Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 46


__ADS_3

Kedua wanita itu membahas tugas mereka di ruang kerja Yohannes yang kini menjadi ruang kerja Lydora juga. Felice menjelaskan banyak hal tentang pekerjaan yang saat ini Lydora tangani selama hampir dua jam. Ada yang masuk dan ada yang tidak di pikiran Lydora saat Felice menjelaskan beberapa masalah politik.


"Felice, bisakah kita istirahat sebentar? Kepalaku rasanya seperti panas..."Pinta Lydora.


"Kenapa Yang mulia? Apa anda kurang enak badan?"Tanya Felice langsung khawatir.


"Tidak, aku hanya kelelahan. Oh ya, ini sudah waktunya untuk menjenguk yang mulia baginda Raja!"Ucap Lydora teringat saat dia melihat jam lemari antik yang terletak di kamarnya.


"Anda akan menjenguk yang mulia baginda Raja, Yang mulia?"Tanya Felice.


"Iya, aku akan datang bersama suamiku. kalau begitu kita sudahi dulu pekerjaan kita. Nanti sehabis makan malam baru kita lanjutkan lagi, oke Felice?"Ucap Lydora langsung beranjak dari sofa.


"Baiklah, yang mulia."Ucap Felice hanya menurut pasrah.


Lydora terlihat semangat namun di sisi lain dia juga mengkhawatirkan kondisi Raja Peter yang kabarnya kondisi kesehatannya semakin memburuk. Dan baru saja Lydora membuka pintu, dia sudah melihat Yohannes berdiri di depan pintu ruang kerja hendak mengetuk pintu.


"Oh, yang mulia?"Tanya Lydora kaget.


"Kebetulan sekali. Ayo kita menjenguk ayah. Aku tahu pekerjaanmu sebagian besar belum selesai, tapi mumpung ayah masih bangun, kita kesana saja sekarang untuk melihat keadaannya."Ucap Yohannes mengajak Lydora.


Lydora sedikit menyunggingkan senyumannya seolah membayangkan Yohannes menjemputnya untuk menjenguk ayah bersama menunjukkan jika mereka benar-benar pasangan suami istri.


"Iya, ayo yang mulia. Soal pekerjaan, bisa saya kerjakan lagi nanti malam."Ucap Lydora langsung bersemangat.


"Um, baiklah."


Sepanjang jalan berjalan berdua bersama, Lydora merasakan atmosfer yang berbeda. Biasanya ketika wanita dan pria berjalan beriringan, akan ada perasaan debaran yang manis, namun kali ini yang ada malah debaran cemas dan takut karena keduanya memikirkan kondisi kesehatan Sang Raja. Suasananya begitu tegang dan tidak nyaman. Lydora bolak-balik melirik ke arah suaminya yang terlihat raut wajahnya sedikit pucat. Dan dia tahu arah kamar Raja lumayan cukup jauh dari ruang kerja mereka.


"Um, yang mulia apakah anda baik-baik saja?"Tanya Lydora menjadi cemas.


"Hm? Aku baik-baik saja. Aku khawatir dengan kesehatan ayah."Ucap Yohannes.

__ADS_1


"Saya mengerti perasaan anda yang mulia. Saya yakin semua akan baik-baik saja."Ucap Lydora berusaha menenangkan Yohannes. Namun Yohannes tetap diam saja dengan perasaannya yang kacau.


Setelah mereka sampai di kamar sang Raja, seorang pengawal pribadi membukakan pintu untuk kedua pasutri itu masuk. Keduanya langsung bisa menyaksikan Raja Peter yang terbaring di ranjangnya seperti biasa. Tak lupa Ratu Edna yang selalu berada di samping Raja Peter menatap wajah Raja Peter dengan tatapan kosong.


"Ibu..."Panggil Yohannes.


"Selamat datang anak-anakku. Kalian mau melihat kondisi ayah kalian kan?"Tanya Ratu Edna masih menyempatkan untuk tersenyum ke hadapan anak-anaknya.


"Iya, bagaimana kondisi ayah?"Tanya Yohannes.


"Dokter belum bisa mengatakan kondisinya dengan jelas. Katanya kita harus tetap selalu berdoa kepada Tuhan. Tapi kabar yang menyedihkannya, tumor yang di derita ayah kalian sudah menyebar ke seluruh tubuhnya, jadi kemungkinan hidupnya sudah..."Ucap Ratu Edna memutuskan perkataannya.


"Ibu, kita berdoa yang terbaik saja untuk Yang mulia Baginda Raja...dan selalu percaya pada Tuhan."Ucap Lydora.


"Ya, aku tahu Lydora. Aku hanya tidak ingin terjadi kenapa-napa kepada suamiku. Dan sebaiknya kau panggil dia ayah, karena dia sudah menjadi ayah mertuamu, layaknya ayah kandungmu sendiri, Lydora."Ucap Ratu Edna.


"Ah, baik Ibu. Maafkan saya. A-ayah pasti akan baik-baik saja, karena beliau adalah seseorang yang kuat."Ucap Lydora memberikan semangat.


"Tidak apa-apa ibu...kami hanya ingin melihat kondisi ayah...saya juga sangat berharap ayah bisa cepat sembuh."Ucap Lydora dengan tatapan iba melihat ke arah ayah mertuanya yang memejamkan mata.


Saat Lydora mengatakan itu, Ratu Edna dan Yohannes hanya diam. Mereka berpikir kesembuhan sudah tidak memungkinkan lagi untuk Raja Peter.


"Oh ya ngomong-ngomong Lydora, apakah Yohannes ada memberikan tugas kepadamu? Kudengar kalian mengadakan rapat pagi tadi dengan para menteri."Tanya Ratu Edna mengganti topik.


"Um, ya. Saya diberikan tugas menangani pekerjaan Tuan Jason yang bertugas di Wilayah Utara, ibu"Jawab Lydora.


"Apa? Yohannes! Bagaimana bisa kau memberikan pekerjaan yang sulit kepada istrimu yang masih baru menjadi seorang Ratu?! Kau seharusnya memberikannya pekerjaan yang ringan dulu!"Ucap Ratu Edna tidak terima.


"T-tidak apa-apa Ibu! Saya senang sekali yang mulia Raja memberikan saya pekerjaan ini, karena saya merasa sudah diakui menjadi seorang Ratu!"Ucap Lydora menjadi panik.


"Ah, habislah sudah."Ucap Yohannes pelan ke arah istrinya dan Lydora masih bisa mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


"Eh? Apa maksud anda yang mulia?"Lydora malah bertanya dengan suara yang jelas pula dan hal itu membuat Ratu Edna cukup marah.


Yohannes hanya bisa menyapu wajahnya untuk menyaksikan kemarahan sang ibunda Ratu. Sementara Lydora, dia hanya celingak-celinguk seperti anak kecil saat melihat suasana di kamar itu mendadak berubah menjadi mengerikan.


"Yohan, apa kau yang menyuruh istrimu memanggilmu dengan sebutan itu?"Tanya Ratu Edna dengan suara yang dingin.


"Um...jadi dia harus panggil aku apa lagi?"Tanya Yohannes masih dengan nada biasa namun tetap takut dengan ibunya.


"Dasar bodoh! Istrimu seharusnya memanggil namamu langsung! Atau yang lebih bagusnya lagi istrimu harus panggil kau suaminya atau panggilan sayang! Apa-apaan itu? Masa memanggilmu yang mulia? Yang benar saja kau, Yohan! Apa kau menganggap istrimu sebagai pelayanmu hah?!"Ucap Ratu Edna menjadi marah-marah tidak jelas.


Lydora sempat tersedak saat sang ibu Ratu menyuruhnya untuk memanggil suaminya dengan panggilan sayang di depan umum.


"Maaf ibu. Tapi Ibu tahu kan kalau kami itu tidak saling..."Ucap Yohannes namun ucapannya tiba-tiba terputus.


Lydora yang sempat mendengarnya bisa langsung mengerti apa yang dimaksud Yohannes.


Dia ingin bilang kalau kita tidak saling mencintai kan?


"Apanya yang tidak saling apa? kalian kan sudah tidur bersama bahkan sebelum menikah."Ucap Ratu Edna dengan spontan dan berhasil membuat kedua pasutri itu tersedak bersama. Tapi untung saja hanya kedua pasangan itu yang mendengarnya.


"Ibu..."Ucap Yohannes sudah terlihat habis kesabaran.


"Ibu tidak peduli apapun alasan kalian. Kalian sudah menikah dan sudah sama-sama dewasa. Ibu malah sangat berharap cepat-cepat dapat cucu. Jadi jika ibu sampai dengar istrimu masih memanggilmu dengan sebutan yang mulia, kau akan tahu akibatnya, Yohan!"Ucap Ratu Edna melotot ke arah Yohannes.


"Apa? Cucu?! Ibu, ini masih terlalu cepat!"Ucap Yohannes begitu terkejut.


"Apanya yang masih terlalu cepat? Kau sudah berumur 26 tahun dan Lydora sendiri juga sudah berumur 23 tahun. Jadi apa lagi yang perlu di tunggu?"Tanya Ratu Edna.


Kedua pasangan itu terdiam sejenak saling melirik satu sama lain dengan kebingungan.


Next....

__ADS_1


__ADS_2