
Peramal itu tersenyum. "Jadi yang mulia akhirnya mempercayai saya?"Tanya peramal itu sambil melirik ke arah Aldrich.
"Iya kami percaya."Ellen yang menjawab.
"Sesungguhnya yang Anda katakan tentang diriku itu benar. Aku tidak sengaja masuk ke dunia ini. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa masuk kesini, itu makanya aku ingin anda memberitahuku tentang penyihir itu. Kurasa dialah yang membuatku berada disini."Sambung Ellen lagi.
"Baiklah. Akan saya ceritakan."Jawab peramal itu.
*****
Dulu alkisah di sebuah dunia yang penuh fantasi, hidup seseorang yang memiliki mantra sihir dan hanya dia satu-satunya yang memilikinya. Dia bisa melakukan apa saja dengan sihirnya itu sehingga orang-orang mengira jika dia seorang dewa yang diturunkan dari langit.
Penyihir itu pastinya diagung-agungkan karena sihir yang dimilikinya. Konon katanya tidak ada yang pernah melihat dengan jelas rupa sang penyihir karena dia selalu menggunakan jubah hitam untuk menutupi seluruh tubuhnya. Tapi ada yang pernah melihat matanya sekilas yang berwarna keemasan.
Suatu hari dia pun menemukan seorang gadis kecil yang terdampar karena dibuang kedua orang tuanya. Dia merasa bahwa gadis kecil itu memiliki sesuatu yang spesial dan dia pun mengangkat gadis kecil itu menjadi murid satu-satunya.
Waktu terus berjalan dan gadis kecil itu pun tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa yang kuat dan dia ingin menjadi seorang peramal. Setiap ramalannya selalu benar dan orang-orang sempat memuji kelebihannya. Tapi seiring waktu, orang-orang tidak ada yang percaya lagi tanpa sebuah alasan yang jelas.
Tanpa kabar apapun, sang penyihir juga meninggalkan peramal itu begitu saja. Tahun berikutnya datang sebuah kabar jika sang penyihir membuat peraturan tentang perjodohan dan jika tidak dilakukan dia akan mengutuknya.
****
"Jadi anda pastinya pernah melihat rupa si penyihir kan?"Tanya Ellen.
"Iya. Sesuai rumor, bola mata penyihir itu berwarna emas. Sayangnya saya hanya bisa melihat bola matanya yang indah itu saja. Dia tidak mau memperlihatkan identitasnya bahkan memberitahu alasannya."Ucap peramal itu.
"Lalu apa dia itu seorang wanita atau pria?"Tanya lagi Ellen.
"Dia seorang pria. Dari suaranya saya bisa tahu kalau dia memang seorang pria."Jawab lagi penyihir itu.
"Yah, mungkin saja dia yang sengaja memasukkan anda ke dunia ini. Dia kan bisa melakukan segalanya."Ucap peramal itu enteng.
"Aku sampai sekarang tidak mengerti. Dia sudah membuatku harus bereinkarnasi menggantikan tubuh ini. Dia juga yang membuat perjodohan ini, lalu sekarang apa lagi? Apa aku juga harus mati untuk anakku agar tidak terkena kutukan?"Tanya Ellen benar-benar tidak mengerti dengan cobaan yang dihadapinya.
__ADS_1
"Apa penyihir yang anda temui itu tidak punya hati nurani? Apa dia sengaja? Atau apa dia punya dendam padaku?"Tanya Ellen sudah mulai frustasi.
"Ellen..."Aldrich ingin menenangkan istrinya yang sepertinya benar-benar lelah.
"Tunggu, bukankah mendiang Nona Anna juga memiliki bola mata berwarna emas? Apa jangan-jangan mereka bersaudara?"Tanya Ellen tiba-tiba teringat Anna.
"Mendiang nona Anna? Heh, Jadi dia sudah mati? Sepertinya saya tahu siapa nona Anna. Dia memang memiliki bola mata berwarna emas, tapi mereka tidak bersaudara. Penyihir itu hidup sebatang kara."Ucap peramal itu.
"Jadi apa anda tahu kenapa anakku setelah lahir harus ada yang namanya mala petaka?"Tanya Ellen.
"Sayangnya saya juga tidak tahu. Saya juga tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran sang penyihir. Lebih baik jika kalian bertemu langsung dengan beliau."
Brak! Aldrich tiba-tiba memukul meja karena dirinya sudah merasa frustasi dengan penyihir yang gila itu.
"Tadi kau bilang apa? Kami harus mencari dia? Bagaimana kami harus mencarinya? Tidak ada yang tahu dimana keberadaannya!!"Ucap Aldrich sudah emosi.
"Tenanglah yang mulia..."Ucap Ellen panik.
"Mudah kok. Yang mulia permaisuri, anda jangan kaget. Sebenarnya anda bisa memanggil penyihir itu sendiri."Ucap peramal itu.
"Saya yakin jika sang penyihir sengaja memasukkan anda kemari karena dia sudah mengenal anda. Dia menganggap diri anda spesial."
Ellen tidak bisa berkata-kata sementara Aldrich sudah tidak tahan dengan pembicaraan yang semakin terdengar tidak masuk akal.
"Jadi...bagaimana cara aku bisa memanggilnya?"Tanya Ellen tetap percaya walau sebenarnya dia sudah sakit kepala.
*****
Di perjalanan dengan kereta kuda, Aldrich hanya diam dan tidak melihat ke arah istrinya merasa kesal dan penuh dendam.
"Sayang, tolong jangan marah ya? Sepertinya penyihir itu sengaja mempermainkan kita. Kalau dia bisa melakukan apa saja dengan kekuatannya itu, berarti dia bisa menghilangkan kutukan anak kita. Aku akan mencoba untuk melakukan sesuai apa yang dikatakan peramal itu."Ucap Ellen.
"Jika aku bertemu dengannya, ingin rasanya aku siksa dia dengan cambukan api, atau kupotong-potong badannya..."Ucap Aldrich yang kemarahannya sudah diubun-ubun.
__ADS_1
Ellen tidak tahu bagaimana cara membujuk suaminya itu. Dia tiba-tiba terpikir sesuatu dan dia tidak punya pilihan lain selain melakukannya.
CUP! Ellen mencium bibir Aldrich dan dia merasa yakin jika suaminya itu bisa sedikit tenang.
"Sayang, tenang saja ya? Percayalah padaku..."Ucap Ellen dengan nada memohon.
Aldrich langsung tidak bisa berbuat apa-apa ketika istrinya memohon sampai seperti itu. Dia tetap merasa kesal karena harus hidup di dunia yang tidak masuk akal.
Dia sempat berharap jika dia masuk ke dunia yang biasa saja dan hidup bersama istrinya menghabiskan waktu dengan tenang.
Sesampai di istana, dengan cepat Ellen melakukan apa yang dikatakan sesuai peramal. Dia berdiri di dalam kamar dan Aldrich hanya bisa ikut mengawasinya. Ellen memejamkan matanya dan mulai mengucapkan beberapa kalimat di dalam batinnya.
Bruk! Tiba-tiba Ellen jatuh pingsan lagi. Sepertinya jiwanya sedang pergi ke suatu tempat.
*****
duh...kepalaku sakit sekali..dimana ini?
Ellen terbangun dan membuka matanya lebar-lebar. Dia terkejut melihat ke sekitarnya dengan dunia yang serba putih.
"Halo Jane...akhirnya kau memanggilku ya?"Muncul suara seorang pria dari belakang Jane. Jane dengan cepat memutar badannya mencari ke arah sumber suara.
"Kau...kaukah penyihir itu?"Tanya Jane masih tidak percaya.
"Yup, benar. Ada apa kau memanggilku? Oh iya, pasti gadis itu kan yang memberitahumu caranya?"Ucap penyihir itu.
Jane langsung mengepal tangannya. "Hei, sebenarnya apa tujuanmu melakukan hal ini kepadaku? Kau kan yang memasukkanku ke dalam buku novel itu? Kau juga yang menentukan perjodohan dan sekarang kau bilang anakku terkena kutukan?!"Jane tidak mau berbasa-basi lagi.
Penyihir itu kemudian tersenyum.
"Iya, semua yang kau katakan benar. Sesuai katamu, aku hanya bersenang-senang melakukannya karena kupikir kau menarik. Aku berencana mengganti kehidupanmu yang membosankan itu dan memasukkanmu ke dalam cerita yang kau baca. Setiap waktu aku mengamatimu dan tidak sangka bahwa kau tanpa sadar sudah mengubah ceritanya menjadi indah."
"Tapi entah kenapa aku merasa kesal karena kau sudah berhasil mendapatkan hati yang mulia raja yang berhati baja itu. Hari semakin hari kehidupan kalian semakin romantis dan itu sejujurnya agak membuatku kesal. Belum lagi masih ada seorang pangeran yang setia mencintai seorang wanita sepertimu."
__ADS_1
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)