
"Siapa yang tahu dengan yang namanya jatuh cinta kan? Kita bisa jatuh cinta kepada siapa saja tanpa peduli siapa mereka. Cinta itu buta."Jawab Ratu Irene.
Ellen pun terdiam. Cinta. Kata itu bahkan sudah hampir lupa di benaknya. Dia sudah tidak mengharapkan yang namanya cinta sejati atau apalah namanya. Saat ini yang perlu dia jalani adalah bertahan hidup sambil membalas dendam di cerita yang dimasukinya. Jika dia jatuh cinta kepada raja sekalipun, dia tetap merasa tidak puas karena dirinya bukanlah Ellen sesungguhnya. Memikirkan itu sungguh membuatnya semakin terluka.
*****
Dua hari berikutnya, sesuai janji Jiya, dia memanggil temannya itu untuk memeriksa Ellen. Dokter itu adalah seorang pria tampan yang berkulit sedikit gelap. Dia begitu senang dan tidak percaya jika dia akan diminta oleh Ellen untuk diperiksa.
"Salam yang mulia permaisuri."Salam Dokter itu hormat.
Wah, dokter ini lumayan tampan juga...
Ellen malah terpesona melihat tampangnya.
"Senang bertemu dengan anda Dokter. Ngomong-ngomong siapa nama anda?"Tanya Ellen.
"Ah, perkenalkan, Nama saya Theo Davidson. Anda bisa memanggil saya Theo."Ucap Theo sopan.
"Oh begitu."Ucap Ellen sambil mengangguk.
"Keluhannya apa yang mulia?"Tanya Theo.
"Akhir-akhir ini saya merasa aneh. Saya dari kemarin sampai sekarang suka muntah dan hanya ingin makan yang manis-manis. Saya sudah diperiksa dokter Lizzy semalam dan dia bilang saya baik-baik saja. Tapi saya tidak percaya padanya. Jadi, apakah anda tahu apa penyakit saya?"Tanya Ellen dengan polosnya.
Theo malah ingin menahan tawanya. Semua orang pasti sudah tahu jika Ellen sedang hamil tapi dia sendiri yang tidak menyadarinya.
"Bukankah sudah jelas? Selamat yang mulia, Anda sedang hamil."Ucap Theo tersenyum.
"Apa? Hamil?! Anda bercanda ya?"Tanya Ellen tidak percaya.
"Kenapa juga saya bercanda yang mulia? Saya bukan pelawak, tapi dokter."Ucap Theo.
"Itu saya juga tahu! Tapi kenapa dokter Lizzy tidak bilang saya hamil? Dia malah bilang saya suka makan karena hormon. Terus dia malah memberikan saya obat ini. Apakah anda tahu ini obat apa? saya belum ada meminumnya." Tanya Ellen sambil menunjukkan obat yang disimpannya.
__ADS_1
"Boleh saya lihat obatnya?"Pinta Theo.
"Ah, ini."Ellen langsung menyerahkan obat itu kepada Theo.
Theo ekspresinya langsung berubah menjadi sangat syok. Sudah bisa terjawab bahwa sebenarnya itu obat berbahaya.
"Anda beruntung karena belum meminumnya yang mulia. Anda tahu ini apa? Ini obat keguguran! Jika anda minum ini lagi maka anda juga tidak akan bisa hamil untuk selamanya."Ucap Theo yang membuat Ellen membulatkan matanya.
"Jadi itu benar?! Benar-benar wanita kurang ajar! Dia bahkan bilang ini vitamin! Dia sungguh ingin mencelakaiku!"Ucap Ellen murka.
"Jadi Nona Lizzy yang memberikan obat ini kepada Anda? Wah, saya juga tidak menyangka dia berani berbuat sejauh ini..."Ucap Theo ikut syok.
"Benar! Dia melakukan ini karena dia menyukai suami saya. Dia mungkin tidak menerima kabar baik itu dan ingin mencelakai saya."Ucap Ellen menjelaskan.
"Jadi itu alasannya? Tapi bukankah sudah jelas dia tidak bisa menjadi pasangan yang mulia raja karena statusnya? Tapi mungkin dia bisa jadi selir, kalau tidak salah?"Ucap Theo yang membuat Ellen semakin naik darah tinggi.
"Persetan dengan selir! Kalau sampai itu terjadi lihat saja bagaimana aku menyiksanya!"Ucap Ellen benar-benar murka.
Akh, dokter macam apa aku ini yang bilang begitu kepada permaisuri yang cantik ini...!
"Maaf yang mulia, saya tidak sengaja mengatakannya! Saya juga tidak bermaksud untuk mengatakannya yang mulia."Ucap Theo memohon ampun.
"Sudahlah lupakan saja."Ucap Ellen yang moodnya menjadi jelek. Namun tiba-tiba pikirannya terbesit jika dia kemungkinan bisa saja memiliki selir sama seperti raja. Lagipula status mereka sama-sama di atas, jadi mungkin jika dia memaksa, dia bisa memilikinya juga?
Theo yang memandang permaisurinya yang tadinya merengut berubah jadi senyum-senyum sendiri. Dia jadi ngeri melihat tatapan Ellen yang tidak mudah ditebak.
Permaisuri Ellen benar-benar bisa berubah 180° derajat! Bukankah dia tadi sedang kesal? Kenapa jadi senyum sendiri begitu?
"Jadi...saya benaran hamil?"Tanya Ellen lagi.
"Itu benar yang mulia. Maaf, saya bukannya ikut campur, tapi bolehkah saya tahu apa yang membuat Anda sedih?"Tanya Theo penasaran.
Bukankah seharusnya dia senang karena sedang hamil? Derajatnya akan semakin tinggi karena sudah memiliki pewaris!
__ADS_1
"Ah...sebenarnya saya ingin punya anak kok. Tapi ini terlalu cepat untuk saya. Saya belum siap....dan tidak yakin jika saya bisa menjadi seorang ibu yang baik."Ucap Ellen jadi merendah. Terlihat sekali dia begitu takut.
Theo langsung bisa ikut merasakan apa yang dirasakan Ellen. Dirinya sudah paham karena Ellen sendiri usianya masih terlalu dini untuk memiliki anak dan cukup banyak wanita yang stress karena belum siap menjadi seorang ibu di usianya yang belum matang.
"Saya paham yang mulia. Jaman sekarang memang budayanya seperti ini. Saya juga berharap budaya seperti ini dihilangkan dan kita bisa mencari pasangan hidup kita sendiri."Ucap Theo.
Di jamanku budaya itu sudah hilang dan semua orang sudah hidup bebas tanpa aturan seperti jaman ini.... Gumam Ellen dalam hati.
"Tapi Anda tidak perlu khawatir yang mulia. Saya yakin anda bisa melakukannya. Anda adalah wanita yang keren dan saya adalah fans berat anda. Anda wanita yang tangguh dan pemberani. Tidak seperti wanita yang biasanya saya lihat. Percayalah bahwa anak anda juga pasti akan senang memiliki seorang ibu seperti anda. Anda hanya perlu yakin saja. Jika anda merasa kesulitan, anda bisa memanggil saya kapanpun."Ucap Theo memberi semangat.
Seketika Ellen jadi terenyuh mendengar kata-kata Theo. Dirinya jadi semangat untuk memperjuangkan anak yang di dalam kandungannya. Dia tidak sadar air mata menitik di pipinya.
"Terima kasih banyak dokter Theo. Saya akan selalu mengingat pesan anda. Saya jadi sedikit lebih baik sekarang."Ucap Ellen terharu.
"Dengan senang hati yang mulia. Dan kalau bisa anda cepat tangani dokter Lizzy. Dia sudah berani berbuat sejauh itu."Ucap Theo.
"Tentu saja. Saya akan langsung menanganinya nanti."Ucap Ellen.
"Kalau begitu bisakah anda berikan obat itu pada saya? Saya akan membuang obat ini. Saya juga akan menyerahkan obat ini sebagai bukti atas perilaku kejahatan Nona Lizzy."Ucap Theo.
Oh, apa mungkin dia juga ingin balas dendam? Dia juga terlihat tidak menyukai Lizzy. Ya benar, semua dokter tentu saja menginginkan posisi menjadi dokter kepercayaan kerajaan, dan itu sudah jelas!
"Oh, ya ambil saja."Ucap Ellen.
"Terima kasih yang mulia."Ucap Theo terlihat senang.
Cklek, Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu kamar yakni Aldrich yang sudah kembali pulang. Dia terkejut melihat istrinya sedang berduaan dengan pria lain tanpa sepengetahuannya.
Tatapannya langsung membara seperti api yang menusuk.
"Ellen, apa-apaan ini?"Tanyanya.
Bersambung. (Terima kasih yang sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)
__ADS_1