
Huh dasar pembohong! Jelas-jelas tadi aku dengar dia tertawa tahu!
"Tapi yang mulia..."Ellen masih kekeh bahwa dia yakin Aldrich tadi tertawa. Mendengar Aldrich tertawa adalah hal melegenda baginya.
"Sudah kubilang aku tidak tertawa! Aku mau mandi dulu."Ucap Aldrich kemudian beranjak dari kasur dan berjalan masuk ke kamar mandi.
"Heh, aku penasaran banget dengan suara tertawanya. Aku juga sempat terpikir apakah dia tidak pernah tertawa?!"Gumam Ellen.
Sementara itu diluar, Theo yang hendak baru mau pulang melihat kedatangan Ratu Irene yang baru saja kembali pulang dari rumah temannya.
"Salam yang mulia Ratu."Salam Theo hormat sambil membungkuk.
"Oh Tuan Theo. Jadi anda dokter kenalan pelayanku ya?"Tanya Ratu Irene lembut.
"Itu benar yang mulia."Jawab Theo.
"Bagaimana keadaannya? Anda sudah memeriksa menantuku?"Tanya Ratu Irene sedikit cemas. Lagi-lagi dia merasa bersalah karena tidak sempat ikut menengok pemeriksaan menantunya karena dia ada urusan mendadak yang harus dikerjakannya.
"Sudah yang mulia. Selamat, anda akan segera memiliki cucu. Permaisuri Ellen sedang hamil dan usia kandungannya sudah 2 minggu."Jawab Theo tersenyum lebar.
Ratu Irene langsung girang mendengar kabar baik itu. Dirinya seperti ingin melompat-lompat tapi dia tidak mungkin melakukannya.
"Benarkah? Wah, syukurlah! Aku akan segera menjadi nenek! Aku merasa bersalah karena tidak ikut menemani Ellen."Ucap Ratu Irene menjadi sedih kembali.
"Anda tenang saja yang mulia. Yang mulia Raja sudah pulang dan saat ini yang mulia raja sedang bersama yang mulia permaisuri."Ucap Theo.
Ratu Irene langsung terperanjat kaget.
"Anda bilang putraku sudah pulang?! Oh ya Tuhan! Bagaimana ini?! Dia pasti murka sekali denganku!"Ucap Ratu Irene mulai panik sendiri.
Theo hanya bisa keheranan merasa lucu dengan keluarga kerajaan yang sedikit memiliki perubahan.
Sepertinya keberadaan permaisuri Ellen cukup berdampak besar untuk membuat kerajaan ini berubah menjadi sedikit lebih hangat.
"Jadi, tentang obatnya? Apakah Ellen ada menanyakan tentang obat yang diterimanya?"Tanya Irene masih mengingat obat yang diberikan Lizzy.
"Saya sudah menanganinya yang mulia. Untung Anda semua memberitahu saya lebih awal, jadi permaisuri Ellen dan bayinya selamat. Obat itu adalah obat keguguran. Jika yang mulia permaisuri meminumnya lebih dari itu, maka dia juga tidak akan bisa punya anak."Ucap Theo.
Ratu Irene benar-benar syok. Dirinya sepertinya bakalan sakit jantung mendengar faktanya. Lagi-lagi ada orang yang telah merusak kepercayaannya. Hatinya begitu sakit mengenai Lizzy yang sudah begitu tega hendak membunuh cucunya. Saat ini dia bahkan sudah memegang dadanya merasakan denyut yang perih.
__ADS_1
"Anda baik-baik saja yang mulia...?"Tanya Theo mulai panik melihat Ratu Irene yang lemas.
"Kenapa dia setega itu kepada kami? Kupikir dia benar-benar anak yang baik..."Gumam Ratu Irene merasa begitu kecewa.
"Anda sebaiknya istirahat dulu Yang mulia...tentang Nona Lizzy sudah ditangani, Anda tidak perlu khawatir dan Yang mulia Raja juga sudah tahu tentang hal itu."Ucap Theo kemudian membantu memapah Ratu Irene.
Para pelayan yang disekitarnya pun menjadi panik dan ikut membantu Ratu Irene untuk istirahat.
"Yang mulia, coba tenangkan dulu diri anda..."Ucap Theo.
"Iya, terima kasih nak...terima kasih juga karena sudah memberitahu semuanya kepadaku..."Ucap Ratu Irene.
"Sudah tugas saya menjadi seorang dokter yang mulia. Sudah semestinya seorang dokter kewajibannya untuk jujur dan bertanggung jawab."Ucap Theo.
"Ibu? Ibu kenapa?!"Tanya Katherine yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Ibunya yang terduduk lemas.
"Ibu tidak apa-apa Kath. Kau sudah selesai belajarnya?"Tanya Ratu Irene.
"Iya...ibu, sudah. Anda dokter Theo?"Tanya Kath kepada pria yang bersama dengan Ratu Irene.
"Benar Tuan putri."Jawab Theo sambil tersenyum.
"Jadi apa sakit kakak iparku ku?"Tanya Kath masih mengira jika Ellen sakit.
"Benarkah itu? Jadi aku akan punya ponakan! Berarti Kakak Ipar tidak sakit?"Tanya Kath jadi senang.
"Iya Tuan putri."Jawab Theo lagi.
"Ibu! Berarti ibu jadi nenek dong! Tapi kenapa ibu terlihat sedih begitu? Apa ibu yakin ibu tidak apa-apa?"Tanya Kath masih cemas.
"Ibu hanya kelelahan Kath. Kau tidak perlu khawatir. Sebaiknya kau temui saja Ellen. Kau juga belum tahu kalau kakakmu sudah pulang kan?"Tanya Ratu Irene.
"Kak Rich sudah pulang?! Kenapa aku tidak tahu soal itu?!"Tanya Kath kaget.
"Ibu sendiri juga kaget. Para pelayan kita sepertinya pada lupa ingatan semua."Ucap Ratu Irene dan sebagian para pelayan dan pengawal yang mendengar jadi semakin merasa bersalah.
"Oh kalau begitu aku akan menemui mereka."Ucap Kath kemudian naik lagi ke atas untuk menemui kedua kakaknya.
"Yang anda bilang itu sungguhan kan Tuan Theo? Anda sedang tidak berbohong kan?"Tanya Ratu Irene masih waspada.
__ADS_1
"Saya bersumpah yang mulia. Anda bisa memenggal kepala saya jika saya berbohong."Ucap Theo tanpa rasa takut.
"Oh baiklah. Kita semua akan segera menangkap Lizzy. Anda juga harus ikut sebagai saksi atas perilaku kejahatan Lizzy."Ucap Ratu Irene.
"Anda tidak perlu khawatir Yang mulia Ratu. Saya pasti akan ikut menghadirinya."Ucap Theo.
*****
Sementara itu Kath yang sudah sampai di depan pintu kamar kedua pasangan itu mulai mengetuknya.
"Kakak Ipar? Apa kau ada di dalam? Apa kak Rich juga ada di dalam? Bisakah kita bicara sebentar?"Tanya Kath.
Cklek, Ellen langsung membukakan pintu untuk adiknya. Dia yakin jika semua orang sudah mendengar berita kehamilannya.
"Ya tuan putri? Apa Anda ingin bertemu dengan Yang mulia Raja? Maaf, tapi saat ini dia sedang mandi."Jawab Ellen.
"Oh begitu. Ya sudah tak masalah. Aku bisa bertemu dengannya lagi nanti waktu makan malam. Daripada itu, apa itu benar jika kakak hamil?"Tanya Kath mencoba memastikan kembali.
Ellen mengangguk sambil tersenyum.
"Ternyata sungguhan? Tapi kenapa aku tidak lihat perutmu membesar? Kulihat masih datar saja? Apa dokter Theo yakin jika ada anak di dalam perutmu ini?"Tanya Kath polos yang membuat Ellen terpaksa menahan tawanya.
"Pffft, jadi putri belum tahu? Usianya baru 2 minggu alias masih zigot. Jika sudah lewat lebih dari sebulan maka perut saya akan membesar, putri. Itu makanya kenapa ketika seorang wanita hamil butuh waktu sampai 9 bulan."Jawab Ellen.
"Ah...jadi begitu. Maklum saja lah karena aku tidak sempat mempelajarinya. Aku hanya mempelajari tentang ilmu kebangsawanan saja selama aku belajar."Ucap Kath merasa sedikit malu.
"Ah tidak apa-apa putri."Ucap Ellen tersenyum.
Tak lama Aldrich keluar dari kamar mandi dengan gaun mandinya dan melihat pintu kamarnya terbuka. Dia juga tidak melihat istrinya di dalam kamar.
Aldrich terpaksa keluar untuk mencari istrinya dan hendak memanggil salah satu pengawal. Namun dia melihat Ellen yang ternyata sedang bercengkrama dengan adiknya.
"Oh kak Rich! Jadi kakak benaran sudah pulang?"Tanya Kath terlihat senang.
"Sedang apa kau disini?"Tanya Aldrich.
"Oh aku sedang menanyakan kehamilan kak Ellen."Jawab Kath.
"Bicaranya sudah selesai kan? Kakak iparmu masih ada urusan denganku. Anak kecil sepertimu sebaiknya kembali saja lagi ke kamar."Ucap Aldrich mengusir adiknya. Dan dia menarik tangan Ellen untuk masuk lagi ke kamar dan menutup pintu.
__ADS_1
"Ih, kakak menyebalkan!"Ucap Kath kesal.
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)