
Yohannes melihat Lydora yang terlihat benar-benar ketakutan. Tangannya bergetar saat memeluknya. Yohannes jadi penasaran mengapa wanita itu sangat ketakutan dengan suara petir. Seolah seperti trauma gara-gara petir.
"Hei, petirnya tidak berbahaya. Ayo kita masuk dulu. Kau apa tidak lihat pakaianku sudah basah?"Ucap Yohannes mulai kehilangan kesabaran.
Lydora menjadi kesal dan dia pun segera melepaskan pelukannya.
Cih, kan bukan dia saja yang basah!
"Maafkan saya sudah merepotkan anda, yang mulia..."Ucap Lydora tertunduk.
Yohannes hanya diam saja dan berjalan masuk ke dalam. Lydora mengekorinya dari belakang.
"Pelayan, tolong ambilkan handuk!"Pinta Yohannes.
"Baik, yang mulia."Jawab pelayan itu segera melaksanakan perintahnya.
"Anu, tadi yang mulia ingin mengatakan hal apa pada saya? Saya tidak sempat mendengarnya tadi."Tanya Lydora yang masih ingat.
"Tidak jadi. Ibuku hanya menyuruhku untuk berbicara padamu."Ucap Yohannes singkat.
Tak lama seorang pelayan datang membawakan handuk.
"Ini, yang mulia handuknya."Ucap pelayan itu.
Yohannes pun menerimanya. Dia melemparkan handuk yang satunya tepat mengenai wajah Lydora.
"Keringkan wajahmu dengan itu. Setelah itu kau kembalilah ke kamarmu."Ucap Yohannes.
Lydora mengambil handuk yang menempel di wajahnya. "Tunggu, apa? Anda tadi memanggil saya, sekarang anda meminta saya untuk pergi? Hanya begitu saja, yang mulia?"Tanya Lydora tidak habis pikir.
"Jadi kau maunya apa? Lagipula aku tidak berniat untuk berbicara padamu. Kau sendiri juga kan? Aku yakin sekali jika kau pasti punya rasa dendam karena selama ini aku sering menghinamu."Ucap Yohannes yang membuat Lydora terdiam.
Dia menyadarinya?
"Uh, ehem, ya anda pasti akan menganggap saya berbohong jika saya bilang tidak, yang mulia. Kata-kata anda pada saya sangat menyakitkan selama ini. Saya tidak berharap banyak sih, tapi saya hanya ingin anda tidak memperlakukan saya dengan dingin. Saya tahu saya tidak pantas berbicara seperti ini kepada anda, yang mulia. Saya hanya ingin mengatakan isi hati saya, agar anda bisa tahu bahwa saya juga memiliki hati yang mudah sakit."Ucap Lydora.
__ADS_1
Yohannes terdiam dengan kata-kata Lydora yang terdengar jujur mengatakannya. Gadis itu berbicara sesuai isi hatinya dan dia jadi merasa sudah kelewatan pada gadis itu.
"Seperti yang kau tanyakan tadi apa yang ingin aku katakan padamu. Aku ingin bilang minta maaf. Maaf sudah mengataimu dengan kata-kata tidak pantas yang kuucapkan kepadamu selama ini. Aku hanya belum bisa melupakan cinta pertamaku dan hal itu sangat sulit untuk kulupakan."Ucap Yohannes.
Lydora merasa terharu saat Yohannes bilang minta maaf kepadanya. Setidaknya pria itu masih punya hati nurani menyadari kesalahannya.
"Saya tahu perasaan anda, yang mulia. Karena saya juga sedang mengalaminya."Ucap Lydora tersenyum.
Aduh, aku bicara apa sih?!
"Anda tidak lupa kan kalau saya sudah bertepuk sebelah tangan kepada anda selama dua tahun, yang mulia? Semua orang bahkan anda sendiri tahu jika saya menyukai anda, tapi anda tidak pernah mempedulikan saya dan mengabaikannya begitu saja. Saya tidak bermaksud untuk balas dendam. Hanya...ah, jika saya tanya, apa alasan anda menyukai Ratu Ellen, yang mulia?"Tanya Lydora.
"Aku...menyukainya karena dia wanita yang periang, ramah, selalu menunjukkan dirinya kuat padahal tubuhnya lemah. Aku selalu merasa nyaman saat berada di dekatnya. Dia blak-blakan, tidak suka berpura-pura dan apa adanya. Ratu Ellen adalah wanita tercantik yang pernah kutemui. Bukan hanya parasnya saja, tapi hatinya juga. Aku berteman baik dengan kakaknya, jadi hal itu yang membuat kami menjadi dekat. Tapi sayangnya, dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku dan berpaling ke pria lain. Padahal aku yang lebih dulu menyukainya daripada pria itu."Ucap Yohannes menjadi curhat.
Lydora kaget dan hampir mengira jika dirinya salah dengar. Raut wajahnya bahkan berubah menjadi bingung dengan kerutan dahi yang sedang berpikir.
Apa? Ratu Ellen wanita yang periang, ramah dan blak-blakan? Tapi Ratu Ellen kan bukan wanita yang seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi sih?!
"Kau kenapa?"Tanya Yohannes yang heran dengan raut wajah Lydora.
"Kau bilang apa? Patung...apa?"Tanya Yohannes yang tidak mengerti ucapan Lydora.
"Ah, bukan apa-apa kok yang mulia. Maksud saya Ratu Ellen memang sangat cantik seperti dewi yang turun dari surga, begitulah..."Ucap Lydora membenarkan ucapannya.
"Lalu, apa alasanmu menyukaiku?"Tanya Yohannes bergantian.
"Hm? Ah...apa ya?"Lydora malah bertanya balik karena dia tidak dapat mengingat apa alasan dia bisa menyukai Yohannes.
Ya Tuhan, kenapa ingatan Lydora sama sekali tidak diberikan padaku sih! Setidaknya berikan aku ingatannya sedikit dong!
Lydora berpikir cukup lama dan hal itu membuat Yohannes menjadi kesal.
"Tunggu, jadi kau tidak ingat apa alasanmu menyukaiku?"Tanya Yohannes.
"Ah...sepertinya iya, hehe. Lagipula saya sudah menyukai Anda selama dua tahun! Saya pasti lupa alasannya!"Ucap Lydora beralasan.
__ADS_1
"Dasar pikun. Aku yang menyukai Ratu Ellen dari masih bocah ingusan saja masih ingat kok. Setidaknya aku ingat karena dia wanita yang menarik dimataku."Ucap Yohannes.
"Ah ya, saya baru tahu! Alasan saya menyukai Anda karena anda sangat tampan, terlihat baik apalagi saat bersama Ratu Ellen! Anda akan langsung berubah 180 derajat jika bersama dengan beliau."Ucap Lydora.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau sikapku akan langsung berubah jika bersama dengan Ratu Ellen? Kau diam-diam menguntitku ya?!"Tanya Yohannes mulai curiga.
"Ehhh? Tidak! Saya...saya sering dengar dari yang orang-orang katakan...ya begitulah..."Ucap Lydora yang menjadi gelagapan.
Aduh, matilah aku! Aku tahu karena aku membaca novelnya tahu!
Yohannes jadi menatapnya penuh kecurigaan.
"Yang mulia, tolong percayalah pada saya!"Ucap Lydora memohon.
Wanita ini agak aneh dan mencurigakan.
"Ya sudah lupakan saja. Kau harus kembali ke kamarmu. Ibuku baru saja mengadu padaku bahwa Nyonya Bella tidak jadi mengajarimu hari ini."Ucap Yohannes.
"Yang mulia, apa saya harus belajar dengan beliau?"
Yohannes menghela napasnya sudah tahu apa yang dimaksud Lydora.
"Aku tahu kau tidak suka dengan Nyonya Bella. Tapi kami tidak punya pengganti lain selain dirinya karena hanya dia yang memiliki pengajaran khusus Ratu di Kerajaan kami. Sifatnya memang buruk, tapi percayalah ibuku itu sudah mengalaminya karena pernah diajari olehnya. Tapi pada akhirnya dia berhasil melewatinya. Aku yakin ibuku sudah menyuruh Nyonya Bella untuk tetap mengajarimu. Besok kau harus tetap datang menemuinya, kau mengerti?"Ucap Yohannes.
Apakah...pangeran Yohannes bermaksud untuk menyemangatiku? Ah, pasti tidak mungkin kan?
"Baiklah, yang mulia. Kalau begitu saya akan kembali ke kamar saya."Ucap Lydora.
Lydora mulai berjalan pergi tapi dia berhenti kemudian membalikkan badannya. "Yang mulia, terima kasih untuk hari ini. Saya merasa lega karena anda akhirnya mengajak saya mengobrol. Saya harap anda tidak terlalu membenci saya. Saya pamit yang mulia. Selamat malam."Ucap Lydora tersenyum lalu berjalan pergi.
Yohannes menatap kepergian wanita itu dengan diam dan tidak membalasnya.
Lydora saat masuk ke kamar, dia kaget melihat ada perempuan asing yang berada di dalam kamarnya. Lydora memerhatikan gadis itu yang berambut putih dan sebaya dengannya.
Siapa dia?!
__ADS_1
Next...