
"Kenapa kamu bicara begitu suamiku? Tentu saja aku masih mencintaimu. Apa kamu meragukanku?"Tanya Lydora balik.
"Aku hanya ingin memastikan. Syukurlah jika perasaanmu masih sama kepadaku. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan sebaik-baiknya dan membuatmu bahagia semampuku."Ucap Yohannes.
"Sekarang saja aku sudah bahagia kok Yohannes."Ucap Lydora tersenyum.
"Kau tahu kalau aku percaya dengan yang namanya cinta sejati. Dalam hubungan yang tetap awet itu harus adanya saling percaya dan selalu berkomunikasi kepada pasangannya. Dan kuharap kau tidak menyembunyikan apapun dariku, Lydora."
Deg.
"Aku selama ini tidak menyembunyikan rahasia apapun kepadamu. Apapun yang terjadi aku selalu memberitahumu, iya kan?"
Saat Yohannes bicara begitu, jantung Lydora langsung berdetak dengan kencang karena gugup sekaligus merasa bersalah. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya bukan Lydora yang asli. Dia hanya takut jika omongannya tidak dapat diterima oleh Yohannes. Dia tidak bisa membayangkan reaksi yang akan ditunjukkan oleh pria itu nanti.
"Kamu...benar suamiku. Kau selalu memberitahu apapun kepadaku dan aku sangat senang karena kau percaya dan mengandalkanku. Tapi...kau juga harus percaya padaku apa yang kukatakan nanti."Ucap Lydora akhirnya menyerah untuk berpikir terus menyembunyikan rahasianya.
"Kau...memiliki rahasia lain?"Tanya Yohannes cukup terkejut. Dia kira Lydora sudah menceritakan segala hal kepadanya dan hal itu membuat hatinya sedikit sakit.
"Tenang dulu Yohannes. Tolong jangan langsung berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak bermaksud untuk merahasiakannya karena kalaupun aku ceritakan, kamu mungkin tidak akan dapat menerimanya karena terdengar tidak masuk akal."Ucap Lydora langsung panik saat melihat Yohannes yang terlihat sedih. Hal itu semakin membuat Yohannes bingung sekaligus penasaran.
"Ceritakan saja kepadaku mau itu masuk akal atau tidaknya. Aku akan tetap mendengarkan." Yohannes menjadi serius.
Aduh, bagaimana ini?! Aku harus menjelaskannya dengan sangat rinci dan jelas agar dia bisa mengerti...
"Kau kelihatan ketakutan. Apakah kau takut aku kecewa atau marah?"Tanya Yohannes dan Lydora mengangguk.
"Aku tidak akan marah kalau kau bukan berselingkuh."Ucap Yohannes.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak berselingkuh! Aku bersumpah! Di dalam pikiranku tadi bahkan tidak terlintas tentang itu...satu-satunya pria yang paling kucintai hanya kamu, Yohannes. "Ucap Lydora langsung panik.
"Baiklah, kalau begitu ceritakan saja pelan-pelan."Ucap Yohannes.
"Baiklah. Sebenarnya...aku bukan Lydora."
"Kau bercanda? Jelas-jelas kau Lydora. Gadis berambut merah dari Duke Sylvainn. Kenapa kau bilang kau bukan Lydora?"Tanya Yohannes tidak mengerti.
"Aku tidak bercanda. Tubuh ini memang milik Lydora tapi jiwanya bukan dia. Biar aku perkenalkan diriku dari awal lagi. Namaku Tina. Aku hanya punya satu nama. Aku datang dari masa depan yakni tahun 2022. Tempat dimana dunia serba modern. Aku adalah seorang mahasiswi jurusan akuntansi. Aku hanyalah anak sebatang kara yang tidak memiliki orang tua. Saat kecil aku hanya tinggal di panti asuhan dan tidak pernah tahu siapa kedua orang tua yang melahirkanku. Aku terus rajin belajar setiap waktu agar aku bisa mendapatkan pendidikan. Tapi tiba-tiba aku mati ditabrak mobil karena didorong oleh temanku yang membenciku. Saat bangun aku malah pindah masuk ke dunia ini sebagai Lydora."
Yohannes bengong dengan penjelasan Lydora yang sangat terdengar tidak masuk akal. Dia juga tidak bisa bilang istrinya itu bercanda karena Lydora terlihat tidak bercanda sama sekali saat menceritakan semuanya. Sangat serius dan begitu lancar saat menceritakan beberapa hal yang tidak dipahaminya soal masa depan itu.
"Jadi...namamu siapa tadi? Tina?"Tanya Yohannes.
Lydora mengangguk.
"Dan...apa itu Panti asuhan?"Tanya Yohannes lagi.
Yohannes menggeleng.
"Emm...jadi panti asuhan itu adalah tempat para anak yang tidak punya orang tua. Mereka akan menampung para anak yang tidak punya keluarga yang mengasuh mereka. Alasannya ada banyak. Dan alasan yang paling sering adalah kedua orang tuanya meninggal atau orang tuanya membuang anak mereka ke panti asuhan."
Yohannes hanya diam dengan penjelasan Lydora dan mengangguk saja.
"Tapi nanti akan ada orang yang mau mengadopsi anak dan mengangkat anak itu jadi anak mereka. Dan salah satunya aku. Ada kedua pasangan suami istri yang mau mengadopsi dan memberikan pendidikan kepadaku sampai tingkat SMA. Namun sayangnya mereka berdua meninggal karena kecelakaan. Dan aku terpaksa hidup mandiri dengan bekerja. Suatu hari aku mendapat keberuntungan. Mendapat beasiswa di kampus terbaik. Tapi yah...hidupku hanya berakhir sampai disitu sampai akhirnya aku hidup disini menjadi pengganti orang lain."Lanjut Lydora.
Sampai saat ini Yohannes masih tidak mengerti dengan ucapan istrinya itu. "Apa itu mahasiswi? Dan apa itu SMA? Dan lagi...kampus?"
__ADS_1
"Oh, haha. Aku akan memberitahumu semuanya."Ucap Lydora merasa lucu saat melihat reaksi suaminya yang terlihat polos.
Di dalam kamar, keduanya hanya saling menghabiskan waktu dengan bercerita terutama Lydora yang menceritakan banyak hal kepada Yohannes yang mendengarkan ceritanya dengan baik.
Kini Yohannes baru bisa percaya dengan apa yang dikatakan istrinya itu. Mulai dari gambaran masa depan, pengalaman hidup dan bahasa baru yang tidak dapat dimengertinya.
"Jadi begitulah. Agak sulit memang untuk bisa dimengerti di masa ini. Tapi percayalah padaku bahwa semua itu nyata."Ucap Lydora.
"Iya aku percaya. Kau mengatakan semuanya dengan lancar seperti itu dan terlihat senang saat menceritakannya, jadi aku harus percaya." Balas Yohannes.
"Sungguh? Kau tidak menganggapku gila?" Tanya Lydora.
"Huh? Kenapa kau bicara begitu?"
"Karena aku tiba-tiba menceritakan hal yang tidak masuk akal seperti ini. Walau hal yang kualami ini kenyataan tapi memangnya kamu bisa langsung percaya? Pasti tidak kan?"Ucap Lydora.
"Iya, jujur saja apa yang kau katakan benar. Aku belum bisa percaya sepenuhnya dengan ucapanmu karena aku sendiri tidak dapat membayangkan masa depan yang kau katakan itu. Tapi aku sama sekali tidak berpikir kau itu gila. Mana mungkin kau tiba-tiba bicara seperti ini jika tadi aku tidak memintamu untuk tidak menyembunyikan rahasia apapun dariku. Aku justru merasa lega karena pada akhirnya kau menceritakan tentang dirimu."Ucap Yohannes tersenyum.
"Ta-tapi...aku bukan Lydora. Aku Tina. Dan...surat yang kau berikan itu bukan aku yang menulisnya...jadi aku tidak tahu apapun soal surat itu..."Lydora menunduk merasa sedih.
"Aku tahu. Kau tidak perlu sedih karena kau bukan Lydora. Aku tidak peduli dimana Lydora yang asli, tapi hatiku hanya tertuju padamu. Aku tidak peduli siapapun dirimu karena aku sudah jatuh cinta kepada wanita yang ada dihadapanku ini. Jadi, jangan berpikir kalau aku akan meninggalkanmu atau kau yang meninggalkanku."Ucap Yohannes memegang tangan Lydora.
Lydora merasakan debaran manis saat pria yang dihadapannya mengatakan hal seindah itu. Air matanya bahkan sampai jatuh karena merasa terharu.
"Sudah...jangan menangis. Kau tidak bersalah Lydora... Kau sudah melewati masa-masa yang sangat sulit. Kau itu hebat."Ucap Yohannes menghapus air mata Lydora yang memeluk wanita itu.
"Aku...tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa bilang terima kasih kepadamu suamiku. Walau aku bukan Lydora sekalipun, kau tetap menerimaku."Ucap Lydora dengan isak tangisnya.
__ADS_1
Next...
IG: shgemini16