
Beberapa jam setelahnya, kedua pasutri itu menjalankan kehidupan sehari-hari mereka seperti biasa namun Yohannes sudah mulai berubah. Tidak sedingin dulu saat pertama kali bertemu dengan Lydora.
Tapi ada hal yang membuat Lydora masih bingung. Sejak pagi suasana Yohannes terlihat buruk dan Lydora sampai takut untuk bertanya. Dia juga merasa bersalah mengapa dirinya memakan semua tempat tidur tadi malam sehingga suaminya itu terpaksa tidur di sofa.
Kini mereka berdua sedang di ruang kerja bersama dayang Felice yang ikut membantu Lydora.
"Pssst, Felice. Bisakah kamu keluar dulu?"Pinta Lydora.
"Oh baik yang mulia. Jika anda ada keperluan, panggil saya saja."Ucap Felice langsung mengerti dan beranjak dari tempat duduknya.
"Iya."Balas Lydora.
Setelah Felice keluar dari ruang itu, kini tinggal kedua pasutri itu saja. Lydora duduk di sofa sedangkan Yohannes duduk di kursi single dengan meja kerjanya. Lydora berniat untuk menanyakan suaminya itu.
"Anu...suamiku. Apa tengkukmu masih sakit?"Tanya Lydora berusaha memberanikan diri.
"Sedikit."Jawab Yohannes singkat.
"Ah, aku benar-benar minta maaf. Tadi malam aku ketiduran dan seharusnya kamu membangunkanku, jadi aku kan bisa geser posisi..."Ucap Lydora merasa sangat bersalah.
Yohannes kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah Lydora duduk lalu duduk di sampingnya.
"Aku tidak marah soal itu."Ucap Yohannes.
"Eh? Jadi...apa?"Tanya Lydora bingung.
"Kenapa kau mendadak jadi pura-pura polos begini? Bukankah kau tadi malam sewaktu di lapangan hijau sangat ahli berciuman?"
Hah? Dia ngomong apa sih?
"Katakan dengan jujur. Kau sudah kencan dengan berapa pria?"Tanya Yohannes yang membuat Lydora membelalakkan matanya.
"Apa maksudmu? Aku belum pernah kencan dengan pria manapun! Kamu yang pertama."Ucap Lydora.
"Kau pikir aku bodoh? Bukankah sebelum hari pernikahan kita kau melakukan kencan dengan 6 pria? Kau kira aku tidak mengetahuinya? Dulu aku tidak menyinggung masalah itu karena dulu aku belum punya perasaan apapun kepadamu. Tapi sekarang...sudah berbeda."Ucap Yohannes dengan tersipu.
Astaga Yohannes, kenapa kau harus mengungkit masalah itu lagi? Bukankah aku sudah menjelaskan alasannya? Apa dia lupa?
"A-aku pandai berciuman bukan karena sudah berpengalaman karena mengencani banyak pria. Lagipula waktu itu aku bukan pergi kencan, tapi hanya ingin bertemu dengan yang lebih cocok untukku karena kamu dulu tidak menyukaiku. Untuk apa aku mempertahankan perasaanku padamu yang tidak memiliki perasaan yang sama kepadaku? Hal itu hanya akan semakin membuat hatiku sakit. Jadi dengan mencari pria lain adalah jalan terbaik bagiku. Tapi pada akhirnya aku jadi menikah denganmu juga."Jawab Lydora.
"Ah...jadi apa yang membuatmu bisa ahli berciuman begitu? Kau memang belum pernah mencium pria manapun?"Tanya lagi Yohannes.
Lydora menggeleng dengan cepat. "Iya, percayalah padaku. Aku bisa ahli karena...aku mencintai orang itu. Makanya dengan sendirinya aku bergerak karena ingin..."
__ADS_1
"Oke sudah cukup. Aku sepertinya mulai mengerti apa yang akan kau jelaskan."Ucap Yohannes dengan wajah yang sudah semerah tomat.
"Hahaha! Begitu ya? Jadi kamu sudah tidak marah lagi kan?"Ucap Lydora yang ikutan pipinya memerah menahan malu.
"Masih!"
"Ehh?? Kenapa lagi?!"Tanya Lydora semakin pusing.
Yohannes tiba-tiba mendekatkan wajahnya dekat sekali dengan istrinya itu sehingga jarak mereka kini hanya satu centi saja.
"Tadi malam padahal aku sudah berniat, tapi malah ditinggal tidur."Ucap Yohannes dengan bisikan yang membuat telinga Lydora menjadi panas.
Apa? Jadi tadi malam dia benar-benar serius?!
"Aku harap kita bisa malam ini. Jangan membuatku kecewa dengan cara ditinggal tidur lagi."Ucap Yohannes seperti perintah di telinga Lydora.
"Ya ampun, kupikir apa...ternyata kamu marah soal ini? Maafkan aku karena meninggalkanmu tidur. Aku bahkan tidak sadar kapan aku ketiduran tadi malam..."Ucap Lydora yang menahan malu.
"Kalau begitu cara mengatasinya kau jangan tiduran di atas tempat tidur seperti tadi malam atau kau bisa ketiduran lagi."Ucap Yohannes.
"B-baiklah baiklah! Sudah, kita harus melanjutkan pekerjaan kita. Masalah di wilayah Utara juga masih banyak yang belum tuntas!"Ucap Lydora hendak mengalihkan topik.
Yohannes tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan. CUP. Kecupan mendarat di bibir dan Yohannes langsung beranjak untuk kembali duduk ke kursi singlenya.
Ihhh dia Yohannes yang kukenal bukan sih?! Sekarang dia suka main nyosor saja ya?? Lama-lama aku jadi takut padanya...
Sorenya, Lydora berpapasan dengan pelayan Sandy.
"Selamat sore yang mulia."Sandy memberi salam sambil membungkuk di hadapan majikannya.
"Sore juga Sandy. Bagaimana kabarmu?"Tanya Lydora.
"Kabar saya baik yang mulia. Bagaimana dengan anda? Anda baik-baik saja kan?"Tanya balik Sandy.
"Iya, aku baik Sandy. Oh ya, ngomong-ngomong apa kau masih sering bertemu dengan peramal itu?"Lydora masih teringat peramal yang diceritakan Sandy.
"Sudah dua minggu saya tidak bertemu dengannya Yang mulia karena belakangan ini saya belum ada waktu untuk kesana. Memangnya kenapa yang Mulia?"
"Tidak apa-apa. Aku ingin mendatangi peramal itu tapi kau harus menemaniku kesana. Maukah kau menemaniku menemui peramal itu Sandy?"Pinta Lydora.
"Ah, dengan senang hati yang mulia. Mulai besok saya juga bisa menemani anda, jika anda mau yang mulia."Jawab Sandy.
"Baguslah. Kita pergi saat akhir pekan saja. Kalau hari biasa aku punya banyak sekali pekerjaan."Ucap Lydora.
__ADS_1
"Baiklah yang mulia. Kabari saya jika anda mau pergi."
"Iya, Sandy."
Malam harinya, kedua pasutri itu sedang menikmati makan malam di kamar lagi. Kali ini Lyodra merasa lebih tegang karena dia terus kepikiran permintaan suaminya yang tadi siang. Lydora berkali-kali melirik ke Yohannes yang sedang fokus mengunyah makanannya.
Duh, bagaimana ini?? Dia benar-benar serius sepertinya. Aku takut! Coba saja seandainya aku mengingat kejadian malam itu...
Lydora menjadi gelisah dan panik sendiri sampai Yohannes yang di sebelahnya terheran dibuatnya.
"Ku kenapa? Kenapa tidak dimakan makanannya?"Tanya Yohannes.
"A-aku memakannya kok..."Jawab Lydora dengan gugup.
"Benarkah? Tapi daritadi kau hanya menggoyangkan daging itu saja tanpa memakannya. Kalau tidak enak atau tidak selera, bilang saja."Ucap Yohannes.
"Tidak!"Lydora pun langsung melahap daging steak itu ke dalam mulutnya yang kecil sampai membuat Yohannes terkejut.
Astaga, sebenarnya dia ini kenapa sih??
"Sudah kan? Aku menghabiskannya."Ucap Lydora.
"Iya...tapi bisa tidak kau makan yang biasa saja? Takutnya kau bisa tersedak kalau begitu. Kalau kau makan seperti itu di depan para bangsawan yang lain, kau pasti akan dianggap tidak sopan."Ucap Yohannes mulai ceramah.
"Iya maaf..."
Setengah jam kemudian, keduanya sudah diatas tempat tidur. Yohannes sepertinya mulai sadar apa yang menyebabkan istrinya itu tegang seharian ini.
Dia pasti terus kepikiran ucapanku tadi pagi. Aku jadi merasa tidak enak karena seperti memaksanya. Dia belum siap...
"Ya sudah tidurlah. Besok kita harus bangun pagi seperti biasa."Ucap Yohannes.
"Eh?? Tidak jadi...?"Tanya Lydora keceplosan.
Hah aduh! Apa yang kukatakan?! Dasar mulutku ini!!
Lydora reflek menutup mulutnya sementara Yohannes tidak bisa menahan senyumnya.
"Apanya yang tidak jadi? Oh..."
"Tidak!"Teriak Lydora.
"Jadi kau masih ingat ya sayang?"
__ADS_1
Hah?? Apa katanya?! Sa-sayang?!!