Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 64


__ADS_3

Kembali di istana, Lydora baru pulang bersama pelayan Sandy. Sesuai dugaan, dayang Felice berdiri di depan pintu masuk sedang menunggu majikannya terlihat kecewa dengan sikap Sang Ratu.


"Um, selamat sore Felice..."Sapa Lydora merasa bersalah.


"Selamat datang kembali Yang Mulia. Anda darimana saja? Kenapa anda tidak mengajak saya ikut bersama anda?"Felice langsung menyerang Lydora dengan pertanyaan.


"Maaf, aku bukannya tidak bermaksud untuk memberitahumu Felice. Tadi aku baru saja pergi menemui peramal Henston. Jika aku memberitahumu, kau pasti tidak akan mengizinkanku untuk menemuinya."Jawab Lydora berkata jujur.


Felice kemudian menghela napas. "Saya memang tidak suka dengan yang namanya peramal Yang Mulia. Tapi bukan berarti saya melarang anda untuk menemui peramal itu karena saya tidak punya hak untuk melarang Yang Mulia. Saya sangat khawatir karena anda adalah tanggung jawab saya sepenuhnya. Setidaknya temui dan ajak saya kemanapun anda ingin pergi."


"Maafkan aku Felice. Lain kali aku akan memberitahumu."Ucap Lydora jadi merasa tidak enak.


Di kamar, Lydora merenung sendirian duduk di kursi rias. Tidak ada Yohannes di ruangan itu karena dirinya masih menyelesaikan pekerjaannya. Lydora merenungi ucapan peramal tadi itu.


Aku masih tidak percaya jika Ratu Ellen mengalami kehidupan yang sama sepertiku. Rasanya jadi masuk akal setelah mengetahui bahwa cerita yang kumasuki ini berubah. Aku jadi penasaran siapa yang telah memasuki tubuh Ratu Ellen...


Flashback di kediaman Peramal Henston.


"Sebaiknya anda temui Ratu Ellen. Dia pasti akan senang sekali bertemu dengan orang yang senasib dengannya. Dan dia juga bisa memberitahu anda bagaimana cara untuk menemui seorang penyihir yang sering anda mimpikan itu."Ucap Peramal Henston.


Menemui Ratu Ellen ya...


Keesokan harinya, di ruang kerja. Lydora mencoba memberanikan diri untuk berbicara kepada suaminya yang terlihat sangat sibuk akhir-akhir ini.


"Umm, suamiku."Panggil Lydora kepada Yohannes yang sedang fokus menulis.


"Hmm?"Sahut Yohannes.


"Aku berniat ingin menemui Ratu Ellen. Bolehkah aku menemuinya?"Pinta Lydora.


Seketika Yohannes berhenti menulis dan menoleh ke arah istrinya dengan kaget. "Menemui Ratu Ellen? Untuk apa?"


"Itu...aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih dan...menyapanya karena Ratu Ellen dan suaminya sempat mendatangi acara pernikahan kita."Jawab Lydora memilih untuk tidak memberitahu Yohannes yang sebenarnya.


Maafkan aku suamiku, aku bukannya tidak ingin memberitahumu tentang masalahku. Kau pasti akan menganggapku gila jika aku memberitahumu siapa diriku.


"Hanya itu?"Tanya Yohannes masih tidak yakin.


Lydora mengangguk dengan kepastian. "Boleh ya suamiku? Aku juga sangat ingin melihat putranya yang katanya sangat tampan itu."Ucap lagi Lydora.


Yohannes kemudian menghela napasnya sedikit keberatan. "Baiklah jika itu maumu. Tapi untuk saat ini aku masih memiliki banyak pekerjaan, jadi..."

__ADS_1


"Tidak apa. Aku pergi sendiri saja bersama Felice."Jawab Lydora langsung.


"Apa? Tidak! Aku tidak mengizinkanmu untuk datang sendirian kesana. Aku harus tetap ikut. Kalau kau hanya datang sendiri kesana bersama dayangmu, rasanya kurang pantas."Ucap Yohannes menolak.


"Baiklah...aku mengerti. Aku akan menunggu."Ucap Lydora sampai tersenyum.


2 minggu kemudian, sesuai janji Yohannes. Mereka berdua pergi ke istana Valkyrie. Perjalanan membutuhkan waktu 4 jam dengan kereta kuda.


Sesampai di istana Valkyrie, mereka berdua langsung disambut dengan penuh hormat oleh para pengawal karena para pengawal itu langsung tahu jika kereta kuda yang datang adalah kereta kuda milik kerajaan Lilwest dilihat dari lambang kereta tersebut.


Dari kedatangan kerajaan Lilwest, informasi itu langsung tersampaikan ke Aldrich. Saat ini Aldrich sedang bekerja di ruang kerja, sementara Ellen sedang menghibur anaknya yang masih berusia 12 bulan itu.


Aldrich lalu segera menemui istrinya langsung di kamar putra mereka. "Sayang, apa kau ada mengundang Kerajaan Lilwest kemari?"


"Eh? Tidak tuh. Kenapa?"Tanya balik Ellen.


"Kedua pasangan baru itu datang kemari. Mungkin ada yang ingin mereka bicarakan dengan kita."Ucap Aldrich.


"Benarkah? Baiklah, aku akan bersiap-siap."Balas Ellen.


Lydora dan Yohannes duduk sambil menunggu di ruang tamu. Beberapa menit kemudian, Ellen dan Aldrich muncul. Yohannes dan Lydora segera berdiri untuk memberi salam.


"Salam yang mulia Ratu. Salam yang mulia Raja."Balas Lydora dan Yohannes secara bergantian.


"Ayo silahkan duduk. Pelayan! Siapkan camilan untuk kedua tamu ini."Perintah Ellen.


Pelayan yang ada di dekat mereka pun segera melaksanakan tugasnya. "Apa ada sesuatu yang ingin dibicarakan?"Tanya Aldrich.


"Umm, istriku katanya ingin berbicara dengan Ratu Ellen."Yohannes yang menjawab.


Lydora segera mengangguk. "Benar! Saya ingin sekali mengobrol dengan anda Ratu Ellen..."


"Oh, baiklah. Ayo kita bicara."Ucap Ellen langsung mengizinkan.


"Tunggu, apa yang ingin kalian bicarakan?"Tanya Aldrich penuh selidik.


"Umm..."Lydora bingung harus menjawab apa.


"Aduh, sayang. Kami mau membahas obrolan tentang wanita. Kamu tidak akan mengerti. Dan sebaiknya kamu ajak Yohannes mengobrol."Sambung Ellen.


Aldrich langsung menatap Yohannes dengan tatapan tidak suka. Sementara Yohannes juga sama dan dia paling benci dengan situasi saat ini.

__ADS_1


Lydora, kenapa kau meninggalkan aku berdua dengan pria ini! Kau kan tahu kalau aku dan dia bermusuhan!


"Ayo Lydora, ikut denganku. Kita mengobrol di taman saja."Ucap Ellen.


"B-baiklah Yang Mulia."


"Panggil aku Ellen. Aku saja memanggilmu Lydora. Kalau kau memanggilku dengan sebutan itu rasanya kurang akrab."Pinta Ellen.


"Baik...Ellen."


Ellen tersenyum merasa suka dengan Lydora yang memanggil namanya langsung. Sesampai di taman, mereka duduk di bangku yang telah disediakan.


"Jadi...apa yang ingin kamu bicarakan Lydora? Aku berbicara dengan bahasa santai tidak apa-apa kan?"Tanya Ellen.


"Iya tidak apa Ellen. Saya...mendengar kalau anda pernah menemui peramal Henston."


Ellen tersentak. "Darimana kau mendengarnya?"


"Dari...peramal Henston sendiri. Dia bilang...kalau anda datang dari masa depan. Apakah itu benar?"Tanya Lydora langsung.


"K-kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"Tanya Ellen balik mulai curiga.


"Ah, itu karena saya...berasal dari masa depan. Saya tidak sengaja masuk ke dalam sebuah novel yang saya baca. Kalau itu benar anda..."


"Kau...benar-benar datang dari masa depan?!"Ellen masih tidak percaya.


"I-iya..."


Ellen langsung menggenggam kedua tangan Lydora. "Wah, akhirnya ada yang senasib denganku! Kau tidak bohong kan? Kalau begitu jika kau dari masa depan, kau itu siapa?"


"Eh...umm...nama saya yang sebenarnya adalah Tina. Saya sebelumnya adalah seorang mahasiswi tapi saya berakhir mati kecelakaan ditabrak mobil. Dan saat terbangun saya malah masuk kesini..."Jawab Lydora.


"Wow, jadi kau benaran dari masa depan ya. Aku jadi percaya setelah mendengar penjelasanmu. Kau pasti penasaran denganku juga kan? Aku dulu..."


Ellen mulai menceritakan kisah bagaimana dia bisa masuk ke dunia fiksi ini. Lydora sempat heran karena Ellen masuk ke tubuh seorang putri yang masih kecil.


"Ini tetap saja aneh. Kenapa anda bisa masuk ke dalam tubuh seorang putri yang masih kecil sedangkan saya memasuki tubuh seseorang yang sudah dewasa."Tanya Lydora tidak mengerti.


"Aku juga tidak mengerti. Kau tahu, penyihir yang membuat kita jadi seperti ini sangat menyebalkan. Seolah dia adalah Dewanya. Tapi kita tidak boleh membencinya sepenuhnya karena dia telah memberikan kehidupan kedua untuk kita."


Next...

__ADS_1


__ADS_2