Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 15


__ADS_3

Aduh, Luna kau datang di waktu yang tidak tepat...


"Eh, apa beritanya sudah tersebar?"Tanya Lydora.


"Ck, ck jadi itu benar ya? Bukankah waktu itu Pangeran Yohannes sudah menghinamu habis-habisan di waktu pesta? Kau bahkan menangis sampai matamu menjadi bengkak gara-gara dia! Bagaimana ceritanya kau bisa memutuskan untuk menikah dengannya?! Tolong jelaskan padaku, Lydora!"Ucap Luna.


"Ya, ya aku akan menjelaskannya, tapi pertama-tama kita harus pergi ke kamarku dulu, oke?"Ucap Lydora.


Kedua gadis itu pun memutuskan untuk masuk ke kamar Lydora. Keduanya duduk di sofa di dalam kamar itu untuk memulai pembicaraan serius.


"Sebenarnya aku sendiri juga kaget Luna. Saat aku meminta...ibuku mengatur kencan butaku, pangeran Yohannes malah datang ke rumah kami secara tiba-tiba. Dia menyuruhku untuk menikah dengannya karena alasan baginda Ratu yang memaksa. Lalu Raja Peter juga sudah sakit parah dan dikatakan tidak akan hidup lama lagi. Setelah itu dia menyuruhku untuk menanda tangani kontrak yang dia tulis."


"Aku benar-benar ingin menolak untuk menikah dengannya karena dia sama sekali tidak memiliki perasaan padaku. Tapi katanya aku tidak boleh menolak karena itu adalah perintah. Dia bahkan sudah memanggil Nyonya Bella untuk menjadi pembimbingku saat pelantikan nanti. Besok aku akan tinggal disana dan dia juga yang memerintahkannya."Ucap Lydora menjelaskan dengan panjang lebar.


"Wah, sepertinya pria itu sudah gila ya?"Ucap Luna marah.


"Ssstt, hati-hati kalau bicara Luna. Jika ada orang lain yang mendengar kau memakinya, kau bisa langsung dihukum!"Ucap Lydora.


"Aku benar-benar tidak mengerti. Aku sempat menyesal sudah merasa kasihan padanya karena dia tidak mendapatkan hati Ratu Ellen, tapi aku sangat marah jika dia memperlakukan sahabatku dengan buruk! Setidaknya dia harus meminta maaf karena sudah mengataimu dengan buruk, bukan malah memaksamu untuk menikahinya. Kau terlalu baik untuknya, Lydora."Ucap Luna.


"Aku tidak tahu lagi, Luna. Kurasa aku akan mencoba untuk terbiasa dan banyak bersabar."Ucap Lydora.


"Lalu bagaimana dengan kencan buta yang diatur ibumu itu? Apa kau sudah mendapat pria sesuai kriteriamu?"Tanya Luna.


"Uh...tidak. Aku belum mendapatkannya."Ucap Lydora sambil tertunduk sedih.


"Begitu ya? Yah, hal itu memang sulit apalagi jika kau mencari tipe dengan wajah seperti Pangeran Yohannes."Ucap Luna.


"Haha, tidak juga kok. Asalkan dia pria baik dan setara denganku, itu saja. Terkadang aku menjadi iri kepada Ratu Ellen karena sudah memiliki suami yang menyayanginya."Ucap Lydora.


"Lydora, kuharap kau memanggilku saat kau memiliki masalah nanti. Jangan biarkan kau yang menangani semuanya. Ada kami yang selalu siap membantu. Aku tidak mau membiarkan sahabatku menderita."Ucap Luna.


"Iya, terima kasih Luna."Ucap Lydora merasa terharu. Mereka berdua pun berpelukan.


Setelah itu, Lydora mencoba untuk menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya. Namun dia tidak menceritakan bagian sedihnya dan hanya meminta izin bahwa mulai besok dia akan menetap di istana Lilwest.

__ADS_1


Kedua orang tua Lydora merasa sangat sedih karena mereka harus berpisah dengan putri mereka satu-satunya. Mereka juga tahu bahwa Lydora tidaklah siap melaksanakan pernikahan bersama seorang pria yang sudah melukai perasaannya.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali beberapa pelayan sudah menyiapkan keperluan nona muda mereka. Lydora hanya tinggal meminta izin untuk pergi kepada kedua orang tuanya.


"Ibu, ayah aku pergi ya."Pamit Lydora.


"Iya, berhati-hatilah nak. Jika kau memiliki masalah, panggil kami. Kami harap kau tidak menderita disana."Ucap Nyonya Rosetta.


"Iya, ibu. Aku akan baik-baik saja."


"Ingatlah Lydora, jangan sampai melupakan kami. Kami selalu menyayangimu."Ucap Tuan Bamon berusaha menahan air matanya tidak jatuh.


"Haha, mana mungkin aku akan melupakan kalian, ayah. Aku juga selalu menyayangi kalian berdua. Kalau begitu sampai jumpa, ibu ayah!"Ucap Lydora.


"Jaga dirimu baik-baik ya Lydora!"


"Baik ibu!"


Sesampai di istana, Lydora dibantu oleh beberapa pelayan untuk membawa barang-barang yang dibawanya. Pelayan yang satu lagi mengantar Lydora menuju kamar yang akan ditempati Lydora.


Lydora membalas dengan anggukan dan mengikuti Pelayan itu masuk ke area istana. Mereka menaiki beberapa anak tangga dan sampai pada sebuah pintu. Pelayan membuka pintunya dan Lydora dapat melihat dekorasi kamar itu.


Lydora membulatkan matanya terpesona dengan desain kamarnya yang sesuai impiannya. Dia bahkan lebih menyukai kamar itu daripada kamarnya yang lama meskipun kamar lamanya sangat mewah penuh dengan dekorasi gemerlapan. Tapi dia lebih menyukai kamar sederhana yang terlihat nyaman dan tidak terlalu banyak dekorasinya seperti kamar yang sudah disediakan untuknya itu.


"Nona, jika anda membutuhkan sesuatu, anda panggil saja kami, Nona."Ucap pelayan itu.


"Baik...lalu kapan aku akan mulai bertemu dengan Nyonya Bella?"Tanya Lydora.


"Anda akan bertemu dengan beliau satu jam lagi, Nona. Saya akan memanggil anda jika sudah waktunya."Ucap pelayan itu.


"Baiklah."


"Apakah Nona ada pertanyaan lain?"


"Umm, dimana yang mulia Pangeran?"Tanya Lydora akhirnya bertanya tentang kabar Yohannes.

__ADS_1


"Yang mulia Pangeran sedang rapat dengan para menteri dan yang mulia Raja, Nona. Apakah Nona ada perlu dengan beliau?"Tanya pelayan itu balik.


"Oh, tidak tidak! Aku hanya ingin tahu dia dimana sekarang itu saja. Lalu dimana yang mulia baginda Ratu?"


"Yang mulia Ratu sedang bersantai di taman, Nona."Jawab pelayan itu.


"Kalau begitu aku ingin bertemu dengan beliau. Bisakah aku bertemu dengannya?"Tanya Lydora. Dia sekalian ingin tahu mengapa Ratu Edna memaksanya untuk menjadi menantunya.


"Bisa Nona. Saya akan mengantar Anda."Ucap pelayan itu tersenyum.


Sesampai di taman, Lydora bisa melihat Sang Ratu Edna sedang duduk di sebuah bangku sambil mengobrol dengan tukang kebun. Sang Ratu terlihat sangat senang. Dia bahkan tertawa bersama tukang kebun itu.


Lydora berjalan mendekat dan Ratu Edna langsung menyadari kedatangan Lydora. Dia tersenyum hangat kearah Lydora.


"Lydora, ternyata kau sudah datang. Ayo sini, duduk bersamaku."Panggil Ratu Edna.


"Baik yang mulia..."Lydora pun duduk di samping Ratu Edna.


"Bagaimana kabarmu Lydora? Lalu bagaimana kabar kedua orang tuamu?"Tanya Ratu Edna.


"Saya...baik yang mulia. Kedua orang tua saya juga baik."Jawab Lydora.


"Syukurlah. Bagaimana sikap anak itu saat datang kerumahmu? Dia tidak mengatakan hal yang macam-macam kan?"


Deg.


"Tidak...ada kok yang mulia. Yang mulia Pangeran sangat sopan. Tapi saya kaget dengan yang mulia Pangeran yang tiba-tiba melamar saya."Jawab Lydora.


"Hahaha, itu karena aku yang memaksanya. Aku menyukaimu Lydora. Entah kenapa aku punya firasat bagus kalau kau bisa menjadi pemimpin yang baik."Ucap Ratu Edna.


"B-benarkah? Tapi...saya belum pernah melakukan peran seperti itu sebelumnya. Bagaimana anda bisa yakin, yang mulia?"Tanya Lydora yang cukup kaget.


"Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi firasatku selama ini selalu benar. Apakah anak itu ada bicara aneh-aneh lagi kepadamu? Katakan saja padaku sejujurnya. Dia tidak bisa selamanya terus begitu dan harus bisa segera membuka hatinya untuk wanita lain, bukankah begitu?"


"Ah, ya...yang mulia Pangeran katanya tidak suka dengan rambut merah saya."Ucap Lydora.

__ADS_1


Next....


__ADS_2