Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 10


__ADS_3

Luna benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada di dalam kepala sahabat satu-satunya itu. Dia memang sudah tahu jika sahabatnya itu sedikit aneh, tapi belakangan ini sifatnya menjadi semakin aneh hingga dia sendiri tidak bisa berkata-kata.


Apa hanya gara-gara cintanya ditolak dia menjadi gila?


"Hei, apa maksudmu potong rambut, hah? Kau lupa kalau rambut panjangmu itu yang membuatmu cantik?! Kami sekeluarga akan menangis jika kau benar-benar memotong rambutmu yang berharga itu, Lydora!"Teriak Luna panjang lebar.


"Kurasa aku tidak akan menjadi jelek kalau aku hanya memotong rambutku sedikit. Aku hanya ingin merasakan sesuatu yang baru dengan penampilan yang baru. Kali ini aku tidak akan berharap apapun lagi kepada Pangeran Yohannes, karena dia hanya tetap akan menyukai Ratu Ellen yang luar biasa cantiknya itu. Aku mengakui jika Ratu Ellen sangatlah cantik. Rambut gelombang keemasannya yang panjang, wajahnya seperti dewi yang turun dari surga dan memiliki mata seperti kristal biru. Sifatnya juga baik dan lembut. Tidak seperti aku yang sifatnya sangat buruk."Ucap Lydora merendah diri.


"Jadi sekarang kau merendah diri? Hanya karena kau merasa tidak sebaik Ratu Ellen kau jadi merendahkan dirimu seperti ini dan tidak bersyukur."Ucap Luna.


"Bukan begitu! Aku hanya..."


"Apa bedanya! Menurutku kau juga sangat cantik Lydora! Memiliki rambut berwarna merah bukan berarti memiliki arti yang buruk. Kau tidak perlu memikirkan ucapan Pangeran Yohannes yang angkuh itu. Wajahmu juga seperti pahatan yang indah atau seorang dewi yang turun dari surga. Kedua bola matamu indah seperti permata emerald. Kau juga tanpa make up sangat cantik. Terkadang aku merasa iri denganmu yang sudah memiliki segalanya. "Ucap Luna.


"Dan tentang sifat yang kau miliki, setidaknya kau mau berubah menjadi lebih baik untuk sekarang dan aku bisa merasakan kalau kau sudah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ingat Lydora, semua manusia tentunya pernah berbuat salah dan kita semua harus belajar dari kesalahan itu."Ucap Luna lagi.


Lydora terdiam dengan semua kata-kata Luna. Dia menjadi semakin bersalah karena sepertinya dia kurang bersyukur dengan hidupnya.


"Maafkan aku Luna. Kau mungkin benar. Aku kurang bersyukur. Tapi tolong kau jangan merasa iri denganku. Kau juga sangat cantik. Rambut birumu sangat indah dan kedua matamu juga indah. Kita sama-sama cantik."Ucap Lydora.


"Iya, kau benar. Aku lega akhirnya pikiranmu lebih terbuka. Jadi kau tidak akan benar-benar memotong rambutmu kan?"Tanya lagi Luna.


"Tentu saja aku tetap akan memotongnya. Seperti kataku tadi, aku ingin merasakan penampilan yang baru."Jawab Lydora serius.


"Haah, baiklah. Terserah kau saja kalau begitu. Aku tidak mungkin memaksamu."Ucap Luna.


Lydora hanya tersenyum. Beberapa jam kemudian, Luna pamit pulang setelah kedua gadis itu mengobrol panjang lebar. Lydora terlihat sangat gembira karena memiliki seorang teman yang menyenangkan dan mengerti dirinya dengan baik.


Lydora lalu memanggil pelayan Henny untuk datang ke kamarnya. Tak lama Pelayan Henny pun datang.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"Tanya Henny.

__ADS_1


"Ah, Henny apa kau bisa memotong rambut?"Tanya Lydora yang membuat Henny sedikit kaget.


"Ah...ya saya bisa, Nona."


"Bagus! Kalau begitu aku ingin minta tolong padamu, potongkan rambutku sampai di atas bahu."Ucap Lydora lagi.


"A-apa? Anda ingin saya memotong rambut Anda, Nona?!"Tanya Henny sangat kaget.


"Iya, belakangan ini aku merasa sedikit gerah dengan rambutku yang panjang. Aku ingin mengganti suasana baru dengan rambut pendek."Ucap Lydora.


"T-tapi...saya tidak bisa melakukan itu Nona. Mengapa Anda tiba-tiba ingin potong rambut sependek itu? Bukankah sebentar lagi juga musim dingin?"Tanya Henny kebingungan.


"Aku hanya ingin mengganti suasana baru. Kau tahu aku sudah ditolak Pangeran Yohannes dan dia juga malah menghinaku. Aku tidak akan langsung menangis seperti bayi hanya karena dia menghinaku, dan aku ingin tampil seperti wanita tangguh yang tidak terlalu feminim."Jawab Lydora.


"Begitu ya Nona? Tapi saya merasa sayang dengan rambut anda yang indah itu Nona. Saya juga tidak berani memotongnya tanpa izin dari Nyonya Duchess dan Tuan Duke."Ucap lagi Henny.


"Yang punya rambut kan aku. Kau hanya perlu mendengar ucapanku karena aku yang menginginkannya. Kau percayalah padaku Henny. Aku dengan rambut pendek tidak akan terlalu buruk."Ucap lagi Lydora.


"Tenang, oke?"


Henny dengan tangan sedikit bergetar sudah memegang gunting dan sisir. Lydora juga sudah duduk di kursinya merasa tidak sabar dengan penampilannya yang baru.


Henny mulai menggerakkan tangannya memotong rambut Lydora sedikit demi sedikit dan Lydora sedikit kesal merasa tidak sabar. Henny memotongnya sehelai demi sehelai.


Ya ampun, apa dia segitunya takut kehilangan rambutku ini?


"Henny, jika kau merasa takut, sini berikan saja padaku guntingnya."Ucap Lydora merasa tidak sabar.


"Ah, maafkan saya Nona!"Ucap Henny.


Henny mulai fokus. Dia memotong rambut Lydora sesuai gaya yang diminta Lydora.

__ADS_1


Setengah jam kemudian hasilnya sudah selesai. Henny sampai keringatan karena sangkinkan berhati-hatinya. Lydora tadinya merasa sudah sangat kesal karena tidak sabar, tapi pada akhirnya permintaannya tidak sia-sia.


"Sudah selesai Nona..."Ucap Henny.


Lydora kemudian menatap ke arah cermin besar di hadapannya. Dia tersenyum lebar bahwa dia benar-benar menyukai gaya rambutnya yang sekarang.


"Waah! Bagus sekali! Kau memang benar-benar handal. Kenapa kau tidak buka usaha salon saja Henny?"Tanya Lydora merasa puas dengan hasil kerja Henny.


"Buka usaha salon? Ah, saya tadinya memang ingin, tapi saya tidak punya modal untuk membuatnya. Lagipula siapa yang akan datang ke salon saya yang miskin?"Ucap Henny merendah diri.


"Hei, kau jangan bilang begitu. Kita tidak ada yang tahu masa depan. Kau punya keterampilan dan buktinya kau memotong rambutku dengan sangat rapi. Sebagai gantinya aku akan melipat gandakan gajimu."Ucap Lydora tersenyum.


"Ah, anda tidak perlu sampai begitu, nona!"Ucap Henny merasa segan.


Lydora tidak mendengarkan Henny dan dia keluar dari kamarnya berniat untuk menghirup udara segar.


Tak lama dia melihat kedua orang tuanya yang baru kembali dari pesta. Dia segera turun menemui kedua orang tuanya untuk menanyakan tentang anak raja Aldrich yang sudah lahir.


Tuan Bamon dan Nyonya Rosetta melihat seorang gadis dengan rambut pendek mendatangi mereka. Mereka melongo sejenak karena tidak menandai gadis itu.


"Ibu! Ayah! Bagaimana rupa anak Yang mulia Raja Aldrich?"Tanya Lydora.


"Siapa kau?"Tanya Tuan Bamon.


"Eh? Ayah dan ibu tidak ingat aku? Ini aku Lydora, putri kalian!"Ucap Lydora.


"Tidak, tidak. Putri kami memiliki rambut panjang yang cantik. Kau pasti berbohong!"Ucap Tuan Bamon.


"Aku tidak bohong! Tadi aku meminta pelayan Henny untuk memotong rambutku karena aku merasa gerah."Ucap Lydora.


"Apa? Dasar anak gila! Kenapa kau sudah memotong rambutmu tanpa izin dari kami dulu?!"Teriak Nyonya Rosetta marah.

__ADS_1


"Maaf...tapi kalian harus mengerti. Aku akan menceritakan semuanya nanti. Ibu, aku ingin minta tolong, carikan aku seorang pria yang cocok sebagai ganti yang mulia pangeran."Ucap Lydora.


__ADS_2