Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 9


__ADS_3

"Tolong biarkan aku memeriksa keadaan Ratu Ellen!"Pinta Yohannes memaksa masuk kepada para pengawal yang menghadangnya.


"Maaf yang mulia, anda tidak diizinkan untuk ikut naik ke atas. Ini atas perintah yang mulia Raja."


"Tapi...!"


Lydora memegang lengan Yohannes sehingga Yohannes kaget dengan kemunculan Lydora yang lagi-lagi mengganggunya.


"Apa-apaan kau?! Lepaskan aku! Berani sekali kau memegang tanganku seperti ini!"Teriak Yohannes mulai murka.


Lydora sudah tidak peduli dengan teriakan Yohannes dan perhatian orang-orang terhadap mereka.


"Yang mulia, anda bisa menghukum saya setelah ini, tapi saya mohon anda tidak membuat masalah disini. Yang mulia Raja sudah menangani istrinya dengan baik, anda harus bisa percaya padanya. Anda tidak boleh sampai membuat keributan disaat yang mulia Ratu Ellen sedang melahirkan! Apa anda tidak memikirkan kondisinya yang sedang kritis?! Takutnya Ratu Ellen akan semakin membenci sikap anda yang seperti ini yang mulia pangeran!"Ucap Lydora setengah berteriak.


Yohannes terdiam dengan ucapan gadis itu. Gadis itu benar-benar berani. Dia belum pernah bertemu dengan seorang gadis yang seberani ini kepadanya bahkan berteriak di hadapannya.


"Kali ini anda harus tetap tenang. Oke? Saya yakin yang mulia Ratu baik-baik saja karena beliau adalah wanita yang kuat."Ucap Lydora berusaha menenangkan Yohannes.


Yohannes hanya diam saja. Dia menyapu wajahnya dengan kesal, tapi dia tidak bisa menolak bahwa apa yang dikatakan gadis ini benar.


"Ayo ikut denganku."Pinta Yohannes dengan dingin.


"Baik yang mulia..."Lydora hanya bisa menurut dengan pasrah. Tapi hatinya terus bergemuruh karena dia benar-benar ketakutan.


Dasar aku memang gila! Tadi aku ngapain sih?!


Lydora terus mengekori Yohannes yang berjalan di depannya. Yohannes berjalan keluar dari ballroom dan hal itu membuat Lydora semakin heran dan berpikir negatif jika Yohannes pasti akan menghukumnya.


Di sela-sela itu, Lydora berpikir mengapa dia bisa memiliki keberanian seperti tadi. Dia tidak seperti dirinya yang dulu yang selalu diam saat orang-orang menghinanya dan hal itu membuatnya sangat heran. Tadi dia melakukan hal itu dihadapan Yohannes tanpa sebuah keraguan dan dia memiliki rasa semacam mengkhawatirkan Yohannes. Atau lebih tepatnya merasa kasihan sejak Yohannes menatap sedih ke arah Ratu Ellen.

__ADS_1


Yohannes pun berhenti dan Lydora juga berhenti. Saat ini kedua tangan Lydora begitu dingin seperti habis memegang sebuah es.


"Tadi untuk apa kenapa kau melakukan hal itu? "Tanya Yohannes berbalik menghadap Lydora.


"Eh...saya tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya tidak mau anda berada di situasi yang sulit..."Jawab Lydora.


"Aku? Jadi kau mengkhawatirkan aku? Apa karena kau yang masih diam-diam menyukaiku? Heh, kau sampai sekarang masih cinta mati denganku ya?"Ucap Yohannes yang membuat Lydora tersentak.


"T-tidak...saya hanya.."


Duh, jika aku bilang karena merasa kasihan dia pasti tersinggung kan?


"Aku sudah tahu jika kau menyukaiku. Tapi aku benar-benar tidak suka dengan sifatmu. Kau dengan hebohnya bercerita kepada semua orang bahwa kau ingin sekali menikah denganku. Aku tidak suka dengan wanita liar sepertimu. Baru saja kemarin kita bertemu meskipun hanya beberapa detik, tapi di hari itu juga kau langsung berkencan dengan pria lain. Dasar wanita munafik."Ucap Yohannes.


Lydora tidak bisa berkata-kata. Saat ini yang dirasakannya hanyalah sakit hati yang begitu mendalam.


Aku tarik lagi kata-kataku tadi. Aku menyesal sudah memberanikan diriku untuk menghentikannya agar dia tidak terkena masalah. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan kepada orang semacam kau!


"Ma-maafkan saya...yang mulia, saya sudah sangat berani sampai sejauh ini kepada anda, anda pantas menghukum saya..."Ucap Lydora tertunduk menahan air mata.


"Daripada itu, jangan pernah berharap untuk bisa menikah denganku. Kuharap aku tidak pernah melihatmu lagi mulai sekarang. Kau harus tahu kalau aku paling benci dengan wanita berambut merah seperti dirimu itu. Melambangkan seorang wanita angkuh, liar dan tentunya munafik."Ucap Yohannes lagi-lagi dengan kata-kata menusuk.


Pria itu pun berjalan pergi dan dia langsung kembali pulang karena dia sudah tidak punya urusan lagi di istana Valkyrie. Sisanya tinggal kedua orang tuanya yang menetap di pesta itu. Jika dia tetap menetap, hatinya akan semakin sakit saat melihat anak Ellen yang lahir.


Lydora masih tetap diam. Air matanya kemudian jatuh begitu saja dan hatinya masih terasa perih. Lydora menatap kepergian Yohannes yang sangat dingin.


Dia...benci dengan rambut merah. Melambangkan kesombongan dan kemunafikan. Heh, memangnya apa salahnya rambutku seperti ini. Orang yang kau sebutkan tadi bukan aku! Jadi jangan salahkan aku! Aku juga tidak minta untuk berada disini tahu!


Lydora terus menangis dan tangisannya semakin deras.

__ADS_1


Kenapa aku menangis segala sih?! Kenapa air mataku tidak bisa berhenti! Uh, dasar Tina cengeng, huhu...!


"Lydora! Lydora..."Panggil Luna. Dia kaget saat melihat sahabatnya itu menangis. Dia jadi ikut sedih dan memeluk Lydora untuk menenangkannya.


"Luna...aku...aku ingin pulang saja..."Pinta Lydora masih menangis.


"Eh, tapi acaranya masih panjang. Apa kau sendiri tidak penasaran dengan anak Yang mulia Ratu Ellen?"Tanya Luna.


"Hiks...tidak, aku mau pulang saja...Luna..tolong temani aku pulang..."Rengek Lydora seperti anak kecil.


"Oke oke, baiklah. Ayo kita pulang. Tapi sebelum itu aku minta izin dengan paman dan bibi dan juga dengan keluargaku dulu, Oke? Tunggu disini sebentar ya!"Ucap Luna.


Lydora hanya manggut-manggut.


Lydora tidak tahu jika ada seseorang yang dari tadi melihatnya. Yaitu Luke, yang ikut menonton seluruh drama antara Lydora dan Yohannes. Dia sengaja tidak memperlihatkan dirinya karena dia sudah tahu jika sepertinya Lydora masih menyukai pangeran Yohannes.


Dia menjadi kesal karena Yohannes sudah membuat wanita kesayangannya menangis. Dia ingin mendekati Lydora dan menenangkannya, namun dia sedang berada di situasi yang tidak tepat. Apalagi jika Lydora sepertinya menghindarinya. Hal itu juga membuat hatinya menjadi sakit.


Di kastil Sylvainn, Lydora cepat-cepat masuk ke kamar karena tidak ingin dilihat oleh para pengurus rumah. Luna yang mengkhawatirkannya pun dengan cepat mengekori sahabatnya itu.


Lydora segera terjun ke ranjangnya dan dia menutup wajahnya dengan bantal. Sepanjang jalan air matanya tidak bisa berhenti dan matanya pun menjadi sembab.


"Oh, ayolah Lydora! Sudah cukup menangisnya! Aku tahu kau masih sangat mencintai pangeran Yohannes, tapi dia bukan pria yang pantas untukmu! Dia sudah berani menghina dirimu dan mengataimu wanita munafik! Seharusnya dia bersyukur saat kau membantunya saat dia memaksa naik ke lantai atas seperti orang tidak waras!"Ucap Luna.


"Aku juga mau air mataku berhenti, Luna! Tapi air mata ini terus saja jatuh! Kau tahu, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya lagi! Aku tadi hanya merasa kasihan padanya dan tidak mau membuat acaranya rusak!"Ucap Lydora ikut kesal


"Jadi, kau mau bagaimana sekarang?"Tanya Luna.


"Aku mau potong rambut!"Teriak Lydora yang membuat Luna membelalakkan matanya tidak percaya.

__ADS_1


"Apa? Potong rambut?! Kau sudah gila?"


Next....


__ADS_2