
Di kamar, Ellen terbengong masih memikirkan ucapan Kath yang mengatakan dirinya cantik. Dia masih tidak percaya dan mengira jika itu tadi hanya halusinasinya saja.
"Apa dia tadi sungguh mengatakannya? Dia bilang aku lebih cantik dari pada Lizzy?! Apa aku berhalusinasi?"Gumam Ellen sambil rebahan di kasurnya.
Sementara di kediaman Kath, gadis itu sempat menyesali perkataannya. Dia tidak sadar mengatakannya karena dia memang mengakui jika kakak iparnya itu jauh lebih cantik dan keren.
"Argh! Aku tadi kenapa mengatakannya?! Sepertinya aku ketularan jadi gila karena wanita itu! Sekarang dia pasti semakin membanggakan dirinya dan menggangguku terus!"Gumam Kath kesal.
*****
Di kediaman Lizzy, gadis itu sempat kepikiran tentang rencananya yang berjalan mulus apa tidak. Dia dari semalam hingga sekarang tidak bisa tenang karena terus memikirkan Ellen yang tengah mengandung muda.
"Sialan, kenapa aku tidak tenang begini? Apa sebaiknya aku cek kesana saja dan melihat hasilnya? Aku tidak mau anak dari wanita itu sampai lahir untuk meneruskan waris! Bagaimana pun caranya aku harus membuat wanita itu keguguran dan bercerai dengan Aldrich!"Gumam Lizzy dengan tatapan tajam melihat dirinya ke arah cermin.
Sesuai perkataannya, Lizzy bergerak untuk mengunjungi istana berpura-pura untuk mengecek kesehatan Ellen. Padahal dia ingin memastikan jika anak yang di dalam kandungan Ellen itu sudah mati apa belum.
"Selamat sore yang mulia baginda ratu!"Salam Lizzy sopan dan elegan.
"Ah Lizzy? Selamat datang. Apa kau ingin mengecek kesehatan Ellen?"Tanya Ratu Irene.
"Itu benar yang mulia. Dimana yang mulia permaisuri Ellen? Apakah dia bisa diperiksa hari ini?"Tanya Lizzy.
"Ah itu...tentu saja. Tunggu sebentar ya, biar aku panggilkan."Ucap Ratu Irene terlihat terpaksa. Perasaannya merasa sedikit tidak enak.
Ratu Irene berjalan mendatangi kamar Ellen dan Lizzy mengikuti wanita paruh baya itu dibelakangnya.
"Ellen, hari ini dokter Lizzy datang berkunjung untuk mengecek kesehatanmu."Panggil Ratu Irene.
Sementara di dalam kamar, Ellen begitu terkejut.
Apa?! Kenapa wanita ular itu malah kesini! Dia pasti sengaja ingin mengecek apakah aku sudah minum vitaminnya atau tidak kan? Tenanglah Ellen, bersikaplah seperti biasanya...
__ADS_1
Cklek, Ellen membuka pintu dan langsung di hadapkan oleh Ratu Irene dan juga Lizzy. Senyuman gadis itu tampak tidak biasa. Ellen berusaha berakting senatural mungkin.
"Ah ibu, jadi nona Lizzy hari ini akan memeriksa saya ya?"Tanya Ellen.
"Iya benar, yang mulia. Hari ini saya akan mengecek kesehatan anda."Ucap Lizzy.
"Kenapa harus mengecek segala? Bukankah Nona Lizzy mengatakan kalau saya baik-baik saja? Seharunya anda dipanggil dulu kan jika saya memang memiliki penyakit?"Tanya Ellen.
"Ah...tidak juga kok Yang mulia. Saya sebagai dokter kepercayaan istana juga wajib untuk memeriksa pasiennya sekalipun dia bilang tidak sakit. Saya hanya ingin memastikan perkembangannya saja."Ucap Lizzy.
Ratu Irene mulai merasakan ada aura yang tidak baik di antara kedua wanita muda di hadapannya.
"Nona Lizzy hanya ingin memastikan saya sudah minum vitaminnya atau belum kan? Tenang saja, saya sudah meminumnya. Sesuai perkataan anda, saya merasa lebih sehat dan bugar."Ucap Ellen terlihat natural menunjukkan jika dirinya memang segar bugar.
"Oh baguslah Yang mulia, saya lega mendengarnya. Anda juga harus banyak bergerak supaya darahnya tidak beku. Dan saya harap anda meminumnya dengan rutin setiap hari."Ucap Lizzy.
Benar-benar wanita ini cari mati! Kalau saja aku bisa lebih cepat tahu apa kandungan dari obat itu...
"Tentu saja Nona. Saya meminumnya dengan rutin kok. Saya bahkan meminumnya 3 kali sehari."Ucap Ellen.
"Oh begitu ya, kalau begitu anda cuma mau menanyakan itu saja kan? Saya sekarang baik-baik saja. Anda tidak perlu memeriksa saya, jadi anda bisa langsung pulang."Ucap Ellen tanpa basa-basi.
"Ah ya, itu benar yang mulia. Saya akan datang lagi di hari berikutnya."Ucap Lizzy yang tahu maksud dari Ellen.
"Sudah saya bilang kan kalau anda tidak perlu memeriksa saya lagi sampai saya yang panggil sendiri? Sejujurnya saya kurang nyaman jika anda besok datang untuk memeriksa saya lagi. Saya terlihat seperti...diawasi."Ucap Ellen.
Deg, Lizzy mulai berkeringat dan dia sedikit terkejut dengan Ellen yang cepat menyadari maksud darinya. Mau tidak mau dia harus mempercayai permaisuri itu dan pulang sesuai perintahnya.
Wah, wanita ini boleh juga. Dia ternyata lumayan pintar. Setidaknya dia lebih pintar dari wanita yang sudah mati itu...
"Maafkan ketidaknyamanan anda Yang mulia permaisuri. Saya hanya bermaksud baik karena kewajiban saya sebagai seorang dokter. Saya mendengar anda mengatakan sehat saja sudah senang. Terima kasih untuk waktu anda yang berharga yang mulia permaisuri dan Yang mulia baginda Ratu Irene."Ucap Lizzy memberi salam.
__ADS_1
Ellen hanya diam dan dia sungguh malas untuk membalas salam Lizzy. Dia hanya memberikan senyum.
"Oh, kami juga berterima kasih padamu karena kamu sudah menyempatkan waktu berkunjung kemari, Lizzy."Balas Ratu Irene.
"Iya yang mulia baginda Ratu. Kalau begitu saya permisi untuk pamit."Salam Lizzy.
Setelah gadis itu pergi menjauh, Ellen baru bisa bernapas lega. Dirinya benar-benar tidak sangka jika wanita itu sungguh ingin melakukan sesuatu terhadapnya.
"Kau baik-baik saja Ellen?"Tanya Ratu Irene melihat sikap menantunya.
"Saya tidak apa-apa ibu. Tadi itu sangat menegangkan. Saya hampir ingin memakinya tadi. Ibu tahu, dia sepertinya benar-benar tidak melakukan tugasnya. Saya harap dia tidak datang kesini lagi sampai saya memberikan bukti kuat jika dia itu sebenarnya ingin mencelakai saya."Ucap Ellen.
"Benarkah? Jadi...Lizzy benar-benar punya niat seperti itu? Tapi dia kan seorang dokter?!"Tanya Ratu Irene tidak percaya.
Peraturan seorang dokter harus memegang sumpah. Sumpahnya adalah menyembuhkan bukan membunuh. Jadi jika itu benaran dilakukan Lizzy maka, dia akan diberikan hukuman yang sangat berat. Kemungkinan besarnya dia bisa kehilangan nyawa.
"Saya juga tadinya sempat kasihan padanya ibu, karena memikirkan resiko yang akan datang kepadanya. Tapi jika itu memang benar, maka itu pantas untuknya."Ucap Ellen.
Ratu Irene hanya diam dan sedikit sedih dengan pernyataan menantunya.
"Ibu, apakah sahabat ibu itu masih ada?"Tanya Ellen.
"Ah, dia sudah tiada 3 tahun yang lalu."Ucap Ratu Irene.
"Oh....kenapa dia mati bu?"Tanya Ellen lagi.
"Karena sakit. Meskipun dia seorang dokter, dia tetaplah manusia yang bisa sakit, benar kan? Dia bahkan tidak bisa menyembuhkan penyakitanya sendiri."Ucap Ratu Irene menjadi sedih mengenang masa lalu.
"Kalau begitu apa Ibu pernah kepikiran untuk menjodohkan Nona Lizzy dengan yang mulia Raja? Saya juga penasaran apakah Nona Lizzy berasal dari keluarga bangsawan juga?"
"Tentu saja ibu pernah memikirkannya. Tapi itu tidak bisa karena Lizzy bukanlah seorang putri bangsawan. Dia hanya seorang anak dari keluarga kedokteran kepercayaan negara. Lagipula dia tidak akan bisa menjalani dua tugas sekaligus. Pekerjaan menjadi seorang dokter itu cukup sulit."
__ADS_1
"Tapi kenapa dia bisa menyukai Yang mulia raja, padahal dia seharusnya sudah tahu kan kalau dia tidak bisa bersama dengan yang mulia raja?"
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)