Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 38


__ADS_3

Di sebuah aula yang sangat besar, terdapat dekorasi yang sudah dihias dengan sangat mewah dan gemerlapan. Para tamu dari seluruh negeri sudah mulai pada berdatangan untuk menyaksikan upacara suci pernikahan Pangeran Yohannes dan Putri Duke Lydora Sylvainn.


Di ruang rias, seorang wanita duduk di depan kaca rias memandangi dirinya yang sudah memakai pakaian serba putih dan tudung di atas kepalanya terlihat begitu cantik. Dia memegang dadanya merasa sangat takut dan mencoba untuk bisa bersikap dengan baik.


"Nona Lydora, anda sangat cantik dengan gaun ini. Yang mulia baginda Ratu benar-benar tepat memilihkannya untuk anda."Ucap Pelayan Sandy memuji.


"Benarkah? Terima kasih Sandy. Aku juga sangat suka dengan gaunnya."Balas Lydora tersenyum.


"Anda sudah siap kan Nona? Sudah waktunya kita untuk ke Aula karena Yang mulia pangeran sedang menunggu anda."Tanya Sandy.


Lydora kemudian mengangguk."Ya, aku sudah siap Sandy. Ayo kita pergi."


Sandy lalu mengantar Lydora keluar dari ruang rias. Lydora sedikit kaget saat melihat ibunya berdiri di balik pintu, ternyata Nyonya Rosetta sedang menunggu putrinya.


"Ibu?"


"Putriku, kau cantik sekali sayang. Ayo, ibu juga akan menemanimu ke aula."Ucap Nyonya Rosetta terlihat terharu.


Lydora hanya membalas dengan anggukan dan senyuman. Dia sangat terharu karena ada orang tuanya yang menyaksikan pernikahannya.


Setelah sampai di aula, Lydora terkesima dengan dekorasi pernikahannya yang


sangat mewah. Semuanya gemerlapan dan hampir membuat matanya silau.


Lydora pun bisa melihat Yohannes yang sudah berdiri di atas aula dengan pakaian tuxedo berwarna seirama dengan gaun pernikahannya. Sangat tampan dan gagah. Namun terlihat jelas bahwa pria itu sangat tegang dan hal itu sempat membuat Lydora merasa lucu melihatnya.


Saat berjalan menuju aula, Sang ayah, yakni Tuan Bamon menggiring putrinya untuk menyerahkannya kepada calon menantunya. Kedua matanya sampai berkaca-kaca merasa sangat bahagia menyaksikan upacara pernikahan putri semata wayangnya. Para pemain musik sudah mulai memainkan lagu mereka yang klasik.


Yohannes membulatkan matanya sempurna melihat seorang wanita sedang berjalan ke arahnya dengan gaun putih yang sungguh indah.

__ADS_1


Kini kedua pasangan itu sudah berdiri beriringan menghadap satu sama lain. sang pendeta menyuruh calon pria untuk membuka tudung milik si calon wanita.


Yohannes pun meraih tudung putih tembus pandang yang menutupi wajah cantik Lydora. Saat dibukanya, dia memandangi wajah Lydora yang lebih cantik dari biasanya dengan make up yang tidak terlalu tebal.


Lydora yang sejak tadi hanya menundukkan pandangannya, detak jantungnya belum bisa terkendali.


Sang pendeta kemudian memulai ritual upacara pernikahan. Sang kedua calon disuruh untuk mengucapkan janji suci mereka. Setelah itu Sang calon pria menyematkan cincin ke jari manis Sang calon wanita. Begitu juga dengan si calon wanita yang menyematkan cincin ke jari manis Sang calon pria.


Kini kedua pasangan itu sudah sah menjadi suami istri. Semua orang-orang yang menyaksikan bertepuk tangan dengan meriah. Sesi selanjutnya adalah penobatan mereka berdua menjadi generasi pemimpin kerajaan selanjutnya.


Lydora merasa sedikit lebih percaya kali ini karena dia sudah bekerja keras selama ini. Dia sudah mengorbankan waktunya demi belajar dan belajar agar tidak membuat kecewa nantinya. Beruntungnya ucapan sumpahnya sudah dihapal olehnya dengan cukup lancar. Lydora merasa begitu lega dan bangga karena hasil kerja kerasnya tidak sia-sia.


Saat upacara penobatan itu, sang wanita menanda tangani sebuah surat sumpah bahwasanya mulai detik ini Lydora sudah menjabat sebagai seorang Ratu Lilwest. Begitu juga dengan Yohannes yang kini statusnya sudah berubah menjadi Raja.


Lydora merasa sedikit kasihan kepada Yohannes karena saat acara pernikahan dan penobatan mereka, Sang ayah yakni Raja Peter tidak bisa hadir untuk menyaksikannya. Beliau semakin hari semakin menurun kesehatannya. Hanya Sang ibu Ratu yang menyaksikan pernikahan mereka.


Dan sesi terakhir, Ratu Edna menyerahkan mahkota miliknya kepada Lydora dan memakaikannya di atas kepala menantunya itu.


"Terima kasih Yang mulia baginda Ratu. Saya akan berusaha menepati janji saya untuk menjadi Ratu yang baik dan bijaksana..."Ucap Lydora kemudian mencium punggung tangan Ratu Edna.


"Mulai sekarang, kau jangan panggil aku dengan sebutan Yang mulia Baginda Ratu lagi karena jabatanku sudah berpindah ke tanganmu. Panggillah aku ibu. Aku akan lebih senang jika menantuku memanggilku dengan sebutan ibu."Pinta Ratu Edna.


"Baik, ibu. Semoga anda dianugerahi oleh Tuhan..."Ucap Lydora.


Setelah kedua upacara selesai, barulah kedua pasangan itu bisa beristirahat sebentar duduk di sofa yang telah disediakan. Acaranya cukup lama dan melelahkan hingga membuat keduanya merasa lapar.


"Hei, Lydora. Apa kau lapar?"Tanya Yohannes kepada wanita yang baru saja mengganti statusnya menjadi istrinya itu.


"Eh? Ya...sedikit yang mulia. Soalnya tadi pagi saya hanya makan sedikit supaya saya bisa lebih mudah memakai gaunnya..."Ucap Lydora menjadi malu.

__ADS_1


"Aku juga lapar. Para tamu sudah ada yang menikmati makanan mereka. Kuharap mereka semua cepat pulang dan aku bisa segera bebas."Ucap Yohannes.


"Memangnya...anda tadi belum sarapan yang mulia?"Tanya Lydora.


"Belum."


"Kenapa? Jika anda terus menunda makan anda seperti itu, nanti anda bisa sakit yang mulia. Kalau anda sakit, siapa yang bakal memimpin negara ini? Tidak mungkin saya kan? Padahal kita masih muda, dan jika anda mati, saya juga tidak mau menjadi janda..."Ucap Lydora tanpa sadar keceplosan.


"Kau bilang apa? Kau berani menyumpahi aku mati?"Tanya Yohannes menjadi kesal.


"Ah tidak! Karena saya tidak mau anda mati, anda harus tetap menjaga kesehatan anda yang mulia. Apa anda tidak merasa kasihan pada saya?"Ucap Lydora.


"Memangnya aku peduli?"Balas Yohannes terdengar malas.


Lydora menjadi kesal dengan ucapan Yohannes.


Cih, dasar pria menyebalkan! Lihat saja nanti kalau suatu hari kau jatuh cinta kepadaku. Aku yang akan berbalik tidak peduli padamu!


"Biar kau tahu satu hal. Belakangan ini aku tidak ingin makan disini lagi karena aku menjadi paranoid semenjak ibu memasukkan sesuatu ke dalam minuman saat makan malam kita berdua waktu itu. Semenjak itu aku tidak ingin makan disini lagi, dan memilih untuk makan di luar. Jangankan makan, minum saja aku tidak mau yang diantar oleh pelayan."Ucap Yohannes.


"Hah? Jadi selama ini anda tidak pernah menyentuh makanan istana lagi yang mulia?! Kalau begitu...anda berarti tadi belum sarapan? Astaga, Yang mulia. Anda tidak usah berlebihan! Saya yang tetap memakan masakan koki istana, tetap baik-baik saja kok. Lagipula ibu sudah benar-benar menyesali perbuatannya. Toh kita juga sudah menikah kan. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan?"Ucap Lydora.


Yohannes terdiam sejenak. Dia membenarkan ucapan Lydora, namun hatinya menolak karena dia selalu kesal setiap mengingat kejadian malam itu.


Tiba-tiba ada seorang wanita dan seorang pria yang juga pasangan terlihat sangat familiar mendatangi kedua pasangan itu.


"Selamat atas pernikahan dan penobatan anda yang mulia Raja Yohannes."Ucap suara seorang wanita dengan ramah. Suaranya bahkan sangat merdu dan Yohannes seketika mengangkat kepalanya karena sangat mengenali suara itu.


"Ellen..."Suara seorang pria yang terdengar dingin tidak suka saat wanita itu menyapa Yohannes.

__ADS_1


Ellen...?


Next...


__ADS_2