
Keesokan paginya sesuai perintah Sang Raja, para pengawal berangkat pagi-pagi sekali untuk mencari putri Kath dan Nona Anna di hutan Emerald yang terkenal luas itu.
Sementara di hutan Emerald sesuai dugaan Sang Raja, kedua gadis itu benar-benar sedang bersembunyi disana.
Kath begitu ketakutan jika Kakaknya tiba-tiba sampai untuk menyeretnya. Dia sendiri tidak yakin apakah keputusan yang diambilnya ini adalah benar.
"Tenanglah Tuan putri. Kita benar-benar aman disini. Ini tempat persembunyian yang paling ampuh."Ucap Anna sambil memasak makanan di gubuk kecil yang mereka temukan.
"Bagaimana aku bisa tenang? Kak Rich sungguh kejam. Dia akan melakukan apapun untuk meredakan amarahnya sampai puas! Kurasa aku sudah salah mengambil tindakan ini...jika saja aku tidak--"
"Tuan putri! Sekarang anda ingin kembali kesana? Apa putri berharap jika pulang sebelum dicari akan dimaafkan? Kurasa nasib putri akan jauh lebih buruk karena Permaisuri Ellen pasti sedang mempersiapkan balas dendamnya untukmu. Anda sudah lihat sendiri di kota semua orang ricuh gara-gara rumor yang anda sebarkan. Anda setidaknya merasa puas untuk hal ini ya kan?"Ucap Anna.
"Kurasa tidak kak...aku merasa sudah melewati batas. Aku memang tidak suka dengan wanita itu. Sepertinya aku yang terlalu egois. Jika kakak memang mencintai wanita itu..."
PRANG! Anna memecahkan mangkuk sup yang sudah disiapkannya. Dia benci, ketika Kath menyebut Sang Raja mencintai wanita itu. Kath semakin ketakutan. Dia belum pernah melihat raut wajah Anna yang begitu tegang dan menyeramkan seperti itu.
"Kak, aku tidak bermaksud mengucapkannya...aku...hanya merasa ini tindakan yang salah! Aku takut jika Kak Rich sungguhan membunuhku!"Ucap Kath gemetaran.
"Sekarang anda berniat kabur untuk menyelamatkan diri anda sendiri huh? Tidak bisa, aku sudah mengajak anda kabur untuk menyelamatkan anda, dan anda harus membayar imbalannya. Aku sudah mengorbankan cintaku. Jika tidak ada pilihan lain, maka kita harus mati bersama..."Ucap Anna dengan senyum mengerikannya.
"Tidak! Lepaskan aku! Aku belum mau mati! Kak, kenapa kau jadi seperti ini?! Bukankah menyebar rumor itu juga rencanamu? Aku hanya mengikuti perintahmu! Kau bukan seorang kakak yang aku kenal!"Teriak Kath berusaha memberontak karena Anna memegang tangannya dengan kuat.
Anna tidak mempedulikannya dan terus menarik Kath keluar dari gubuk. Mereka berjalan menuju jurang yang ada di dekat hutan.
"Kak, kau mau apa?! Jangan macam-macam! Sudah kubilang aku tidak mau mati!" Teriak Kath.
Anna merasa semakin kesal dengan keributan Kath. Dia pun membungkam mulut Kath dengan tangannya.
"Tuan putri tidak perlu takut. Jika anda diam saja dan menuruti apa yang aku bilang, kita pasti akan aman. Tapi karena sepertinya anda mulai mengkhinatiku, tentu saja aku tidak bisa menerimanya."Ucap Anna.
Siapapun tolong aku...!
"Berhenti disana!"Teriak seorang pengawal. Mereka adalah pengawal kiriman dari Raja Aldrich tentunya. Anna merasa kaget karena mereka bisa menemukannya secepat ini.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin...?!"Gumam Anna mulai panik.
"Ahh! Apa yang kau lakukan tuan putri! Anda menggigit tanganku?!"Teriak Anna merasa kesakitan akibat gigitan Kath.
"Para pengawal! Cepat tolong bantu aku! Aku akan dibunuh oleh wanita ini!"Teriak Kath.
Para pengawal mulai bergerak untuk menyelamatkan sang putri namun tampaknya Anna semakin berjalan ke ujung jurang.
"Jika kalian semakin mendekat, aku beneran ikut membawanya mati bersamaku."Ancam Anna.
Para pengawal tampak kebingungan. Kath sudah berteriak histeris sambil menangis. Anna semakin mencekik lehernya hingga dia kesulitan untuk bicara bahkan bernapas.
Kath sempat mencari keberadaan sang kakak. Namun dia tidak melihatnya karena sang Raja memang tidak ikut mencarinya.
Kak, maafkan aku...aku menyesal...aku minta maaf...aku memang adik yang jahat...
Kath mulai melemah karena Anna terus mencekiknya dan para pengawal begitu ketakutan. Untungnya Ravin yang juga ikut bisa menembakkan panahnya ke arah punggung Anna.
"Akh!"Teriak Anna kesakitan. Disitulah Kath bisa terlepas meskipun dia sempoyongan.
Sementara Kath jatuh pingsan karena terlalu lemas. Ravin menghampirinya dan menggendong gadis itu untuk dibawa pulang.
Sesampai di istana, Orang-orang istana sudah berkumpul merasa cemas sekaligus panik. Ratu Irene tidak bisa tenang sedikit pun dan dia bahkan tidak tidur semalaman karena memikirkan putri satu-satunya itu.
Ellen juga jadi merasa tidak tega karena kekacauan yang terjadi.
Kereta kuda kerajaan pun kembali dan mereka semua tidak sabar untuk melihat. Ravin keluar dari kereta kuda sambil menggendong Kath yang pingsan.
"Putriku! Apa yang terjadi padanya?"Teriak Ratu Irene mengejar mereka.
"Tidak apa yang mulia Ratu. Tuan putri hanya jatuh pingsan. Dan dia pingsan gara-gara habis dicekik oleh Nona Anna."Jawab Ravin.
"Apa?! Dicekik? Dimana wanita itu? Kalian berhasil menangkapnya?"Tanya Ratu Irene mulai murka.
__ADS_1
"Nona Anna berhasil kami tangkap yang mulia. Pengawal, bawa Nona Anna kesini!"Pinta Ravin.
Pengawal pun segera membawa Anna kepada Ratu Irene. Ratu Irene sedikit kaget karena ada luka dalam di punggung wanita itu. Anna tampak begitu pucat karena darah terus mengucur di kulitnya.
"Tadi Nona Anna sempat nekat untuk menjatuhkan Tuan Putri ke jurang, saya pun menembaknya jadi dia tidak berhasil mencelakai Tuan putri, yang mulia."Jawab Ravin.
"Baiklah. Yang penting putriku selamat. Aku akan menyerahkan wanita itu kepada putraku, dia lebih berhak menentukan hukuman apa yang pantas untuknya."Ucap Ratu Irene.
"Ibu! Sini, biar saya saja yang membawa putri Kath untuk diobati."Pinta Ellen menghampiri.
"Kau yakin? Apa kau tidak mau menyaksikan hukuman yang diberikan putraku?"Tanya Ratu Irene.
"Tidak bu. Saya lebih memilih untuk mengobati Putri Kath. Saya tidak bisa melihat seseorang dieksekusi."Ucap Ellen.
"Oh baiklah. Terserahmu saja."
Benar-benar wanita yang baik...
Ellen kemudian mengikuti Ravin yang masih menggendong Kath untuk dibawa ke kamar Kath.
Aldrich yang juga berada disana heran karena dia melihat Ellen yang tidak berbuat sesuai dipikirkannya. Padahal dia sendiri sudah sangat murka dengan adiknya itu.
Aldrich mendekati Anna yang terduduk lemah di atas tanah bersama ibunya. Ratu Irene sebenarnya merasa kasihan. Tapi perbuatan Anna tetaplah salah. Anna mendongakkan kepalanya untuk melihat kedua orang yang sedang berdiri dihadapannya.
"Yang mulia baginda Ratu....dan juga Yang mulia Raja Aldrich, saya tahu perbuatan saya salah. Saya hanya ingin mendapatkan hak saya...karena saya sungguh mencintai yang mulia Raja...saya tidak rela yang mulia Raja bersama wanita lain...hati saya begitu sakit..."Ucap Anna dan air matanya pun mengalir.
"Nak, aku sungguh minta maaf karena memilihmu sebagai menantuku. Tetapi itu juga adalah pilihan putraku. Kau harus merelakannya kalau benaran cinta kepadanya, bukan malah menjadi jahat sampai ingin membunuh putriku!"Ucap Ratu Irene marah dan air matanya ikut mengalir.
"Kau itu bukan cinta kepadaku Anna."Ucap Aldrich.
"Kenapa anda berkata begitu yang mulia?"Tanya Anna kaget.
"Kau hanya terobsesi padaku. Jika kita bersama, yang ada kau memamerkan apa yang kau punya karena kau ingin membanggakannya merasa dirimulah yang harus diatas. Dan aku tidak menyesal untuk itu."Ucap Aldrich.
__ADS_1
Anna membisu. Tiba-tiba dia tersenyum dan mulai melemah. "Terima kasih yang mulia sudah menyadarkan saya...kini saya sepertinya memang pantas untuk mendapatkan karmanya...saya pikir anda tidak kenal dengan jati diri saya...itu sudah cukup untuk membuat hati saya lega.."Kata-kata terakhir yang diucapkan Anna kemudian dia pun menghela napas terakhirnya.
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa tekan tombol like 👍)