saat mendengar Yohannes ingin bertemu dengannya.


"Eh? Yang mulia pangeran ingin bertemu denganku? Kenapa?"Tanya Lydora.


"Saya tidak tahu Nona. Saat saya berpapasan dengan beliau tadi, beliau langsung memerintahkan saya untuk menjemput anda secepatnya."Ucap Sandy.


"Hmm, baiklah. Ayo kita cepat kembali."Ucap Lydora.


Kedua wanita itu pun akhirnya berjalan meninggalkan penjara dan segera kembali ke istana.


Sesuai apa yang dikatakan Sandy, Lydora bisa melihat Yohannes sedang berdiri di samping pintu kamarnya sambil melipat kedua tangannya terlihat sedang menunggu seseorang.


"Yang mulia pangeran?"Panggil Lydora segera menghampiri Yohannes.


Sandy sebelumnya sudah meminta izin untuk pamit dan segera meninggalkan kedua pasangan itu.


Yohannes yang mendengar ada seseorang yang memanggilnya pun langsung menolehkan pandangannya.


"Oh, kau sudah datang."Ucap Yohannes.


"Ada apa yang mulia mencari saya?"Tanya Lydora.


Yohannes sedikit melebarkan matanya saat melihat wajah dan kedua mata Lydora yang sedikit sembab dan pucat. Dia juga memerhatikan Lydora yang menundukkan pandangannya dan tidak mau melihat ke arahnya.


"Tidak! Saya tidak menangis Yang mulia."Jawab Lydora menyangkal. Jantungnya seketika berdegup kencang saat Yohannes menanyakan apakah dirinya habis menangis.


Bagaimana dia bisa tahu?


Dirinya pun memutuskan untuk tersenyum seolah dirinya baik-baik saja.


Sudah kuduga kau pasti tadi menangis.


Yohannes mengernyitkan alisnya merasa tidak percaya sekalipun melihat Lydora tersenyum manis kepadanya.


Aku tahu kau sedang berbohong. Hah, sungguh menyusahkan. Kita tidak akan jadi seperti ini kalau bukan kesalahan wanita tua itu.


"Kau tadi sarapan?"Tanya Yohannes.


"Eh, iya, saya tadi sudah sarapan Yang mulia. Tapi Yang mulia baginda Ratu tidak ikut sarapan karena katanya beliau tidak berselera, jadi saya terpaksa sarapan sendirian. Anda juga kenapa tidak ikut sarapan, Yang mulia? Apakah anda tadi sudah sarapan?"Tanya Lydora bergantian.


Yohannes terdiam sejenak dan sedikit memiringkan senyumannya.

__ADS_1


Jadi wanita tua itu akhirnya merasa bersalah?


"Iya, tadi aku sudah sarapan. Aku sedang malas melihat wanita itu, jadi aku memilih sarapan di ruang kerjaku."Jawab Yohannes berbohong.


"Oh, syukurlah kalau yang mulia sudah sarapan."Ucap Lydora merasa lega. Lydora bisa memahami perasaan Yohannes yang saat ini sedang sakit hati dengan Ratu Edna.


"Ayo ikut aku pergi keluar. Temani aku makan siang di luar."Ajak Yohannes tiba-tiba yang membuat Lydora terkejut.


"Apa? Yang mulia mengajak saya makan siang di luar? Kenapa tidak makan siang disini saja Yang mulia?"Tanya Lydora yang bingung.


"Aku sedang tidak ingin makan disini. Sudahlah, kau turuti saja perkataanku dan jangan banyak bertanya. Cepat bersiaplah. Aku akan menunggu di halaman. Dan ku perintahkan kau jangan meminta izin pada ibuku kalau kita mau pergi. Awas saja kalau kau sampai bilang padanya."Ucap Yohannes dengan ancaman.


"B-baik yang mulia..."


Yohannes berniat mengajak Lydora pergi makan siang di luar karena dia masih tidak ingin menyentuh makanan ataupun minuman yang dibuat orang istana karena dirinya masih trauma dan merasa sakit hati atas perlakuan ibu tirinya.


Dia sekalian ingin memperbaiki suasana hatinya melihat dunia luar apalagi tadi dia melihat Lydora yang terlihat sedih habis menangis. Dia merasa kasihan kepada gadis itu. Jadi dia berniat sekalian mengajak Lydora untuk menghibur wanita itu dengan caranya sendiri.


Lydora pun terpaksa mendengarkan perintah calon suaminya dan mulai bersiap-siap. Meskipun hatinya belum siap karena masih merasa takut dengan Yohannes apalagi ketika melihat wajah Yohannes yang seperti mau marah saja.


Setelah selesai berdandan, Lydora pun menemui Yohannes yang sedang menunggunya di halaman bersama kereta kuda yang sudah dipersiapkan.


Aneh sekali. Kenapa tiba-tiba dia mengajakku makan siang di luar?


Lydora terus bertanya-tanya di dalam hatinya merasa bingung.


Lydora melihat Yohannes memakai jubah hitam yang menutupi bagian kepalanya. Pria itu menoleh melihat kedatangan Lydora.


Dia pun menyodorkan sebuah jubah kepada wanita itu.


"Pakai ini. Kita harus pakai ini supaya tidak mudah dikenali orang."Ucap Yohannes.


"Baik, yang mulia."Lydora menerima jubah itu dan mengenakannya.


Mereka berdua pun masuk ke kereta kuda. Seorang kusir segera menjalankan kudanya dan kereta pergi berjalan menuju keluar gerbang.


Di perjalanan, keduanya hanya saling diam menatap ke jendela masing-masing melihat pemandangan luar.


Hati Lydora sedikit lebih baik karena sudah lama dia tidak melihat dunia luar. Daerah kota semakin ramai dengan adanya penduduk yang lalu lalang.


Beberapa saat kemudian kereta kuda berhenti tepat di depan sebuah restoran sederhana. Namun aroma makanan yang begitu menyengat langsung masuk ke indra penciuman mereka berdua.


Yohannes tanpa sadar memegang perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi.

__ADS_1


"Kita sudah sampai. Ayo kita masuk kesana."Ajak Yohannes dan Lydora menganggukkan kepalanya terlihat begitu senang.


Next...


__ADS_2