Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 47


__ADS_3

Kedua pasutri itu kemudian kembali ke kamar mereka setelah ceramah sang ibu Ratu yang cukup panjang. Lydora lagi-lagi terpaksa harus menuruti sang suami untuk ikut masuk ke kamar.


"Lydora aku lupa kalau kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan yang mulia di depan ibu dan ayah. Dan semuanya menjadi kacau. Jadi mulai sekarang aku minta kau panggil namaku langsung saja mau itu hanya diantara kita berdua atau di depan umum."Perintah Yohannes.


"Eh, um..baiklah. Maafkan saya, karena bagaimanapun tadi juga kesalahan saya karena tidak bisa membaca situasi..."Ucap Lydora menunduk merasa bersalah.


"Yah, kuharap kau selalu berhati-hati."


Lydora pun mengangguk. Beberapa saat ruangan itu menjadi hening karena mereka berdua bingung harus bicara apa lagi. Mengingat permintaan sang ibu Ratu soal anak membuat mereka berdua kembali bersemu merah.


Akhirnya Lydora memilih untuk mengangkat bicara duluan.


"Y-Yohannes..."Panggil Lydora pelan. Saat Yohannes mendengar Lydora memanggilnya dengan nama langsung untuk pertama kalinya, dia seketika membeku dan perasaannya tiba-tiba terasa aneh.


"Soal permintaan sang Ratu, jangan terlalu anda pikirkan. Saya sendiri juga belum berkeinginan untuk memiliki anak. Saya baru saja menjabat sebagai Ratu dan masih banyak pekerjaan yang harus saya tangani juga. Jadi jika ibu Ratu bertanya, saya akan menjawabnya seperti itu. Saya yakin Ibu pasti akan mengerti, jadi anda tidak perlu khawatir, Yohannes."Ucap Lydora.


Yohannes terdiam sejenak. Entah kenapa dia sangat gugup kali ini saat hanya berduaan dengan Lydora, padahal dia tahu jika dia tidak perlu seperti itu, karena mereka pun sudah sering berduan hampir setiap harinya.


"Ah, ya. Baguslah. Aku masih harus kembali untuk mengerjakan tugasku. Kau juga kerjakanlah sesuatu yang harus kau kerjakan. Kalau begitu aku pergi dulu. Kita akan bertemu lagi nanti malam."Ucap Yohannes tampak terburu-buru.


"Ah...ya, baiklah Yohannes."Balas Lydora lagi yang sedikit bingung dengan sikap Yohannes yang tiba-tiba terlihat mendesak seperti itu.


Ada apa dengannya? Kenapa dia jadi tegang dan terburu-buru seperti itu ya?


Malamnya, mereka kembali bertemu di ruang makan. Seperti kemarin, Ratu Edna tidak ikut menemani putra dan menantunya di meja makan itu. Kini hanya ada Lydora dan Yohannes saja yang duduk di meja makan itu. Tempat duduk Sang Raja Peter kini telah digantikan oleh Yohannes. Begitu juga dengan Lydora yang menggantikan tempat duduk Sang ibu Ratu.


Jadi posisinya saat ini, Lydora duduk di tepat di sebelah Yohannes. Terlihat begitu sepi dan canggung. Keduanya tidak ada yang berani mengangkat bicara.


Lydora pun menikmati makan malamnya sambil melamun. Namun tiba-tiba dia kepikiran dengan masa depannya ketika dia memiliki anak-anak nanti. Dia menatap kursi-kursi kosong di depannya jika suatu saat kursi-kursi itu akan diisi oleh anak-anak masa depan mereka.


Jika aku punya anak suatu hari nanti, mungkin suasana meja makan ini akan ramai dan menyenangkan ya? Tapi apa mungkin aku bisa...memiliki anak bersama Yohannes?

__ADS_1


Yohannes yang sempat melirik istrinya yang di sebelahnya sempat mengernyit merasa bingung dengan perubahan wajah Lydora yang cepat sekali.


Anak ini kenapa? Suasana hatinya cepat berubah ya? Dan sekarang dia malah sedih?


"Lydora, kalau kau merasa kelelahan untuk melanjutkan pekerjaanmu, kau bisa melanjutkannya lagi besok pagi."Ucap Yohannes akhirnya mengajak Lydora berbicara.


"Eh?"Lydora tersentak dan lamunannya pun terbuyar. Dia menjadi malu sendiri berpikir tentang anak di saat seperti ini.


"Lagipula aku akan mengirimkanmu ke Wilayah Utara sekitar 1 bulan lagi, jadi kau masih punya waktu untuk menyelesaikannya."Sambung Yohannes.


"Sa-saya tidak kelelahan kok Yohannes! Tadi...saya sedang berpikir hal yang lain. Maaf membuat Anda khawatir."Ucap Lydora malu.


"Kalau begitu kau tadi sedang berpikir apa?"Yohannes malah bertanya.


"Err..."Dan di saat itu Lydora teringat dengan ucapan pelayan Sandy mengenai peramal yang mereka bahas tadi siang.


"Itu...tadi saya kepikiran seorang peramal yang katanya baru-baru ini sedang populer!"Ucap Lydora.


"Peramal? Kenapa tiba-tiba kau kepikiran soal peramal?"Tanya Yohannes semakin heran.


Dia benar-benar tidak ingin Yohannes mengetahui isi kepala Lydora yang sebenarnya.


"Apakah...anda percaya dengan yang namanya ramalan?"Tanya Lydora.


"Aku tidak tahu. Tapi menurutku aku tidak perlu mempercayai hal yang tidak jelas seperti itu. Lebih baik aku tidak mengetahuinya karena aku tidak akan menjadi kepikiran ataupun berharap apa yang akan terjadi pada diriku di masa depan. Aku ingin menjalaninya sesuai keputusan yang aku pilih sendiri tanpa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya."Ucap Yohannes.


Lydora sedikit kagum dengan jawaban Yohannes. Tapi dia menjadi sedih kembali karena asal-usul dirinya yang tidak jelas masuk ke dalam novel yang dibacanya. Jika dia menceritakannya kepada Yohannes, Yohannes sudah pasti tidak akan mempercayai ucapannya dan mengatakan dirinya gila.


Seusai makan malam, Yohannes beranjak dari kursinya dan diikuti oleh istrinya. Mereka hendak bersiap-siap untuk membersihkan diri lalu beristirahat. Sepanjang hari mereka sudah melakukan banyak kegiatan yang begitu melelahkan.


Namun saat Yohannes hendak pergi, dia menoleh ke arah Lydora yang berjalan berlawanan arah dengannya.

__ADS_1


"Kau mau kemana Lydora?"Tanya Yohannes.


"Ah, saya mau melanjutkan pekerjaan saya yang tadi. Saya sudah janji kepada Felice untuk melanjutkannya malam ini."Jawab Lydora.


"Kau masih ingin melanjutkan pekerjaanmu di jam segini? Sudahlah, kau lanjutkan saja besok pagi. Hari ini kita istirahat saja dan beritahu Felice untuk tidak perlu melanjutkannya malam ini."Ucap Yohannes.


"Um, tapi saya benar-benar belum lelah Yohannes. Saya tidak apa-apa..."


"Oh, kau sudah berani menentang perintahku rupanya?"Tanya Yohannes malah menjadi marah.


"Eh?? Ti-tidak, tidak! Baiklah, saya tidak akan melanjutkannya malam ini..."Ucap Lydora yang menjadi takut.


Dia kenapa sih? Ada yang salah dengan kepalanya ya??


Dan saat melihat Lydora yang menjadi takut dengannya, Yohannes tidak bisa menahan senyumnya karena merasa lucu. Tapi dia tidak mau sampai Lydora melihat dirinya yang tersenyum. Dia dengan segera berbalik badan.


Yohannes kemudian memimpin jalan untuk menuju kamar dan diikuti oleh Lydora di belakangnya seperti anak ayam.


Setelah sampai di kamar, Yohannes masuk ke kamar mandi duluan. Dan Lydora pun memilih untuk berganti baju dan menggantinya dengan jubah mandi.


Beberapa saat setelahnya, Yohannes keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya. Lydora pun menatap pria itu yang dadanya sedikit terbuka dan rambut gelombangnya yang basah.


Ya Tuhan, cobaan apalagi yang engkau berikan ini kepadaku?!


Jantung Lydora tidak bisa dikendalikan. Rasanya dia ingin meledak di saat itu juga melihat ketampanan suaminya yang bertambah.


"Hey, kau kenapa hanya bengong? Kau tidak jadi mandi?"Tanya Yohannes yang heran dengan Lydora yang melongo di depannya.


"Eh, i-ini saya juga mau mandi kok!"Ucap Lydora langsung berjalan cepat menuju kamar mandi.


Saat pintu itu tertutup, Yohannes menatap pintu itu sambil berpikir.

__ADS_1


Dia padahal sudah memanggilku dengan nama langsung, tapi dia tetap berbicara formal ya? Buat aku jadi tidak nyaman saja!


Next...


__ADS_2